Hina Kelana: Bab 118. Cara Balas Dendam yang Luar Biasa

Yang dikhawatirkan Ih Jong-hay hanya kalau pihak lawan main kerubut. Maka kedatangan ke Hong-sian-tay sengaja diperlambat sedikit sehingga berada di ke belakang Lim Peng-ci, tujuannya ingin tahu apakah pemuda itu membawa bala bantuan. Tak terduga Peng-ci ternyata datang sendirian ke tempat yang dijanjikan ini. Diam-diam Ih Jong-hay bergirang, anak murid Jing-sia-pay yang dibawanya lantas ditinggalkan, hanya dua orang muridnya saja yang diajak naik ke Hong-sian-tay agar tidak dipandang hina oleh pihak lawan. Anak muridnya yang lain tersebar di sekeliling puncak gunung itu untuk memberi bantuan bila perlu.

Ketika sampai di puncak atas, dilihatnya di samping Hong-sian-tay banyak orang berbaring di situ, tidak Lim Peng-ci saja yang kaget, bahkan Ih Jong-hay juga terkejut dan mengira dirinya tertipu. Tapi kemudian demi mendengar ucapan Gi-ho, walaupun secara kasar Gi-ho menyebutnya sebagai “tojin pendek”, namun nadanya menyatakan takkan bantu pihak mana pun, maka legalah hati Ih Jong-hay.

“Baik sekali jika kalian takkan membantu pihak mana pun,” kata Jong-hay kemudian. “Silakan kalian menyaksikan saja, bagaimana hasilnya nanti pertandingan antara ilmu pedang Jing-sia-pay melawan ilmu pedang Hoa-san-pay.”

Setelah merandek sejenak, kemudian ia menyambung pula, “Jangan kalian mengira Gak Put-kun dapat mengalahkan Co-suheng secara kebetulan lantas ilmu pedangnya sudah jempolan. Seumpama ilmu pedangnya memang nomor satu di antara Ngo-gak-pay, namun tiap-tiap golongan dan aliran persilatan di bu-lim masing-masing mempunyai ilmu silat tunggal sendiri-sendiri, betapa pun Hoa-san-kiam-hoat juga belum pasti terhitung nomor satu di dunia ini. Menurut pandanganku, melulu ilmu pedang Hing-san-pay saja sudah jelas lebih bagus daripada Hoa-san-kiam-hoat.”

Dengan ucapannya itu, pertama ia bermaksud mengadu domba, kedua bertujuan membikin senang hati anak murid Hing-san-pay agar mereka benar-benar tidak ikut campur dan tidak membantu Lim Peng-ci. Dan asalkan pertarungan satu lawan satu, maka hampir dapat dipastikan dirinya akan mengalahkan bocah she Lim itu dengan mudah.

Sudah tentu nada ucapan Ih Jong-hay yang punya arti tertentu itu pun dapat ditangkap oleh orang-orang Hing-san-pay. Segera Gi-ho berkata pula, “Jika kalian mau berkelahi boleh silakan sesukamu, kenapa mesti mengganggu ketenteraman orang yang hendak tidur? Hm, kau tahu aturan tidak?”

Diam-diam Ih Jong-hay sangat gusar, pikirnya, “Kurang ajar kaum nikoh busuk ini, saat ini aku tidak sempat membikin perhitungan dengan kalian, kelak kalau orang Hing-san-pay kalian kepergok aku di kalangan Kang-ouw barulah kalian tahu rasa.”

Dasar Ih Jong-hay memang berjiwa sempit, sudah biasa anggap dirinya paling hebat, paling jempol, angkatan muda persilatan kalau tidak menghormatinya tentu akan mendapat kesukaran. Seperti kata-kata kasar Gi-ho tadi, di waktu biasa tentu Ih Jong-hay sudah marah-marah dan mendampratnya.

Dalam pada itu Peng-ci telah melangkah maju dua-tiga tindak, lalu berkata, “Ih Jong-hay, kau pernah mengincar kiam-boh pusaka keluarga kami, kau membunuh pula ayah-bundaku, belasan anggota Hok-wi-piaukiok kami juga tewas di tangan Jing-sia-pay kalian, utang darah itu sekarang harus kau bayar dengan darahmu pula.”

Ih Jong-hay menjadi gusar, teriaknya, “Putraku sendiri mati di tangan kau binatang cilik ini, andaikan kau tidak mencari aku juga aku yang akan cari kau dan mencincang anjing kecil kau ini sampai hancur luluh. Apa kau kira berlindung di bawah Hoa-san-pay lantas bisa menyelamatkan jiwamu?”

“Sret”, segera ia melolos pedangnya. Di bawah sinar bulan pedangnya tampak gemerdep.

Namun Peng-ci masih tidak mengeluarkan senjatanya, ia maju dua langkah pula sehingga jaraknya dengan Ih Jong-hay sekarang tinggal dua-tiga meter jauhnya, dengan kepala rada miring ia melototi Ih Jong-hay.

Mendongkol juga Ih Jong-hay melihat lawannya belum mau melolos senjata, pikirnya, “Berani kau pandang enteng padaku? Hm, sebentar asal pedangku bergerak sedikitnya akan kurobek perutmu hingga ke tenggorokan. Soalnya kau terhitung angkatan muda, tidak enak bagiku untuk menyerang lebih dulu.”

Maka segera ia membentak, “Hayo lolos pedangmu!”

Dia sudah bersiap-siap, begitu Peng-ci memegang gagang pedangnya dan menariknya, sebelum pedang lawan terlolos keluar dari sarungnya segera akan mendahului membedah perut lawan.

Melihat gaya pedang Ih Jong-hay itu, cepat Lenghou Tiong memperingatkan Peng-ci, “Awas, Lim-sute, dia akan menusuk perutmu!”

Tapi Peng-ci hanya mendengus, sekonyong-konyong ia menerjang ke depan, hanya dalam sekejap saja jaraknya dengan Ih Jong-hay tinggal satu kaki jauhnya, begitu dekat sehingga hidung kedua orang hampir-hampir saling cium.

Gerak terjangan Lim Peng-ci ini sungguh sukar dibayangkan orang, betapa cepat gerak tubuhnya juga sukar dilukiskan. Karena terjangan Peng-ci yang merapat itu kedua tangan dan pedang yang dipegang Ih Jong-hay sekarang menjadi berada di belakang lawan malah kalau dijulurkan.

Tentu saja Ih Jong-hay tidak dapat menekuk pedangnya membalik untuk menusuk punggung Peng-ci, pada saat itu juga tahu-tahu tangan kiri Peng-ci sudah mencengkeram pundak kanannya dan tangan kanan menahan di ulu hatinya. Seketika Ih Jong-hay merasa koh-cing-hiat di pundak lemas linu, lengan kanan menjadi lumpuh tak bertenaga, pedang hampir terlepas dari cekalan.

Hanya sekali gebrak saja Lim Peng-ci sudah menguasai lawannya, geraknya yang aneh tampaknya malah lebih hebat daripada cara Gak Put-kun mengalahkan Co Leng-tan, namun gaya permainan Peng-ci ternyata serupa dengan Gak Put-kun.

“Tonghong Put-pay!” tanpa terasa Lenghou Tiong dan Ing-ing menyebut bersama dan saling pandang. Keduanya sama-sama melihat sorot mata masing-masing mengandung rasa kaget dan bingung.

Nyata jurus yang dipakai Lim Peng-ci tadi persis adalah ilmu silat yang digunakan Tonghong Put-pay di Hek-bok-keh tempo hari.

Agaknya Peng-ci tidak mengerahkan tenaga pada telapak tangan yang menahan di depan dada lawan tadi. Di bawah sinar bulan dilihatnya sorot mata Ih Jong-hay memperlihatkan rasa kaget dan takut yang luar biasa, alangkah senang rasa hati Peng-ci, ia merasa kalau musuh dibunuh secara begitu saja akan terlalu murah baginya.

Pada saat itulah dari jauh bergema suara Gak Leng-sian yang sedang memanggil-manggil, “Adik Peng, Adik Peng! Ayah suruh kau mengampuni dia sekali ini!”

Sambil berseru ia pun berlari-lari ke atas puncak.

Ketika tiba-tiba melihat Peng-ci berdiri berhadapan dengan Ih Jong-hay dalam jarak begitu dekat, Leng-sian menjadi tertegun. Dengan khawatir ia memburu maju pula, tapi ia menjadi lega ketika melihat sebelah tangan Peng-ci memegangi hiat-to penting di tubuh Ih Jong-hay dan tangan lain menahan di depan dada musuh itu.

“Ayah bilang, betapa pun hari ini Ih-koancu adalah tamu kita, maka janganlah kita membikin susah padanya,” kata Leng-sian pula.

Peng-ci hanya mendengus saja, tangan kiri yang memegang koh-cing-hiat di pundak Ih Jong-hay itu mencengkeram terlebih kuat dengan segenap tenaga dalamnya.

Ih Jong-hay tambah kesakitan dan linu hiat-to bagian pundak itu, tapi lantas dirasakan tenaga dalam lawan sebenarnya cuma sebegitu saja, celakanya hiat-to sendiri terpegang sehingga tak bisa berkutik, kalau tidak, melulu lwekang masing-masing saja dirinya jelas jauh lebih kuat. Seketika ia menjadi gemas dan sedih pula. Sudah terang ilmu silat lawan sangat rendah, meski berlatih sepuluh tahun lagi juga bukan tandingan dirinya, tapi sedikit lengah tadi dirinya juga kena dibekuk lebih dulu, maka hancurlah nama baiknya selama ini, bahkan besar kemungkinan lawan takkan tunduk kepada perintah Gak Put-kun lantaran ingin menuntut balas kematian ayah-ibunya, jiwa sendiri bisa jadi akan melayang segera.

Syukur didengarnya Gak Leng-sian berkata pula, “Ayah suruh kau mengampuni jiwanya hari ini. Untuk menuntut balas masakah khawatir dia bisa terbang ke langit?”

Mendadak Peng-ci angkat tangan kiri, “plak-plak”, Ih Jong-hay ditempelengnya dua kali.

Gusar Ih Jong-hay tidak kepalang, tapi apa daya, sebelah tangan Peng-ci masih menempel di ulu hatinya, biarpun lwekang pemuda itu tidak seberapa, tapi sedikit mengerahkan tenaga sudah cukup membuat ulu hatinya tergetar pecah, bila sekaligus terbinasa masih mendingan, yang dikhawatirkan adalah tenaga Peng-ci yang kepalang tanggung itu hanya membuatnya setengah mati setengah hidup, itulah yang celaka. Lantaran begitu, maka sedikit pun Ih Jong-hay tidak berani meronta.

Setelah menempeleng dua kali, sambil tertawa panjang Peng-ci lantas melompat mundur beberapa meter jauhnya, matanya tetap melototi Ih Jong-hay, cuma tidak bicara lagi.

Mestinya Ih Jong-hay bermaksud melabrak pemuda itu, tapi mengingat sekali gebrak saja dirinya sudah keok, hal ini disaksikan orang banyak dengan jelas. Kalau sekarang dirinya melabrak lagi, ini berarti tidak mengakui kekalahannya tadi, cara memalukan ini betapa pun tak bisa dilakukannya, maka urunglah dia melangkah maju.

Di lain pihak tertampak Peng-ci hanya mendengus saja, lalu putar tubuh dan tinggal pergi tanpa pedulikan sang istri.

Leng-sian membanting kaki tanda mendongkol, sekilas dilihatnya Lenghou Tiong duduk di pinggir Hong-sian-tay, segera didekatinya dan menyapa, “Toasuko, apakah lukamu tidak… tidak berhalangan?”

“Aku… aku….” begitu melihat siausumoay ini, seketika jantung Lenghou Tiong berdebar-debar sehingga bicara pun sukar.

“Jangan khawatir kau, dia takkan mati!” Gi-ho menimbrung.

Dengan menunduk kepala perlahan-lahan Leng-sian melangkah pergi, ketika akan turun ke bawah puncak, tiba-tiba ia menoleh dan berkata, “Toasuko, kedua Suci utusan Hing-san-pay yang tertahan di Hoa-san kami itu segera akan kami antar pulang. Ayah mengatakan perbuatan kami itu memang kurang sopan, harap dimaafkan.”

“Ya, baik, baik!” sahut Lenghou Tiong dengan tergagap, rasanya seperti kehilangan sesuatu menyaksikan kepergian Gak Leng-sian itu.

Tiba-tiba terdengar Gi-ho menjengek, katanya, “Hm, di mana kebaikan perempuan seperti ini? Dibandingkan Yim-toasiocia kita, biarpun dijadikan tukang gosok sepatu juga belum memenuhi syarat.”

Lenghou Tiong terkejut, baru sekarang ia ingat bahwa Ing-ing saat itu pun berada di sebelahnya, tentu saja si nona dapat menyaksikan betapa dirinya menjadi linglung menghadapi siausumoaynya itu, seketika wajah Lenghou Tiong menjadi merah. Dilihatnya Ing-ing bersandar pada dinding Hong-sian-tay seperti lagi mengantuk, diam-diam ia berharap semoga Ing-ing benar-benar tertidur sehingga tidak menyaksikan kejadian-kejadian tadi.

Namun Ing-ing adalah nona yang cerdik dan cermat, dalam saat demikian mana bisa dia tertidur? Dengan pikirannya itu Lenghou Tiong juga tahu dirinya sedang menipu dirinya sendiri. Ia bermaksud mengada-ada untuk mengajak omong Ing-ing, tapi bingung juga sebab tidak tahu apa yang harus dibicarakan.

Kalau menghadapi siausumoaynya ia menjadi gugup, tapi menghadapi Ing-ing segera Lenghou Tiong menjadi pintar. Jika tiada sesuatu yang dapat dibicarakan, cara yang paling baik adalah tidak bicara apa-apa, bahkan cara yang lebih baik adalah membelokkan perhatian Ing-ing ke urusan lain. Maka perlahan-lahan Lenghou Tiong lantas merebahkan dirinya, sesudah berbaring mendadak ia merintih perlahan seakan-akan lukanya menimbulkan rasa sakit.

Benar juga Ing-ing menjadi khawatir, ia menggeserkan tubuhnya mendekat dan bertanya dengan perlahan, “Apakah lukamu tersentuh sakit?”

“O, tidak apa-apa,” sahut Lenghou Tiong sambil memegangi tangan si nona. Ing-ing bermaksud melepaskan tangannya, tapi terasa genggaman Lenghou Tiong sangat kencang, khawatir kalau gerak tangannya membikin sakit luka Lenghou Tiong, terpaksa Ing-ing membiarkan tangannya digenggam.

Rupanya Lenghou Tiong menjadi sangat lelah karena terlalu banyak keluar darah, tidak lama kemudian ia pun terpulas. Esok paginya ketika terjaga bangun, ternyata sinar sang surya sudah memenuhi puncak pegunungan itu. Lenghou Tiong bangkit berduduk, ternyata tangan Ing-ing masih tergenggam olehnya, ia tersenyum kepada si nona. Dengan wajah merah cepat Ing-ing menarik tangannya.

“Marilah kita pulang ke Hing-san saja!” seru Lenghou Tiong.

Sementara itu Dian Pek-kong sudah menyiapkan sebuah usungan kayu, bersama Put-kay Hwesio segera mereka berdua menggotong Lenghou Tiong turun dari puncak Ko-san.

Ketika lewat di kuil induk kediaman orang Ko-san-pay, tertampak Gak Put-kun dan anak muridnya berdiri di depan pintu, dengan muka berseri-seri ia mengantarkan keberangkatan Lenghou Tiong dan pengiringnya. Hanya Gak-hujin dan Gak Leng-sian tidak tampak berada di antara orang-orang Hoa-san-pay itu.

“Maaf Suhu, Tecu tidak dapat memberi hormat padamu untuk mohon diri,” kata Lenghou Tiong.

“Ah, tidak usah,” jawab Gak Put-kun. “Nanti kalau lukamu sudah sembuh barulah kita berunding lebih jauh. Dengan menjabat ketua Ngo-gak-pay ini aku masih perlu pembantu-pembantu yang dapat dipercaya, kelak masih banyak diharapkan bantuanmu.”

Lenghou Tiong hanya tersenyum saja tanpa menjawab. Langkah Dian Pek-kong dan Put-kay Hwesio ternyata sangat cepat, dalam sekejap saja mereka sudah jauh meninggalkan puncak Ko-san itu. Setiba di bawah gunung barulah mereka menyewa beberapa kereta keledai untuk menampung Lenghou Tiong yang terluka dan Ing-ing.

Menjelang magrib sampailah mereka di suatu kota kecil. Terlihat di depan sebuah warung makan yang beratap bambu penuh berduduk tamu yang sedang minum, ternyata orang-orang Jing-sia-pay semua, Ih Jong-hay juga berada di antaranya.

Melihat kedatangan rombongan Hing-san-pay, air muka Ih Jong-hay berubah seketika, ia sengaja berpaling ke arah lain dan pura-pura tidak tahu.

Karena kota kecil itu tiada warung makan lain, terpaksa orang-orang Hing-san-pay mencari tempat duduk di emper rumah seberang. The Oh dan Cin Koan lantas mendatangi warung itu untuk pesan wedang panas bagi Lenghou Tiong.

Selagi tukang warung memasak air untuk menyiapkan pesanan tamunya, tiba-tiba terdengar suara derapan kuda yang ramai, debu mengepul tinggi dari arah sana, dua penunggang kuda sedang mendatangi dengan cepat. Setiba di depan warung itu, sekonyong-konyong kedua penunggang kuda itu menarik tali kendali. Ternyata kedua penunggang kuda itu adalah Lim Peng-ci dan Gak Leng-sian.

“Ih Jong-hay, jelas kau mengetahui aku pasti mencari kau lagi, kenapa kau tidak lekas-lekas melarikan diri?” teriak Peng-ci.

Lenghou Tiong yang berada di dalam kereta itu dapat mengenali suara pembicara itu, ia berkata, “Apakah Lim-sute yang menyusul tiba?”

Ing-ing mengiakan, segera ia menggulung tirai kereta agar Lenghou Tiong dapat melihat keadaan di luar.

Ih Jong-hay duduk di atas bangku dan sedang menghirup secangkir teh panas, mula-mula ia tidak gubris, setelah habis minum barulah menjawab, “Hm, memangnya aku sedang menunggu kau mengantarkan jiwamu!”

“Baik!” kata Peng-ci. Begitu tercetus ucapannya itu, tahu-tahu pedang sudah terlolos dan melompat turun dari kudanya, sekali pedang menusuk ke samping, menyusul ia mencemplak kembali ke atas kudanya, sekali membentak, bersama Gak Leng-sian mereka melarikan kudanya dengan cepat. Ternyata seorang murid Jing-sia-pay yang berdiri di tepi jalan perlahan-lahan roboh terkulai, darah segar mengucur keluar dari dadanya.

Sungguh sukar diperkirakan orang cara Peng-ci menyerang tadi. Dia melolos pedang dan melompat turun dari kuda, tujuannya jelas hendak melabrak Ih Jong-hay. Hal ini sebenarnya sangat kebetulan bagi ketua Jing-sia-pay itu, sebab ia tahu baik ilmu pedang maupun lwekang pemuda lawan itu sangat cetek, diam-diam Ih Jong-hay bergirang, ia yakin sekali bergebrak dengan mudah jiwa Lim Peng-ci pasti akan dibikin melayang, maka akan terbalaslah rasa malunya di Hong-sian-tay semalam. Bahwasanya kelak Gak Put-kun mungkin akan menuntut balas padanya adalah urusan belakang, demikian pikirnya.

Tapi siapa dapat menduga bahwa serangan Lim Peng-ci itu ternyata tidak ditujukan padanya, tapi di tengah jalan mendadak ganti sasaran, seorang muridnya ditusuk mati, lalu mencemplak kembali ke atas kuda dan tinggal pergi begitu saja.

Kaget dan gusar pula Ih Jong-hay, dengan cepat ia melompat bangun terus mengudak, namun lari kuda Peng-ci dan Leng-sian terlalu cepat baginya, betapa pun sukar untuk menyusulnya.

Cara Peng-ci menyerang yang luar biasa tadi membikin Lenghou Tiong melongo juga, ia pikir kalau serangan demikian itu ditujukan padanya mungkin sukar juga menangkisnya jika kebetulan tidak bersenjata, maka tiada pilihan lain kecuali tertusuk mati. Sebenarnya kalau bicara tentang ilmu pedang, Lenghou Tiong yakin masih jauh di atas Lim Peng-ci, cuma terhadap tipu serangan Peng-ci tadi Lenghou Tiong benar-benar bingung dan tiada cara baik untuk mematahkannya.

Saat itu Ih Jong-hay sedang mencaci maki sambil tuding Lim Peng-ci yang sudah kabur jauh, sudah tentu caci makinya itu tak terdengar. Dengan penuh rasa murka yang tak terlampiaskan, tiba-tiba Ih Jong-hay memutar balik terus memaki orang-orang Hing-san-pay, “Hm, kawanan nikoh busuk, kalian sudah tahu anak jadah she Lim itu mau datang ke sini, maka kalian datang lebih dulu menunggu di sini. Baik, binatang kecil itu sudah lari, kalau berani marilah kita saja yang bertempur.”

Di antara anak murid Hing-san-pay, watak Gi-ho paling berangasan, segera ia lolos pedang dan menjawab, “Hm, mau berkelahi hayolah maju, siapa yang takut padamu?”

Padahal orang Hing-san-pay jauh lebih banyak daripada pihak Jing-sia-pay, ditambah lagi Put-kay Hwesio, Dian Pek-kong, Ing-ing, dan Tho-kok-lak-sian, kalau benar-benar bertempur terang pihak Jing-sia-pay tak bisa melawannya. Sudah tentu kekuatan yang tak seimbang ini cukup diketahui Ih Jong-hay, soalnya dia sedang murka sehingga hatinya tak tahan meski biasanya dia dapat berpikir panjang dan banyak tipu akalnya.

Syukur Lenghou Tiong lantas mencegah, serunya, “Gi-ho Suci, jangan gubris padanya!”

Ing-ing lantas membisiki Tho-kok-lak-sian. Sekonyong-konyong Tho-kin-sian, Tho-yap-sian, Tho-kan-sian, dan Tho-hoa-sian berempat terus melompat ke sana menubruk kepada seekor kuda yang tertambat di tepi warung sana.

Kuda itu adalah kuda tunggangan Ih Jong-hay. Hanya terdengar suara meringkik ngeri, tahu-tahu kuda itu telah dibetot dan robek menjadi empat bagian sehingga isi perut berceceran dan darah berhamburan.

Badan kuda itu tinggi besar, tapi dengan bertangan kosong Tho-kok-si-sian telah merobeknya menjadi empat dengan membetot keempat kakinya, betapa hebat tenaga mereka sungguh luar biasa. Keruan anak murid Jing-sia-pay sama ketakutan, anak murid Hing-san-pay juga berdebar hatinya menyaksikan adegan ngeri itu.

“Ih-loto, orang she Lim bermusuhan dengan kau, tapi kami tidak memihak siapa-siapa dan hanya menonton saja di pinggir, janganlah kau menyangkutpautkan kami. Kalau benar-benar mau berkelahi jelas kalian tak bisa menang, sebaiknya kau tahu diri sedikit,” kata Ing-ing.

Setelah menyaksikan kelihaian Tho-kok-si-sian tadi, seketika lagak garang Ih Jong-hay tadi lenyap, ia simpan kembali pedangnya dan berkata, “Jika kita tidak saling mengganggu, maka bolehlah kita ambil jalan sendiri-sendiri, silakan kalian jalan dahulu!”

“Itu tidak bisa, kami harus mengikuti kalian,” kata Ing-ing.

“Apa sebab?” tanya Ih Jong-hay dengan mengerut kening.

“Terus terang, karena ilmu pedang orang she Lim itu teramat aneh, kami ingin melihat secara jelas,” kata Ing-ing.

Terkesiap hati Lenghou Tiong, apa yang dikatakan Ing-ing ternyata sama dengan isi hatinya. Begitu aneh ilmu pedang Lim Peng-ci sampai Tokko-kiu-kiam juga sukar mematahkannya, maka ia memang ingin mengetahui gerak ilmu pedang Peng-ci itu secara jelas.

Terdengar Ih Jong-hay menjawab, “Kau ingin tahu ilmu pedang bocah she Lim itu, tapi apa sangkut pautnya dengan aku?”

Namun segera ia merasa ucapannya itu keliru. Ia sendiri cukup sadar bahwa permusuhan dirinya dengan keluarga Lim terlalu mendalam, tidak mungkin Lim Peng-ci akan puas hanya membunuh seorang dua muridnya saja, tentu pemuda itu masih akan mencari perkara padanya. Dan maksud orang-orang Hing-san-pay justru ingin tahu cara bagaimana Peng-ci memainkan ilmu pedangnya dan cara bagaimana orang Jing-sia-pay dibunuh.

Bahwasanya setiap jago silat tentu tahu ilmu silat orang lain yang lihai memang bukan sesuatu yang aneh. Cuma cara orang Hing-san-pay mengikuti rombongan Jing-sia-pay, seakan-akan orang-orang Jing-sia-pay itu sudah menjadi hewan yang sedang digiring ke pejagalan untuk disembelih, dan cara penjagal menyembelih itulah yang akan dilihat, sungguh suatu perbuatan yang terlalu menghina.

Saking gusarnya segera Ih Jong-hay bermaksud memaki Ing-ing, tapi syukur ia masih sanggup menguasai perasaannya, ia hanya mendengus saja sekali, pikirnya, “Bocah she Lim itu menyerang aku secara licik, memangnya dia punya kepandaian yang luar biasa? Baik, boleh kalian mengikuti aku agar kalian bisa melihat jelas cara bagaimana aku mencincang anjing kecil itu hingga luluh.”

Dia kembali ke warung itu untuk minum lagi. Tapi mendadak poci teh yang dipegangnya berbunyi gemertak, kiranya tutup poci tergetar oleh tangannya yang gemetar. Anak muridnya menyangka tangan sang guru itu gemetar karena terlalu gusar, padahal dalam hati Ih Jong-hay sebenarnya ketakutan luar biasa. Ia sadar bahwa serangan Lim Peng-ci yang aneh itu kalau ditujukan padanya hakikatnya dia tidak mampu menangkisnya.

Sementara itu Ing-ing sudah kembali pada dandanan aslinya sebagai wanita, berada di tengah-tengah anak murid perempuan Hing-san-pay itu tiada seorang pun yang merasakan Ing-ing mempunyai sesuatu yang istimewa. Dia sendiri tinggal di suatu kereta keledai, ia selalu memisahkan keretanya agak jauh dari kereta Lenghou Tiong. Biarpun jalinan cintanya dengan Lenghou Tiong sekarang telah diketahui hampir setiap orang Kang-ouw, namun rasa kikuknya toh masih belum lenyap. Bila anak murid Hing-san-pay mengobati luka Lenghou Tiong, maka ia sengaja tidak mau melihatnya.

The Oh, Cin Koan, dan lain-lain kenal watak putri gembong Mo-kau itu, senantiasa mereka memberitahukan keadaan luka Lenghou Tiong padanya, Ing-ing hanya mengangguk saja tanpa memberi komentar. Kini melihat Ih Jong-hay sudah kembali ke tempatnya sendiri, maka Ing-ing juga lantas kembali ke dalam keretanya.

Sehabis minum, perasaan Ih Jong-hay ternyata masih belum tenang, ia perintahkan anak muridnya menggotong mayat murid yang mati itu untuk dikubur di luar kota, rombongan mereka lantas bermalam di depan warung makan itu.

Penduduk setempat sementara itu menjadi ketakutan melihat pertarungan dan pembunuhan yang terjadi itu, sejak tadi penduduk sudah sama tutup pintu tak berani keluar lagi.

Duduk di dalam keretanya Lenghou Tiong coba merenungkan jurus ilmu pedang Lim Peng-ci tadi, ia merasa jurus serangan itu sendiri tiada sesuatu yang luar biasa, hanya datangnya teramat cepat, sebelumnya juga tiada tanda-tanda ke mana serangannya akan dituju. Kalau serangan demikian itu dilontarkan, sekalipun tokoh paling lihai juga sukar menahannya.

Waktu Tonghong Put-pay menempur mereka berempat tempo hari, senjata yang dipakai hanya sebuah jarum sulam saja, tapi mereka berempat toh tak bisa melawan. Kalau dipikirkan secara cermat sekarang hal itu bukan lantaran lwekang atau jurus serangan Tonghong Put-pay sangat hebat, soalnya gerak-geriknya secepat kilat, serangannya dilakukan tanpa ada tanda-tanda sebelumnya sehingga setiap serangannya selalu di luar perhitungan lawan.

Cara Lim Peng-ci membekuk Ih Jong-hay dengan mudah dan caranya membunuh anak murid Jing-sia-pay tadi, gaya ilmu silatnya serupa benar dengan Tonghong Put-pay. Sedangkan cara Gak Put-kun membutakan kedua mata Co Leng-tan jelas juga menggunakan ilmu silat yang sama gayanya, apakah barangkali ilmu silat mereka ini pun “Pi-sia-kiam-hoat” adanya? Terpikir olehnya, “Orang yang mampu melayani ilmu pedang aneh ini pada zaman sekarang mungkin hanya Hong-thaysuco saja. Nanti kalau lukaku sudah sembuh rasanya aku perlu berkunjung pula ke Hoa-san untuk minta pengajaran kepada Hong-thaysuco cara-cara mematahkan ilmu pedang aneh ini.”

Tapi lantas terpikir lagi, “Tonghong Put-pay sudah mati, Gak Put-kun adalah guruku, Lim Peng-ci adalah suteku, mereka berdua tentu takkan menggunakan ilmu pedang hebat itu terhadap diriku, lalu buat apa aku mempelajari cara mematahkan ilmu pedang mereka itu dengan susah payah?”

Tiba-tiba teringat olehnya bahwa ilmu silat Tonghong Put-pay itu bersumber pada “Kui-hoa-po-tian”, sedangkan ilmu silat Suhu dan Sute berasal dari Pi-sia-kiam-hoat, kalau menurut cerita Hong-ting Taysu tempo hari memang asal-usul ilmu silat mereka itu semuanya memang berasal dari sumber yang sama, hanya saja… sekonyong-konyong teringat pula sesuatu olehnya, cepat ia bangkit berduduk, karena gerakan mendadak, lukanya lantas terasa sakit lagi, tanpa terasa ia merintih perlahan.

“Apakah kau haus?” cepat Gi-lim yang berdiri di samping keretanya bertanya.

“Tidak,” jawab Lenghou Tiong. “Siausumoay, harap undang Nona Yim ke sini.”

Gi-lim mengiakan. Tidak lama Ing-ing lantas muncul bersama Gi-lim. “Ada urusan apakah?” tanya Ing-ing.

“Tiba-tiba aku ingat sesuatu,” tutur Lenghou Tiong. “Tempo hari ayahmu pernah mengatakan bahwa kitab Kui-hoa-po-tian agama kalian itu telah beliau berikan kepada Tonghong Put-pay. Waktu itu aku mengira ilmu silat yang terdapat di dalam Kui-hoa-po-tian itu tidak lebih bagus daripada ilmu sakti yang diyakinkan oleh ayahmu sendiri, makanya ayahmu mau menurunkan kitab pusaka itu kepada Tonghong Put-pay, akan tetapi….”

“Kemudian ternyata ilmu silat ayahku tidak lebih tinggi daripada Tonghong Put-pay, begitu kau ingin katakan, bukan?” sela Ing-ing.

“Benar,” jawab Lenghou Tiong. “Sebab musabab urusan ini benar-benar membikin bingung diriku.”

Rasa bingung Lenghou Tiong ini memang bukan tidak beralasan. Maklumlah, pada umumnya setiap jago silat bila melihat sesuatu kitab ilmu silat yang hebat mustahil tak ingin dimilikinya sendiri, bahwa Yim Ngo-heng justru sengaja memberikan kitab pusaka kepada Tonghong Put-pay, hal ini benar-benar luar biasa.

“Aku pun pernah tanya Ayah tentang ini,” kata Ing-ing. “Ayah bilang, pertama, ilmu silat yang tertera di dalam kitab itu tak boleh dipelajari, kalau paksakan diri belajar tentu akan mendatangkan kerugian bagi diri sendiri. Kedua, beliau pun tidak tahu bahwa setelah berhasil meyakinkan ilmu silat dalam kitab itu ternyata bisa sedemikian lihai.”

“Jadi menurut beliau ilmu silat itu tidak boleh dipelajari? Tidak boleh? Apa sebabnya?” Lenghou Tiong menegas.

Tiba-tiba air muka Ing-ing berubah merah, jawabnya kemudian, “Apa sebabnya tidak boleh dipelajari, aku sendiri pun tidak tahu.”

Setelah merandek sejenak, lalu ia menyambung pula, “Seperti nasib yang dialami Tonghong Put-pay itu, apakah baik kalau begitu?”

“O,” Lenghou Tiong sadar akan persoalannya, dalam hati kecilnya lapat-lapat merasa bahwa jalan yang ditempuh oleh suhunya seperti sedang menuju ke arah yang dialami Tonghong Put-pay itu.

“Kau harus merawat lukamu dengan tenang, jangan banyak berpikir,” kata Ing-ing. “Aku akan pergi tidur saja.”

Lenghou Tiong mengiakan. Ia menyingkap tirai kereta, sinar bulan yang lembut menyoroti wajah Ing-ing yang cantik itu, mendadak Lenghou Tiong merasa sangat menyesal karena apa yang dilakukannya tidak memadai cinta si nona kepadanya.

“Baju yang dipakai Lim-sute-mu itu kain kembang belaka,” tiba-tiba Ing-ing menambahkan lagi, habis itu barulah ia melangkah kembali ke keretanya.

Keruan Lenghou Tiong merasa heran, pikirnya, “Apakah maksudnya dia mengatakan baju Lim-sute terdiri dari kain kembang belaka? Lim-sute baru menjadi pengantin, tidak heran kalau dia memakai baju-baju baru yang mewah. Dasar anak perempuan, tidak perhatikan ilmu pedang orang, tapi yang diperhatikan adalah baju yang dipakai orang lain, sungguh lucu.”

Sambil pejamkan mata ia coba membayangkan keadaan Lim Peng-ci waktu melabrak Ih Jong-hay, tapi baju kembang apa yang dipakai Peng-ci waktu itu sudah lupa olehnya.

Tidur sampai tengah malam, tiba-tiba dari jauh berkumandang suara derapan kaki kuda, dua penunggang kuda sedang mendatangi. Lenghou Tiong lantas bangkit berduduk dan menyingkap tirai kereta, dilihatnya anak murid Hing-san dan Jing-sia-pay juga sudah bangun semua. Anak murid Hing-san-pay segera mengambil tempat masing-masing dalam bentuk barisan pedang untuk menjaga segala kemungkinan. Sedangkan anak murid Jing-sia-pay sudah mengeluarkan senjata masing-masing, ada yang menjaga di tepi jalan, ada yang siap siaga di sekeliling sang ketua. Semuanya tegang dan gelisah.

Tidak lama tertampaklah dua penunggang kuda sedang mendatang dengan cepat, di bawah sinar bulan dapat terlihat dengan jelas, siapa lagi mereka kalau bukan Lim Peng-ci dan Gak Leng-sian.

Begitu mendekat segera Lim Peng-ci berteriak, “Ih Jong-hay, karena kau ingin mencuri Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim kami, maka ayah ibuku telah kau bunuh. Sekarang biarlah aku memperlihatkan ilmu pedang yang kau cari itu sejurus demi sejurus, hendaklah kau mengikuti dengan jelas.”

Ia menahan kudanya, lalu melompat turun, pedang tersandang di belakang punggungnya, dengan langkah cepat ia lantas mendekati orang-orang Jing-sia-pay.

Ketika Lenghou Tiong memerhatikan, dilihatnya Peng-ci memakai baju warna kuning muda, ujung baju dan lengan baju bersulam bunga-bunga kuning tua, pinggir baju dilapis dengan renda kuning pula, pinggang juga memakai ikat pinggang kuning emas sehingga memantulkan gemerdep kuning bila berjalan, tampaknya memang sangat perlente. Pikirnya, “Biasanya Lim-sute sangat sederhana, sesudah menjadi pengantin sifatnya lantas berbeda seketika. Tapi juga tak bisa menyalahkan dia, pemuda mendapatkan jodoh yang setimpal sudah tentu sangat girang, pantas kalau dia berdandan secakap mungkin.”

Semalam ketika Lim Peng-ci membekuk Ih Jong-hay dengan bertangan kosong di samping Hong-sian-tay, lagaknya sama seperti sekarang ini. Sudah tentu pihak Jing-sia-pay tak memberi kesempatan lagi padanya untuk mengulangi serangannya yang licik itu. Sekali Ih Jong-hay menggertak, serentak empat muridnya menerjang maju dengan pedang terhunus, dua pedang menusuk dadanya dari kanan dan kiri, dua pedang lain menebas pula kedua kakinya.

“Awas, Cah!” seru Tho-hoa-sian dan Tho-sit-sian berbareng, betapa pun mereka ikut khawatir juga bagi Lim Peng-ci.

Tak terduga Peng-ci tetap tenang-tenang saja, dengan cepat luar biasa mendadak kedua tangannya menjulur ke depan, menyusul tangannya lantas menyampuk ke samping sehingga tangan kedua orang yang menusuk dadanya itu terdorong, maka terdengarlah jeritan ngeri empat orang, dua orang kontan roboh terkulai. Dua orang yang mestinya menusuk dadanya itu karena tersampuk tangan masing-masing sehingga pedang memutar balik dan menusuk ke dalam perut kedua teman sendiri.

“Inilah jurus kedua dan ketiga Pi-sia-kiam-hoat, sudah lihat jelas tidak?” seru Peng-ci. Lalu ia putar tubuh dan mencemplak ke atas kudanya, terus dilarikan pergi.
Comments (2)
2 Comments »

we tuhh pngn blass dendam bgt ma tmn we ,,
dy tuhh org’y sok cantik ,,sok imut ,, sok mnja ,, pkok’y bnyk dehh ..

we benccciiiii bgt ma dy ..

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: