Hina Kelana: Bab 119. Suami Istri yang Tidak Bahagia

Orang-orang Jing-sia-pay sampai terkesima sehingga tiada seorang pun yang mengejar musuh, ketika mereka mengawasi kedua kawannya yang lain, kiranya kedua orang itu pun terkena oleh senjata kawan sendiri yang menebas dari kanan kiri tadi, cuma mereka masih berdiri tegak, tapi sebenarnya sudah mati.

Cara Peng-ci menjulur tangan dan menyampuk sambil mendorong tadi telah dilihat dengan jelas oleh Lenghou Tiong, ia terkejut dan kagum pula, diam-diam ia mengakui kehebatan ilmu silat Lim Peng-ci, jelas itu adalah ilmu pedang dan bukan ilmu silat biasa.

Di bawah sinar bulan tertampak bayangan Ih Jong-hay yang pendek itu berdiri kesima di samping keempat mayat muridnya. Anak murid Jing-sia-pay mengelilingi sekitar sang guru, tapi dari jarak rada jauh, tiada seorang pun yang berani buka suara.

Selang agak lama, Lenghou Tiong coba memandang keluar kereta, dilihatnya Ih Jong-hay masih tetap berdiri tegak tak bergerak, sedangkan bayangannya sudah tambah panjang, suatu tanda sudah sekian lamanya dia termangu aneh tak terkatakan. Sebagian anak murid Jing-sia-pay juga terpaku di tempatnya, sebagian sudah menyingkir pergi, sebagian pula sudah berduduk, tapi Ih Jong-hay tetap berdiri kaku di situ.

Dalam hati Lenghou Tiong sekonyong-konyong timbul rasa kasihan kepada Ih Jong-hay, ketua Jing-sia-pay yang terkenal itu ternyata sama sekali tak berdaya menghadapi seorang lawan muda.

Karena sudah mengantuk, Lenghou Tiong lantas pejamkan mata untuk tidur. Dalam mimpinya tiba-tiba terasa keretanya berguncang, menyusul terdengar suara bentakan kusir kereta. Kiranya hari sudah terang, rombongan sudah berangkat.

Ia coba melongok keluar, dilihatnya jalan besar yang lurus itu banyak orang berlalu lalang, rombongan Jing-sia-pay berjalan di depan, ada yang menunggang kuda, ada yang berjalan kaki, memandangi bayangan belakang mereka terasa semacam keharuan yang sukar dikatakan, sama halnya serombongan hewan yang sedang digiring ke tempat pejagalan saja.

Pikir Lenghou Tiong, “Mereka cukup menyadari bahwa Peng-ci pasti akan datang lagi, mereka pun tahu semua bahwa sekali-kali tidak sanggup melawannya, kalau melarikan diri secara terpencar, maka itu berarti tamatlah riwayat Jing-sia-pay. Tapi kalau Lim Peng-ci sampai meluruk ke Jing-sia-san, apakah di Siong-hong-koan (kuil ketua Jing-sia-pay) tiada bala bantuan lagi yang sanggup melawan musuh?”

Menjelang tengah hari sampailah di suatu kota rada besar, rombongan Jing-sia-pay lantas memasuki sebuah restoran besar dan makan minum sepuasnya. Sedangkan orang-orang Hing-san-pay hanya beristirahat di warung makan di depan restoran besar itu.

Menyaksikan orang-orang Jing-sia-pay sama makan minum besar di restoran depan itu, para nikoh Hing-san-pay sama terdiam. Mereka tahu orang-orang Jing-sia-pay sedang menghadapi maut, mumpung masih hidup, maka sedapat mungkin mereka ingin menikmati segala kesenangan di dunia ini.

Sorenya sampailah di tepi sebuah sungai. Tiba-tiba terdengar derapan kuda, kembali Lim Peng-ci suami-istri memburu tiba.

Gi-ho bersuit menghentikan rombongannya. Saat itu sinar matahari masih mencorong terang, tertampak dua penunggang kuda mendatangi menyusur tepi sungai. Sesudah dekat, Leng-sian menahan kudanya, sedangkan Peng-ci masih terus maju ke depan.

Mendadak Ih Jong-hay memberi tanda, bersama anak muridnya mereka terus putar tubuh dan lari ke arah sana menyusur tepi sungai.

“Hai, Ih Pendek, hendak lari ke mana kau?” seru Peng-ci sambil bergelak tertawa, segera, ia pun membedal kudanya mengejar.

Sekonyong-konyong Ih Jong-hay membalik, secepat kilat pedangnya lantas menusuk muka Lim Peng-ci. Sama sekali Peng-ci tidak menduga akan serangan lawan yang lihai itu, cepat ia lolos pedang dan menangkis.

Susul-menyusul Ih Jong-hay melancarkan serangan kilat, mendadak melompat ke atas, lain saat mendak ke bawah. Tidak nyana orang tua seperti dia masih lincah seperti anak muda, gerak pedangnya selalu mengambil jalan menyerang secara cepat. Bahkan tujuh-delapan orang murid Jing-sia-pay segera mengelilingi kuda Lim Peng-ci dan mengerubutnya pula, tapi yang diserang bukan orangnya melainkan kudanya.

Hanya mengikuti beberapa saat saja Lenghou Tiong lantas tahu maksud tujuan Ih Jong-hay. Bahwasanya kelihaian Peng-ci terletak pada ilmu pedangnya yang bergerak dan berubah dengan cepat dan sukar diduga. Sekarang pemuda itu berada di atas kuda, dengan sendirinya keunggulannya itu menjadi berkurang, sebab kalau mau menyerang terpaksa ia harus mendoyongkan tubuhnya, kuda tunggangnya tentu tidak selincah kalau dia menggunakan kaki sendiri.

Sekarang anak murid Jing-sia-pay itu sengaja mengepungnya di tengah agar dia tidak sempat turun dari kudanya, asalkan Peng-ci tetap berada di atas kuda belum tentu dia mampu melawan Ih Jong-hay.

Diam-diam Lenghou Tiong mengakui kecerdikan ketua Jing-sia-pay itu, caranya benar-benar lihai. Ia coba memerhatikan pula ilmu pedang yang dimainkan Peng-ci, gerak perubahannya memang aneh dan bagus, namun Ih Jong-hay masih dapat menandinginya. Setelah mengikuti beberapa jurus lagi, tanpa terasa pandangannya beralih ke arah Gak Leng-sian yang berada di tempat rada jauh sana. Seketika tubuh Lenghou Tiong tergetar kaget sebab dilihatnya ada beberapa anak murid Jing-sia-pay yang lain telah mengepung Leng-sian dan sedang mendesaknya ke tepi sungai.

Pada saat itu pula mendadak terdengar kuda tunggangan Leng-sian meringkik dan berjingkrak sehingga Leng-sian terbanting ke bawah. Rupanya kuda itu telah terkena tusukan pedang. Cepat Leng-sian melompat bangun sambil mengegos untuk menghindari serangan seorang lawan. Namun anak murid Jing-sia-pay itu segera menyerang pula dengan mati-matian.

Enam murid Jing-sia-pay itu terhitung jago-jago pilihan, biarpun Leng-sian berhasil mempelajari ilmu pedang yang terukir di gua Hoa-san itu dan telah mengalahkan jago-jago dari Thay-san-pay, Hing-san-pay, dan lain-lain, namun ilmu pedang lihai itu ternyata tidak mempan digunakan terhadap jago Jing-sia-pay.

Lenghou Tiong dapat melihat sang sumoay tidak mampu melawan serangan murid-murid Jing-sia-pay yang nekat itu. Sedang khawatir dan cemas, tiba-tiba terdengar jeritan seorang Jing-sia-pay, rupanya sebelah lengannya telah kena ditebas kutung oleh Gak Leng-sian.

Giranglah hati Lenghou Tiong, ia berharap orang Jing-sia-pay yang lain tentu akan jeri dan mundur teratur. Tak terduga kelima orang lain tidak mundur setapak pun, bahkan menyerang lebih kalap termasuk orang yang sudah buntung sebelah lengannya itu.

Melihat lawan yang mandi darah dengan serangan kalap laksana kerbau gila itu, Leng-sian menjadi jeri sendiri malah, ia terdesak mundur, mendadak sebelah kakinya terpeleset menginjak batu karang yang berlumut licin, kontan ia jatuh ke dalam air.

“Celaka!” seru Lenghou Tiong khawatir.

“Beginilah cara kita melayani Tonghong Put-pay tempo hari,” tiba-tiba terdengar Ing-ing berkata.

Betul juga pikir Lenghou Tiong. Pertempuran di Hek-bok-keh tempo hari sudah jelas mereka berempat tidak sanggup melawan Tonghong Put-pay, untung Ing-ing ganti haluan dan menyerang Nyo Lian-ting sehingga perhatian Tonghong Put-pay terpencar dan akhirnya dapatlah membinasakan gembong Mo-kau itu. Sekarang cara yang dipakai Ih Jong-hay juga sama dengan tipu Ing-ing dahulu itu. Cara bagaimana Yim Ngo-heng dan Lenghou Tiong berempat membinasakan Tonghong Put-pay sudah tentu tidak diketahui Ih Jong-hay, tapi akal yang terpikir ternyata sama tanpa berembuk.

Lenghou Tiong menduga Lim Peng-ci tentu akan meninggalkan lawan-lawannya untuk menolong sang istri. Tak terduga pemuda itu masih terus menempur Ih Jong-hay dengan sengit, sama sekali tidak ambil pusing terhadap keadaan istrinya yang terancam bahaya itu.

Rupanya anak murid Jing-sia-pay sama menyadari mati-hidup Jing-sia-pay dan keselamatan sendiri hanya tergantung pada pertempuran yang menentukan sekarang ini, oleh karena itu mereka bertempur dengan nekat. Mendadak orang yang buntung tangannya itu membuang pedangnya terus menjatuhkan diri dan menggelundung ke arah Leng-sian, segera ia rangkul kaki Leng-sian dengan kencang.

“Adik Peng, lekas bantu aku, lekas!” seru Leng-sian khawatir.

“Ih Pendek ingin tahu Pi-sia-kiam-hoat, maka biar dia lihat secara jelas agar mati pun dia tidak menyesal,” kata Peng-ci sambil menyerang lebih cepat sehingga Ih Jong-hay hampir-hampir tidak sempat bernapas. Sungguh hebat Pi-sia-kiam-hoat yang dimainkan Peng-ci, meski di atas kuda, namun ilmu pedangnya yang lihai itu pun mendesak Ih Jong-hay sehingga kelabakan dan mati kutu.

“He, kau… kau….” bentak Lenghou Tiong dengan gusar. Tadinya ia mengira Peng-ci tidak mampu melepaskan diri dari kerubutan Ih Jong-hay dan murid-muridnya, tapi dari ucapannya tadi jelas Peng-ci sama sekali tidak menghiraukan keadaan bahaya Leng-sian, yang diutamakan hanya cara bagaimana meledek dan mempermainkan Ih Jong-hay yang sudah tak berdaya itu.

Dari jauh dapat terlihat dengan jelas air muka Lim Peng-ci yang memperlihatkan rasa gemas, dendam, dan bersemangat pula. Mungkin saat itu hati pemuda itu sedang diliputi rasa tekad yang ingin membalas sakit hati.

“Adik Peng, lekas tolong, lekas!” terdengar Leng-sian berseru pula dengan suara serak, keadaannya sudah sangat gawat.

“Segera aku datang, kau bertahan sebentar lagi, aku harus menyelesaikan Pi-sia-kiam-hoat agar dia dapat melihat dengan jelas,” sahut Peng-ci. “Ih Pendek ini sebenarnya tiada permusuhan apa-apa dengan kita, dia sengaja mengirim begundalnya ke Hokkian hanya bertujuan mencari Pi-sia-kiam-boh, maka pantaslah kalau dia melihat sejelasnya ilmu pedangku ini dari awal sampai akhir. Betul tidak?”

Dia bicara dengan teratur, terang bukan diperdengarkan kepada sang istri, tapi lebih tepat kalau dikatakan sedang bicara pada Ih Jong-hay, bahkan dia khawatir pihak lawan kurang jelas, akhirnya ditambahkannya lagi pertanyaan, “Ih Pendek, betul tidak?”

Habis itu serangannya tambah gencar, gayanya indah sehingga lebih mirip dengan Giok-li-kiam yang dipelajari murid perempuan Hoa-san-pay.

Memangnya Lenghou Tiong bermaksud melihat bagaimana gerak serangan Pi-sia-kiam-hoat Peng-ci untuk kemudian dipikirkan cara mematahkannya. Kini melihat Peng-ci memperlihatkan segenap jurus ilmu pedangnya kepada Ih Jong-hay, keruan hal ini kebetulan bagi Lenghou Tiong.

Namun saat itu perhatian Lenghou Tiong sedang terganggu oleh keadaan Gak Leng-sian yang berbahaya itu, dengan sendirinya dia tidak punya peluang untuk memerhatikan jurus pedang Lim Peng-ci. Ia mendengar Gak Leng-sian lagi berteriak-teriak minta tolong, sungguh ia tidak tahan lagi, segera berkata, “Gi-ho Suci dan Gi-jing Suci, harap kalian menolongi Nona Gak. Dia… dia dalam bahaya!”

“Kita sudah menyatakan tidak membantu pihak mana pun juga, rasanya tidak enak ikut turun tangan,” jawab Gi-jing.

Hendaklah maklum bahwa orang bu-lim paling mengutamakan “setia kawan” dan “pegang janji”. Kalau dibandingkan memang kesetiaan lebih penting sedikit daripada janji, tapi sebagai kesatria dari golongan beng-bun-cing-pay (murid perguruan ternama dari golongan baik) betapa pun harus memegang teguh kepada apa yang telah diucapkan.

Mendengar jawaban Gi-jing itu, Lenghou Tiong merasa apa yang dikatakan itu memang benar, semalam mereka sudah menyatakan dengan tegas kepada Ih Jong-hay bahwa sekali-kali Hing-san-pay takkan membantu pihak mana pun juga. Kalau sekarang mereka membantu Gak Leng-sian, itu berarti merusak nama baik Hing-san-pay. Keruan Lenghou Tiong menjadi gelisah dan tak berdaya.

Syukur pada saat itu juga mendadak Ing-ing melompat ke sana, ketika tangannya menggagap pinggang, segera tangannya sudah memegang sebilah golok melengkung. Teriaknya, “Hai, hendaklah kalian melihat jelas. Aku adalah Ing-ing, putri kesayangan Yim-kaucu dari Tiau-yang-sin-kau. Kalian berenam lelaki mengeroyok seorang perempuan, betapa pun membikin penonton merasa muak. Karena melihat ketidakadilan, terpaksa Nona Yim harus ikut campur.”

Girang sekali Lenghou Tiong melihat Ing-ing maju ke sana, ia menghela napas lega, tiba-tiba lukanya terasa sakit, ia jatuh terduduk lagi di dalam kereta.

Ternyata anak murid Jing-sia-pay sama sekali tidak menghiraukan campur tangan Ing-ing, mereka masih terus menyerang Gak Leng-sian secara kalap. Saat itu Leng-sian terdesak mundur-mundur lagi beberapa tindak, “plung”, tiba-tiba kakinya menginjak air sungai sebatas paha dalamnya. Karena tidak bisa berenang, Leng-sian menjadi gugup, permainan pedangnya menjadi kacau. Pada saat itulah pundak kiri terasa sakit, rupanya kena ditusuk oleh pedang musuh. Kesempatan itu segera digunakan oleh si tangan buntung untuk menubruk maju untuk merangkul kaki Leng-sian seperti diceritakan tadi. Segera Leng-sian ayun pedangnya untuk membacok dan tepat mengenai punggung si buntung, tapi orang itu masih terus merangkul dengan kencang, sedikit pun tidak mau lepas tangan.

Saking cemasnya pandangan Leng-sian menjadi gelap, ia mengeluh bisa celaka. Dari jauh dilihatnya Lim Peng-ci sedang memperlihatkan ilmu pedangnya yang hebat secara teratur dan perlahan-lahan sejurus demi sejurus seakan-akan sengaja memamerkan ilmu pedang belaka.

Terangsang oleh rasa mendongkol, hampir-hampir Leng-sian jatuh kelengar. Syukur mendadak serangan musuh menjadi kendur, dua pedang mencelat ke atas, menyusul terdengar mendeburnya air, dua murid Jing-sia-pay telah terjungkal ke dalam sungai.

Karena pikiran sudah kacau, Leng-sian juga terbanting jatuh. Untung Ing-ing telah putar goloknya, dalam beberapa jurus saja sisa tiga murid Jing-sia-pay juga telah dilukai, senjata pun terlepas dari cekalan, terpaksa mereka mengacir mundur.

Sekali tendang Ing-ing membikin murid Jing-sia-pay yang buntung itu terpental sehingga rangkulannya pada kaki Leng-sian terlepas. Segera ia menyeret bangun Gak Leng-sian yang sudah basah kuyup itu, pakaiannya juga berlepotan darah, perlahan-lahan dipapahnya ke tepi sungai.

Dalam pada itu terdengar Peng-ci sedang berseru, “Nah, Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim kami sudah kau lihat dengan jelas, bukan?”

Menyusul di mana sinar pedangnya berkelebat, kontan dua murid Jing-sia-pay yang ikut mengerubutnya lantas terguling.

Sekali Peng-ci menarik tali kendali kudanya, dengan cekatan kudanya lantas melompat melintasi kedua tubuh yang barusan roboh itu. Keadaan Ih Jong-hay sudah payah, tentu saja ia tidak berani mengejar.

Peng-ci melarikan kudanya ke arah Leng-sian dan Ing-ing. “Naik kemari!” serunya kepada sang istri.

Sekonyong-konyong Leng-sian merasa benci dan muak terhadap sang suami, ia merasa lebih baik mati seketika daripada ikut bersama Peng-ci. Dengan mata melotot ia memandangi Peng-ci sejenak, kemudian berkata dengan mengertak gigi, “Kau pergi sendiri saja.”

“Dan kau?” tanya Peng-ci.

“Buat apa kau mengurusi diriku,” jawab Leng-sian.

Peng-ci memandang sekejap kepada anak murid Hing-san-pay, lalu mendengus sekali, kuda dikempitnya kencang terus dilarikan pergi dengan cepat.

Sama sekali Ing-ing tidak menduga bahwa Peng-ci akan memperlakukan sedemikian dingin terhadap istrinya yang baru dinikahnya ini. Katanya kemudian, “Nyonya Lim, silakan kau mengaso ke dalam keretaku saja.”

Kelopak mata Leng-sian sudah penuh digenangi air mata, sedapat mungkin ia menahan agar air matanya tidak sampai menetes, katanya dengan terguguk-guguk, “Aku… aku tidak mau, ken… kenapa kau menolong diriku?”

“Bukan aku yang menolong kau, toasukomu Lenghou Tiong yang ingin menolong kau,” kata Ing-ing sejujurnya.

Hati Leng-sian menjadi pilu, tak tertahankan lagi air matanya bercucuran. Katanya kemudian, “Dapatkah kau… me… meminjamkan seekor kuda padaku?”

Ing-ing mengiakan, lalu pergi membawakan seekor kuda.

“Banyak terima kasih, kau sungguh be… beruntung!” kata Leng-sian, cepat ia mencemplak ke atas kuda dan melarikan kudanya ke jurusan sana. Arah yang ditempuh ternyata berlawanan dengan Peng-ci, agaknya kembali ke jurusan Ko-san.

Ih Jong-hay juga heran melihat Leng-sian lewat di sebelahnya, tapi ia pun tidak merintangi, pikirnya, “Malam nanti atau besok tentu bocah she Lim itu akan datang membunuhi beberapa orangku lagi, dia hendak membunuh habis muridku satu per satu agar tertinggal aku sebatang kara, habis itu barulah giliranku dikerjai olehnya.”

Lenghou Tiong tidak tega menyaksikan keadaan Ih Jong-hay yang mengenaskan itu, katanya kepada Gi-ho dan lain-lain, “Marilah kita berangkat!”

Ketika kusir-kusir kereta membentak dan membunyikan cambuknya, segera keledai menarik keretanya ke depan.

Lenghou Tiong bersuara heran ketika melihat arah yang ditempuh Gak Leng-sian ternyata berlainan, mestinya ia ingin mengikuti jurusan sang sumoay itu, tak terduga keretanya ternyata dijalankan ke jurusan lain. Mendelong perasaannya, ia tidak enak untuk memerintahkan keretanya memutar haluan, hanya tirai kereta bagian belakang disingkapnya untuk memandang ke belakang, namun bayangan Leng-sian sudah tidak tampak lagi. Seketika perasaannya tertekan, pikirnya, “Sumoay terluka, dia menuju ke sana sendirian, apa takkan terjadi sesuatu atas dirinya?”

Tiba-tiba terdengar Gi-lim berkata di sampingnya, “Dia tentu pulang ke Ko-san, dia tentu akan aman berada di samping ayah-ibunya, kau tidak perlu khawatir.”

Rada lega hati Lenghou Tiong, ia mengiakan. Dalam hati ia membatin, “Sumoay cilik ini benar-benar sangat cermat, dia selalu dapat menerka apa yang menjadi pikiranku.”

Esok paginya waktu tengah hari mereka berhenti di suatu rumah makan kecil. Sesungguhnya tak bisa dikatakan rumah makan, sebab hanya terdiri dari beberapa gubuk yang dibangun di tepi jalan, gubuk tanpa dinding, terdiri dari beberapa buah meja kasar dan bangku-bangku panjang sekadar tempat makan-minum orang yang berlalu-lalang.

Dibanjiri oleh rombongan Hing-san-pay, seketika warung makan itu kewalahan, kurang beras dan kurang lauk. Syukur rombongan Gi-ho sendiri membawa perbekalan yang cukup, sampai alat-alat masak juga terbawa. Segera mereka membuat api dan menanak nasi di samping gubuk-gubuk itu.

Terlalu lama duduk di dalam kereta, Lenghou Tiong merasa sebal juga, syukur lukanya sudah rada baikan sesudah dibubuhi obat luka Hing-san-pay yang mustajab. Gi-lim dan Gi-ho lantas memayangnya turun dan duduk mengaso di bawah gubuk. Ia memandang ke timur, hatinya berpikir, “Entah Siausumoay akan datang kemari tidak?”

Dilihatnya debu mengepul tinggi dari sana, serombongan orang sedang mendatangi, kiranya rombongan Jing-sia-pay. Setiba di warung gubuk itu, orang-orang Jing-sia-pay juga lantas berhenti untuk menanak nasi. Ih Jong-hay tampak duduk sendirian menyanding meja, termangu-mangu tanpa bersuara.

Agaknya Ih Jong-hay menyadari ajalnya sudah dekat, maka ia tidak perlu sirik dan menghindari rombongan Hing-san-pay lagi, ia pikir paling-paling hanya mati saja, apa halangannya kalau orang-orang Hing-san-pay menyaksikan cara bagaimana dia akan mati nanti?

Tidak lama kemudian, benar juga dari jurusan barat terdengar derapan kaki kuda, seorang penunggang kuda makin mendekat dengan perlahan, penunggang kuda itu memakai baju sulam, siapa lagi kalau bukan Lim Peng-ci.

Setiba di depan gubuk, Peng-ci menghentikan kudanya. Orang-orang Jing-sia-pay ternyata tidak ambil pusing padanya, melirik saja tidak, semuanya sibuk dengan tugas masing-masing, yang menanak nasi tetap menanak nasi, yang minum tetap enak-enak minum.

Hal ini benar-benar di luar dugaan Peng-ci malah. Segera ia bergelak tertawa, katanya, “Kalian tidak mau menyerang lebih dulu, aku pun tetap mau bunuh orang.”

Ia melompat turun dari kudanya, sekali pantat kuda itu ditepuk, menyingkirlah binatang itu pergi makan rumput. Dilihatnya di samping meja sana masih ada bangku yang kosong, segera ia mendekati dan duduk di situ.

Begitu Peng-ci memasuki gubuk itu segera Lenghou Tiong mencium bau wangi semerbak. Kiranya pakaian Peng-ci sangat rajin, sekujur badannya menguarkan bau harum.

Tertampak kopiah Peng-ci tersemat sebuah batu zamrud, jarinya memakai cincin bermata mirah delima, sepatunya juga berhiaskan mutiara, dandanan demikian bukan lagi dandanan jago silat, tapi lebih mirip tuan muda dari keluarga hartawan yang kaya raya.

Setelah ambil tempat duduk, dengan acuh tak acuh Peng-ci menyapa, “Lenghou-heng, baik-baik kau!”

“Baik,” sahut Lenghou Tiong sambil mengangguk.

Peng-ci berpaling ke sana, dilihatnya seorang murid Jing-sia-pay sedang menuangkan minuman panas kepada Ih Jong-hay. Mendadak Peng-ci naik darah dengan suara keras ia menegur, “Hai, kau bernama Ih Jin-ho bukan? Dahulu waktu membunuh orang di rumahku di antaranya juga termasuk kau. Biar kau menjadi abu juga aku kenal kau.”

Mendadak Ih Jin-ho gabrukkan pocinya di atas meja, dengan cepat ia membalik sambil pegang gagang pedang dan berkata, “Memang betul aku Ih Jin-ho adanya, kau mau apa?”

Walaupun nada jawaban kasar, namun suaranya rada gemetar dan mukanya pucat.

Peng-ci tersenyum, katanya kemudian, “Eng Hiong Ho Kiat, empat kesatria muda Jing-sia-pay. Menurut urut-urutan kau terhitung nomor tiga, tapi sedikit pun tidak bersemangat kesatria. Sungguh menggelikan.”

Eng, Hiong, Ho, Kiat, empat kesatria muda Jing-sia-pay, yang dimaksudkan adalah Kau Jin-eng, Ang Jin-hiong, Ih Jin-ho, dan Lo Jin-kiat. Di antaranya Lo Jin-kiat sudah tewas dibunuh Lenghou Tiong di Kota Heng-san dahulu. Kau Jin-eng dan Ang Jin-hiong sekarang juga berada bersama di samping Ih Jong-hay.

Maka Peng-ci menjengek lagi, “Hah, kalau menurut penilaian Lenghou-heng itu, kalian lebih tepat disebut empat binatang dari Jing-sia. Padahal kalau menurut penilaianku, haha, kalian bahkan lebih rendah daripada binatang.”

Tidak kepalang gusar Ih Jin-ho, tangannya sudah memegang gagang pedang, tapi pedang tetap tak dilolosnya keluar.

Pada saat itulah tiba-tiba dari arah timur sana ada suara berdetaknya kaki kuda, dua penunggang kuda tampak mendatang dengan cepat. Setiba di depan gubuk, seorang yang berada di bagian depan lantas menghentikan kudanya. Waktu semua orang berpaling, segera ada orang bersuara kaget.

Kiranya penunggang kuda itu adalah seorang bungkuk yang bertubuh gemuk pendek, yaitu Bok Ko-hong yang terkenal dengan julukan “Say-pak-beng-tho” (Si Bungkuk dari Utara). Yang aneh adalah penunggang kuda di belakangnya itu ternyata Gak Leng-sian adanya.

Melihat Leng-sian, hati Lenghou Tiong menjadi senang. Tapi dilihatnya kedua tangan Leng-sian terikat menelikung di belakang, tali kendali kudanya juga dipegang oleh Bok Ko-hong. Jelas dia tertawan oleh musuh dan dipaksa ikut datang. Segera Lenghou Tiong bermaksud bertindak, tapi lantas terpikir, “Suaminya kan berada di sini, buat apa orang luar seperti aku mesti bertindak baginya? Jika suaminya tidak ambil pusing barulah nanti aku mencari akal untuk menolongnya.”

Dalam pada itu Lim Peng-ci juga girang tidak kepalang melihat datangnya Bok Ko-hong. Ia membatin, “Orang yang mencelakai ayah-ibuku juga termasuk si bungkuk ini, sungguh tidak nyana hari ini dia mengantar kematian sendiri ke sini, Thian memang mahaadil.”

Sebaliknya Bok Ko-hong tidak kenal Lim Peng-ci. Dahulu mereka memang pernah bertemu di Heng-san, tapi waktu itu Peng-ci menyamar sebagai bungkuk, mukanya benjal-benjol, sama sekali berbeda daripada pemuda cakap seperti sekarang ini.

Bok Ko-hong menoleh kepada Gak Leng-sian dan berkata, “Mengingat sekian banyak teman berkumpul di sini, seharusnya kita berhenti mengaso juga buat minum teh. Tapi kakekmu ini ada urusan penting, marilah kita berangkat saja.”

Rupanya dia rada gentar melihat orang-orang Hing-san-pay dan Jing-sia-pay, daripada nanti kebentrok ada lebih baik menyingkir saja lebih dulu. Sekali membentak segera ia hendak melarikan kudanya. Di luar dugaan, mendadak Leng-sian menjerit terus terperosot jatuh dari atas kuda.

Kiranya kemarin waktu Leng-sian terluka dan ingin kembali ke Ko-san untuk bergabung dengan ayah-bundanya, tapi di tengah jalan ia lantas kepergok Bok Ko-hong.

Rupanya si bungkuk ini menaruh dendam kepada Gak Put-kun lantaran perebutan Pi-sia-kiam-boh dahulu, kemudian didengarnya putra keluarga Lim diambilnya sebagai murid, bahkan dijadikan menantu malah, maka ia menduga kitab pusaka keluarga Lim tentu juga sudah ikut dikangkangi oleh Gak Put-kun.

Tentang upacara penggabungan Ngo-gak-kiam-pay ia pun mendapat kabar, cuma orang-orang Ngo-gak-kiam-pay biasanya memandang hina padanya, Co Leng-tan juga tidak mengirim kartu undangan padanya. Dasar jiwanya memang sempit, diam-diam Bok Ko-hong sembunyi di sekitar Ko-san, kalau ada orang Ngo-gak-pay yang kebetulan jalan sendirian segera akan disergapnya untuk melampiaskan rasa dendamnya. Dan kebetulan dilihatnya Gak Leng-sian jalan sendirian, segera ia mencegatnya.

Dengan kepandaian Leng-sian sekarang mestinya tidaklah gampang bagi Bok Ko-hong untuk mengalahkannya. Soalnya Leng-sian baru terluka, Bok Ko-hong merunduk pula secara mendadak sehingga akhirnya Leng-sian tertawan olehnya.

Ketika Leng-sian menggertaknya dengan mengatakan siapa dia, Bok Ko-hong tambah senang malah. Ia telah ambil keputusan akan menyembunyikan Gak Leng-sian dan suruh Gak Put-kun menebus diri anak perempuannya itu dengan Pi-sia-kiam-boh. Tak terduga di tengah jalan ia kepergok oleh orang-orang Hing-san dan Jing-sia-pay.

Leng-sian sendiri berpikir kalau sampai dirinya dibawa lari pula, maka tipislah harapan akan tertolong. Maka tanpa hiraukan lukanya, ia sengaja menjatuhkan diri ke bawah kuda.

Bok Ko-hong memaki sambil melompat turun dari kudanya untuk mencengkeram kembali Gak Leng-sian.

Menurut perkiraan Lenghou Tiong, tentu Peng-ci takkan tinggal diam menyaksikan istrinya diganggu orang. Siapa tahu Peng-ci tenang-tenang saja, bahkan ia mengeluarkan kipas lempit terus mengipas perlahan-lahan. Padahal saat itu adalah musim semi, salju di daerah utara saja masih membeku, buat apa menggunakan kipas segala? Jelas lagak Peng-ci itu hanya sengaja memperlihatkan keisengan dan ketidakacuhan terhadap segala apa yang terjadi di sekitarnya.

Sementara itu Leng-sian sudah dicengkeram bangun oleh Bok Ko-hong dan dinaikkan lagi ke atas kuda. Ia sendiri pun lantas mencemplak ke atas kuda dan segera hendak dilarikan.

“Orang she Bok,” tiba-tiba Peng-ci berkata, “di sini ada orang mengatakan ilmu silatmu sangat rendah tak bernilai, apakah memang begitu halnya?”

Bok Ko-hong tercengang, ia melihat Peng-ci duduk sendirian, tampaknya bukan orang Jing-sia-pay dan juga bukan Hing-san-pay, seketika ia menjadi ragu-ragu, tanyanya kemudian, “Siapa kau?”

Peng-ci tersenyum, jawabnya, “Buat apa kau tanya diriku? Yang bilang ilmu silatmu rendah toh bukan aku.”

“Siapa yang bilang?” tanya Bok Ko-hong.

“Cret”, Peng-ci lipat kembali kipasnya terus menuding ke arah Ih Jong-hay, katanya, “Yakni Ih-koancu dari Jing-sia-pay ini. Baru-baru ini dia telah menyaksikan sejurus ilmu pedang yang mahahebat di dunia ini, kalau tidak salah seperti Pi-sia-kiam-hoat namanya.”

Mendengar nama “Pi-sia-kiam-hoat”, seketika semangat Bok Ko-hong terbangkit. Ia coba melirik Ih Jong-hay, terlihat ketua Jing-sia-pay itu memegangi sebuah cangkir teh dan sedang termenung-menung, terhadap apa yang diucapkan Peng-ci seperti tidak mendengar. Seketika Bok Ko-hong menjadi ragu-ragu apakah ucapan Peng-ci tadi sungguh-sungguh atau kelakar belaka.

Akhirnya ia tanya Ih Jong-hay, “Hai, Ih Pendek, selamat padamu yang beruntung dapat menyaksikan permainan Pi-sia-kiam-hoat, hal ini tentu betul toh?”

“Memang betul,” jawab Ih Jong-hay. “Cayhe memang telah menyaksikannya sejurus demi sejurus dari awal sampai akhir.”

Kejut dan girang pula Bok Ko-hong, cepat ia melompat turun dari kudanya dan duduk di samping meja Ih Jong-hay, lalu bertanya, “Kabarnya kiam-boh itu telah jatuh di tangan Gak Put-kun dari Hoa-san-pay, cara bagaimana kau bisa melihat ilmu pedang itu?”

“Aku tidak melihat kiam-boh segala, yang kulihat adalah orang yang mahir memainkan ilmu pedang itu,” sahut Ih Jong-hay.

“O, kiranya demikian. Tapi Pi-sia-kiam-hoat ada yang tulen dan ada yang palsu. Seperti keturunan Hok-wi-piaukiok di Hokciu juga pernah mempelajari apa yang disebut Pi-sia-kiam-hoat segala, tapi ilmu pedang yang diperlihatkan ternyata sangat menggelikan. Sekarang ilmu pedang yang kau lihat tentulah yang tulen.”

“Aku tidak tahu apakah tulen atau palsu, yang jelas orang yang mahir ilmu pedang itu adalah keturunan Hok-wi-piaukiok dari Hokciu,” jawab Jong-hay.

“Hahahaha!” Bok Ko-hong bergelak tertawa. “Percuma kau menjadi guru besar suatu aliran persilatan, sampai-sampai tulen atau palsu sesuatu ilmu pedang juga tidak bisa membedakan. Bukankah Lim Cin-lam dari Hok-wi-piaukiok itu tewas di tanganmu?”

“Tulen atau palsunya Pi-sia-kiam-hoat memang aku tak bisa membedakan,” jawab Ih Jong-hay. “Bok-tayhiap lebih berpengalaman, tentu dapat membedakannya.”

Padahal Bok Ko-hong tahu tojin pendek di depannya ini terhitung tokoh kelas satu, baik ilmu silatnya maupun pengetahuannya yang luas, tapi mengapa sekarang bicara demikian, tentu mengandung arti yang dalam. Maka Bok Ko-hong hanya menyengir saja sambil memandang sekelilingnya, dilihatnya semua orang sedang memandang padanya dengan sikap yang aneh seakan-akan dirinya telah salah omong sesuatu. Maka dengan ragu-ragu terpaksa ia berkata, “Kalau aku dapat melihatnya sendiri, betapa pun akan kubedakan yang tulen dan yang palsu.”

“Kalau Bok-tayhiap ingin lihat, kukira tidaklah susah. Sekarang juga seorang yang berada di sini justru mahir main Pi-sia-kiam-hoat,” kata Ih Jong-hay.

Keruan Bok Ko-hong terkesiap, sorot matanya kembali menatap orang-orang sekelilingnya. Dilihatnya Lim Peng-ci paling tak acuh, segera ia tanya, “Apakah pemuda ini yang kau maksudkan?”

“Hebat, sungguh aku sangat kagum terhadap pandangan Bok-tayhiap yang tajam, sekali pandang saja lantas tahu,” kata Jong-hay.

Baru sekarang Bok Ko-hong mengamat-amati Lim Peng-ci mulai dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun kepala. Dilihatnya dandanan Peng-ci sangat perlente, jelas seorang putra keluarga hartawan. Pikirnya, “Ucapan Ih Pendek itu tentu mengandung sesuatu tipu muslihat bagiku. Buat apa aku terlibat dalam sengketa mereka, paling selamat lekas berangkat saja. Asalkan Nona Gak ini tetap berada di bawah cengkeramanku, mustahil Gak Put-kun takkan menebusnya dengan kiam-boh yang kuinginkan itu.”

Maka dia sengaja tertawa, katanya, “Haha, Ih Pendek, rupanya kau memang suka berkelakar padaku. Hari ini Si Bungkuk ada urusan lain, terpaksa aku mohon diri dahulu. Tentang Pi-sia-kiam-hoat itu apakah benar tulen atau palsu tidak penting bagi Si Bungkuk. Nah, sampai berjumpa pula.”

Habis berkata, sekali loncat, tahu-tahu ia sudah berada kembali di atas kudanya.

Meski bungkuk dan gemuk pula, tapi loncatan ke atas kuda itu ternyata sangat gesit dan cepat.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: