Hina Kelana: Bab 117. Gak Put-kun Keluar Sebagai Pemenang

Gak Put-kun juga tidak ayal, ia pun menangkis dan balas menyerang dengan sama ganasnya. Cuaca sekarang sudah remang-remang mendekati magrib, pertandingan kedua tokoh di atas Hong-sian-tay itu kini bukan pertandingan persahabatan lagi, tapi pertarungan mati-matian, hal ini dapat dilihat dengan jelas oleh para penonton.

Setelah beberapa jurus lagi, melihat lawannya bertahan dengan sangat rapat, Co Leng-tan mulai tidak sabar, makin kuat tenaga yang dikerahkan untuk memainkan pedangnya.

Tampaknya Gak Put-kun mulai kewalahan, tapi mendadak ilmu pedangnya berubah, pedangnya sebentar menjulur sebentar mengerut, gerak serangannya sangat aneh.

Keruan para penonton terheran-heran. “Ilmu pedang apakah ini?” demikian ada orang bertanya dengan suara perlahan. Tapi yang tanya boleh tanya, yang jawab ternyata tidak ada, paling-paling hanya menggeleng kepala saja.

Co Leng-tan mendengus, katanya di dalam hati, “Memangnya aku sudah menduga pada saat terakhir kau tentu akan keluarkan simpananmu ini, kau tidak tahu bahwa sebelumnya aku sudah bersiap. Kau punya ‘Pi-sia-kiam-hoat’ mungkin lihai kalau digunakan terhadap orang lain, tapi bisa berbuat apa terhadapku?”

Lenghou Tiong mengikuti pertarungan Gak Put-kun melawan Co Leng-tan sambil bersandar pada badan Ing-ing. Ketika mendadak melihat ilmu pedang sang guru berubah aneh dan cepat luar biasa, sama sekali berbeda daripada Hoa-san-kiam-hoat, ia menjadi terheran-heran. Dalam sekejap saja dilihatnya ilmu pedang yang dimainkan Co Leng-tan juga sudah berubah, gerak pedangnya yang dimainkan sekarang ternyata hampir mirip dengan Gak Put-kun.

Beberapa jurus lagi Lenghou Tiong lantas ingat ketika di Siau-lim-si dahulu, waktu Co Leng-tan bertanding dengan Yim Ngo-heng dengan jurus-jurus serangannya yang aneh, tatkala mana Hiang Bun-thian pernah berseru, “Pi-sia-kiam-hoat!”

Kini yang digunakan sang suhu dan Co Leng-tan adalah ilmu silat yang pernah dimainkan Co Leng-tan dahulu, apakah yang mereka gunakan sekarang ini memang betul Pi-sia-kiam-hoat adanya?

Seketika pikiran Lenghou Tiong menjadi bergolak, terpikir olehnya, sebab dirinya diusir dari Hoa-san-pay kecuali alasan pergaulannya dengan Ing-ing dan orang-orang Mo-kau, tapi ada pula alasan lain, yaitu karena sang suhu mencurigai dirinya menggelapkan Pi-sia-kiam-boh milik Lim Peng-ci itu.

Bahwasanya sang guru juga mahir Pi-sia-kiam-hoat dapatlah dimengerti, sebab bukan mustahil Gak Put-kun telah mempelajarinya bersama Lim-sute. Tapi mengapa Co Leng-tan juga mahir memainkan ilmu pedang keluarga Lim ini. Apa barangkali Pi-sia-kiam-boh dahulu pernah direbut Co Leng-tan dan kemudian direbut kembali oleh Suhu? Jika demikian halnya rasanya takkan menguntungkan Suhu, sebab Co Leng-tan lebih lama berlatih, tentu hasil yang dicapainya lebih hebat daripada Suhu. Demikian Lenghou Tiong membatin.

Benar juga, keadaan pertarungan di atas Hong-sian-tay ternyata mendekati dugaannya, tertampak Co Leng-tan terus melancarkan serangan dan Gak Put-kun terdesak mundur. Melihat banyak kelemahan-kelemahan ilmu pedang yang dimainkan sang guru yang semakin banyak, keadaannya tambah berbahaya, Lenghou Tiong merasa gelisah juga.

Di lain pihak demi melihat Co Leng-tan sudah di pihak menang, serentak anak murid Ko-san-pay sama memberi sorak pujian.

Co Leng-tan semakin bersemangat menyerang dengan gencar, ia merasa girang karena melihat pihak lawan sudah mulai kacau, segera ia menyerang terlebih kuat. Tidak lama kemudian, ketika kedua pedang beradu, sekali puntir dan menyungkit, Co Leng-tan berhasil membikin pedang Gak Put-kun mencelat ke udara. Serentak anak murid Ko-san-pay bersorak-sorai gembira.

Tak terduga Gak Put-kun lantas menubruk maju pula dengan bertangan kosong, dengan cara menutuk, mencengkeram, dan gaya-gaya lain, ternyata serangannya tidak kalah lihainya daripada Co Leng-tan. Terutama gerak tubuhnya yang lincah dan enteng, sebentar di sini, tahu-tahu sudah berada di sana, betapa cepat dan aneh gerakannya sungguh sukar dibayangkan.

Keruan Co Leng-tan terperanjat, teriaknya takut, “Kau… kau ini….” namun untuk bicara saja tidak sempat, terpaksa ia harus bertahan sebisanya.

Begitu tegang perubahan pertarungan di atas panggung itu sehingga pedang Gak Put-kun yang mencelat ke udara dan jatuh kembali menancap di atas panggung tak diperhatikan orang lagi.

“Tonghong Put-pay! Tonghong Put-pay!” seru Ing-ing tertahan.

Kini Lenghou Tiong juga sudah dapat melihat jelas bahwa ilmu silat yang digunakan suhunya sekarang tiada ubahnya seperti ilmu silat Tonghong Put-pay ketika gembong Mo-kau itu menempur mereka berempat di Hek-bok-keh dahulu.

Saking kejut dan heran, Lenghou Tiong sampai lupa sakit dan berdiri. Syukur dari samping sebuah tangan yang mungil lantas menjulur tiba dan memapahnya, namun dia masih tidak merasakannya. Malahan sepasang mata jelita yang sedang memandangnya dengan kesima juga tidak dirasakannya.

Pada saat itu, beribu-ribu pasang mata di puncak Ko-san itu hanya ada sepasang mata yang sejak mula tidak pernah memerhatikan apa yang terjadi di situ, sedetik pun sorot mata Gi-lim belum pernah meninggalkan diri Lenghou Tiong, sekalipun dunia akan kiamat saat itu mungkin juga tak dihiraukan olehnya.

Sekonyong-konyong terdengar Co Leng-tan menjerit, sedangkan Gak Put-kun terus melompat mundur dan berdiri di ujung panggung sana, tepat di pinggir panggung, badannya rada tergeliat-geliat seperti mau tergelincir ke bawah.

Di sebelah lain Co Leng-tan masih terus putar pedangnya dengan kencang, yang dimainkan adalah Ko-san-kiam-hoat yang hebat, begitu rapat pedangnya berputar sehingga seluruh badannya seakan terbungkus oleh sinar pedangnya. Anehnya ilmu pedangnya yang hebat itu seakan-akan cuma dimainkan sebagai demonstrasi saja tanpa menyerang kepada Gak Put-kun, keadaannya tampak rada-rada tidak beres.

Sejenak kemudian, mendadak pedang Co Leng-tan menusuk ke depan, lalu berhenti di tengah jalan, kepalanya rada miring seperti sedang mendengarkan apa-apa.

Pada saat itulah orang-orang yang bermata tajam dapat melihat dengan jelas ada dua tetes darah mengucur keluar dari kedua mata Co Leng-tan. Serentak di antara para penonton ada yang berkata, “He, matanya buta!”

Ucapan orang itu tidak terlalu keras, namun cukup jelas didengar Co Leng-tan. Ia menjadi gusar dan berteriak, “Aku tidak buta! Aku tidak buta! Bangsat mana yang bilang aku buta? Hayo Gak Put-kun, pengecut kau, bangsat! Kalau berani majulah dan bergebrak 300 jurus lagi dengan tuanmu!”

Makin berteriak makin keras dengan nada penuh kemurkaan, kesakitan, dan putus asa laksana seekor binatang liar yang terluka parah dan sedang meronta sebelum ajal.

Sebaliknya Gak Put-kun tetap berdiri di ujung panggung dengan tersenyum-senyum. Kini semua orang dapat melihat dengan jelas, kedua mata Co Leng-tan memang benar telah tertusuk buta oleh Gak Put-kun. Semuanya melongo heran, hanya Lenghou Tiong dan Ing-ing saja tidak merasa aneh atas kejadian ini. Sebab ilmu silat yang dimainkan Gak Put-kun itu sudah mereka kenal waktu mereka berempat mengerubut Tonghong Put-pay di Hek-bok-keh tempo hari, untung perhatian Tonghong Put-pay dipencarkan oleh akal Ing-ing yang pura-pura menyerang Nyo Lian-ting sehingga akhirnya Tonghong Put-pay dapat mereka bunuh, walaupun begitu sebelah mata Yim Ngo-heng toh tertusuk buta oleh jarum Tonghong Put-pay.

Gerak tubuh Gak Put-kun memang tidak segesit Tonghong Put-pay, tapi satu lawan satu tentu saja Co Leng-tan bukan tandingan Gak Put-kun, dan memang benar, dalam sekejap saja kedua matanya sudah tertusuk buta.

Melihat sang suhu menang, hati Lenghou Tiong ternyata tidak merasa senang, sebaliknya mendadak timbul semacam perasaan takut yang sukar dikatakan, bahkan juga perasaan muak. Ia tertegun sejenak, tiba-tiba lukanya terasa sakit, segera ia duduk kembali dengan lesu.

“Kenapa?” cepat Ing-ing dan Gi-lim memegangi bahunya dan bertanya dengan khawatir.

“Tidak… tidak apa-apa,” jawab Lenghou Tiong dengan senyuman yang dipaksakan.

Dalam pada itu terdengar Co Leng-tan lagi berteriak-teriak, “Gak Put-kun, bangsat kau! Kalau berani hayolah maju lagi, kenapa main sembunyi-sembunyi, pengecut kau… hayo maju!”

Melihat jago pihaknya sudah tak berdaya, si kakek she Han dari Ko-san-pay tadi berkata kepada anak-anak buahnya, “Kalian pergi memapah turun Suhu!”

Dua murid Co Leng-tan mengiakan terus meloncat ke atas panggung dan berseru, “Suhu, marilah kita turun saja!”

Namun Co Leng-tan masih terus menantang, “Hayolah maju Gak Put-kun!”

Ketika seorang muridnya menjulurkan tangan buat memapahnya, sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, tahu-tahu tubuhnya telah tertebas menjadi dua mulai dari bahu kanan ke pinggang sebelah kiri. Menyusul sinar pedang berkelebat pula, muridnya yang lain juga mengalami nasib yang sama, tubuhnya tertebas menjadi dua sebatas dada.

Keruan semua orang menjerit kaget. Betapa lihai ilmu pedang Co Leng-tan jelas tertampak dari tebasannya barusan ini. Namun Gak Put-kun toh mampu menandinginya tadi, hal ini pun luar biasa.

Perlahan-lahan Gak Put-kun melangkah ke tengah panggung dan mengambil kembali pedangnya, lalu berkata, “Co-heng, karena kau sudah cacat, maka aku takkan mengusik kau lagi. Dalam keadaan demikian apakah kau masih ingin berebut menjadi ketua Ngo-gak-pay dengan aku?”

Co Leng-tan angkat pedangnya perlahan-lahan, ujung pedang terarah tepat ke dada lawan. Darah bertetes-tetes menitik jatuh dari batang pedangnya, semua orang sampai menahan napas karena ingin tahu apakah Co Leng-tan akan menusukkan pedangnya itu dan dapatkah Gak Put-kun menangkisnya?

Tampaknya Co Leng-tan telah mengerahkan segenap tenaganya pada pedangnya itu, sebaliknya Gak Put-kun juga menghimpun kekuatan Ci-he-sin-kang dan siap untuk menghadapi serangan menentukan dari Co Leng-tan itu.

Namun pada detik berbuat dan tidak itu, dalam benak Co Leng-tan tiba-tiba timbul macam-macam pikiran, ia pikir kalau serangan terakhir ini tidak mampu membinasakan Gak Put-kun atau kena ditangkis, maka diri sendiri yang sudah buta tentu tiada pilihan lain kecuali mati konyol di tangan Gak Put-kun, dan itu berarti pula buyarlah semua jerih payah sendiri dalam usaha menjagoi Ngo-gak-pay yang telah berjalan sekian lamanya. Karena pikiran yang bergolak ini, mendadak dada terasa panas, darah segar menyembur keluar dari mulutnya.

Gak Put-kun yang berdiri berhadapan itu tidak berani bergerak sedikit pun karena khawatir tidak sanggup menahan serangan lawan yang tiba-tiba datangnya, maka mukanya dan sekujur badan menjadi basah kuyup tersembur oleh darah yang ditumpahkan Co Leng-tan itu.

Mendadak Co Leng-tan menyendal pedangnya sehingga patah menjadi beberapa potong, lalu ia menengadah dan bergelak tertawa, begitu keras suara tertawanya hingga berkumandang jauh dan menggema angkasa pegunungan.

Habis tertawa ia terus melangkah ke bawah punggung. Ketika sampai di tepi dan sebelah kakinya menginjak tempat kosong, namun dia sudah siap sebelumnya, sebelah kakinya lantas melayang ke depan sehingga tubuhnya menurun ke bawah dengan tegak.

Setiba di bawah panggung, anak murid Ko-san-pay lantas merubunginya dan berseru, “Suhu, marilah kita terjang mereka dan cincang segenap orang Hoa-san-pay itu.”

Namun Co Leng-tan lantas berseru lantang, “Tidak! Seorang laki-laki harus pegang janji. Sebelumnya sudah ditentukan bertanding untuk berebut juara, kalau Gak-siansing jelas lebih unggul daripadaku, kita semua harus mengangkatnya menjadi ketua, mana boleh ingkar janji?”

Ketika kedua matanya mendadak dibutakan tadi, saking kaget dan murkanya ia telah mencaci maki lawannya, tapi sesudah tenang kembali segera pulih pula sikap dan gayanya sebagai seorang pemimpin persilatan yang besar.

Para penonton sama kagum juga melihat Co Leng-tan yang berani menghadapi kenyataan itu, coba kalau sampai terjadi pertarungan besar, tentu pihak Hoa-san-pay akan sukar menghadapi pihak Ko-san-pay yang berjumlah lebih banyak dan keuntungan tempat pula.

Di antara hadirin sudah tentu banyak di antaranya terdiri dari manusia-manusia “plinplan” yang cuma mengikuti arah angin, demi mendengar ucapan Co Leng-tan itu, serentak mereka bersorak-sorai, “Hidup Gak-siansing! Silakan Gak-siansing menjadi ketua Ngo-gak-pay!”

Tentu saja anak murid Hoa-san-pay lebih-lebih gembira dan teriakan mereka paling lantang. Kemenangan Gak Put-kun yang luar biasa itu sesungguhnya terjadi terlalu cepat dan sama sekali di luar dugaan mereka sendiri.

Setelah mengusap darah yang mengotori mukanya, Gak Put-kun lantas maju ke tepi panggung, serunya sambil memberi hormat kepada para hadirin, “Pertandingan Cayhe dengan Co-suheng sebenarnya diharapkan berakhir dalam batas-batas tertentu. Namun kepandaian Co-suheng ternyata terlalu hebat sehingga pedangku tergetar lepas, pada saat berbahaya itu Cayhe terpaksa harus menyelamatkan diri sehingga tidak dapat menguasai diri dan akhirnya kedua mata Co-suheng menjadi korban, sungguh Cayhe merasa tidak enak hati.”

“Senjata tidak bermata, siapa bisa menjamin takkan cedera dalam pertarungan sengit itu,” seru seorang penonton.

Tiba-tiba seorang lagi berseru, “Sekarang kalau ada lagi yang ingin menjadi ketua Ngo-gak-pay, hayolah silakan naik ke atas untuk bertanding pula dengan Gak-siansing!”

Suasana ternyata sepi-sepi saja. Maka beratus-ratus orang lantas berteriak pula, “Gak-siansing yang pantas menjadi ketua Ngo-gak-pay!”

Menunggu setelah suara ramai itu rada tenang barulah Gak Put-kun berkata dengan suara lantang, “Atas dukungan Saudara-saudara, terpaksa Cayhe tak bisa menolak. Ngo-gak-pay mulai hari ini didirikan, segala apa masih harus diatur, Cayhe hanya dapat memimpin secara garis besar saja. Maka urusan-urusan di Heng-san diharap Bok-taysiansing tetap memegangnya, urusan di Hing-san hendaklah Lenghou Tiong, Lenghou-hiante, yang melanjutkan. Sedangkan urusan di Thay-san harap Giok-seng dan Giok-im berdua Totiang yang memimpin bersama. Adapun urusan Ko-san-pay, karena pandangan Co-suheng kurang leluasa, kukira harus diperbantukan… baiklah, silakan Han Thian-peng, Han-suheng sudi bantu Co-suheng mengurus pekerjaan sehari-hari.”

Usul Gak Put-kun ini sama sekali di luar dugaan tokoh tua she Han dari Ko-san-pay tadi, ia sampai tergagap-gagap tak bisa bicara.

Orang-orang Ko-san-pay dan lain-lain sama heran juga. Padahal Han Thian-peng itu tadi paling tegas memusuhi Gak Put-kun dengan olok-oloknya secara kasar, siapa duga Gak Put-kun malah menunjuknya sebagai pembantu Co Leng-tan untuk memimpin pekerjaan di Ko-san. Karena itu rasa gusar orang-orang Ko-san-pay karena kedua mata pemimpin mereka dibutakan Gak Put-kun segera rada berkurang demi melihat tokoh Ko-san-pay mereka masih cukup dihargai oleh Gak Put-kun.

Kemudian Gak Put-kun membuka suara pula, “Untuk selanjutnya segenap anggota Ngo-gak-kiam-pay kita harus bersatu padu, kalau tidak, maka tiada artinya lagi peleburan ini. Cayhe sendiri sebenarnya tidak punya kepandaian apa-apa, untuk sementara dipilih memegang pimpinan, maka banyak pekerjaan-pekerjaan yang masih harus dirundingkan dengan Saudara-saudara sekalian. Sekarang hari sudah mulai gelap, silakan Saudara-saudara mengaso saja dan dahar dulu!”

Maka bersoraklah semua orang dan beramai-ramai turun menuju ke halaman markas Ko-san-pay. Ketika Gak Put-kun turun dari panggung, beramai-ramai Hong-ting Taysu, Tiong-hi, dan lain-lain lantas maju memberi selamat padanya. Tokoh-tokoh itu sama merasa lega setelah Ngo-gak-pay dapat diduduki oleh Gak Put-kun yang dipandang sebagai kesatria yang baik daripada Co Leng-tan yang kejam dan culas itu.

“Gak-siansing,” dengan suara perlahan Hong-ting berkata kepada Gak Put-kun, “menurut pendapatku bukan mustahil pihak Ko-san masih akan mencari perkara padamu. Sebaiknya Gak-siansing berjaga-jaga dan berhati-hati.”

“Terima kasih atas petunjuk Taysu,” kata Put-kun.

“Siau-sit-san tidak terlalu jauh dari sini, bila perlu apa-apa silakan memberi kabar,” kata Hong-ting pula.

“Maksud baik Taysu sungguh kuterima dengan terima kasih tak terhingga,” kata Put-kun sambil memberi hormat. Dan setelah beramah tamah sejenak dengan Tiong-hi, Pangcu dari Kay-pang, dan lain-lain, lalu ia mendekati Lenghou Tiong dan menyapa, “Tiong-ji, apakah lukamu tidak menjadi halangan?”

Sejak Lenghou Tiong dipecat dari Hoa-san-pay baru pertama kali ini Gak Put-kun memanggil “Tiong-ji” sedemikian ramahnya kepada Lenghou Tiong.

Tapi Lenghou Tiong kini sudah bukan Lenghou Tiong dulu lagi, ia tidak menjadi senang, sebaliknya merasa seram malah, jawabnya dengan suara tak lancar, “O, ti… dak apa-apa.”

“Maukah kau ikut aku pulang ke Hoa-san untuk merawat lukamu sekalian berkumpul beberapa hari dengan ibu-gurumu?” kata Put-kun pula.

Kalau beberapa jam sebelumnya Gak Put-kun mengajak demikian tentu Lenghou Tiong akan kegirangan serta menerimanya tanpa pikir. Tapi sekarang ia menjadi ragu-ragu dan takut-takut untuk ikut ke Hoa-san.

“Bagaimana, mau?” tanya pula Put-kun.

“Obat luka Hing-san-pay cukup baik, biarlah sesudah luka Tecu sem… sembuh baru mengunjungi Suhu dan Sunio,” jawab Lenghou Tiong.

Untuk sejenak Gak Put-kun memandang tajam wajah Lenghou Tiong seakan-akan ingin mengetahui apa sesungguhnya yang dipikir oleh pemuda itu. Selang sejenak barulah ia berkata pula, “Begitu pun boleh. Hendaklah kau merawat dirimu dengan baik dan selekasnya berkunjung ke Hoa-san.”

Lenghou Tiong mengiakan dan meronta bangun dengan maksud hendak memberi hormat.

“Sudahlah, tak perlu,” kata Put-kun ramah sambil mengulur tangan untuk memegang lengan kanan orang.

Tapi Lenghou Tiong lantas mengelakkan tubuhnya, air mukanya tanpa terasa memperlihatkan rasa takut.

Gak Put-kun mendengus perlahan, sekilas mukanya bersungut, tapi segera pula ia tersenyum, katanya dengan gegetun, “Siausumoaymu sungguh keterlaluan, untung tidak mengenai tempat yang berbahaya.”

Habis itu perlahan-lahan ia memutar tubuh dan melangkah ke sana dengan diiringi beberapa ratus pendukungnya.

Pandangan Lenghou Tiong mengikuti bayangan sang guru perlahan-lahan menghilang di balik lereng gunung sana, begitu pula para hadirin berturut-turut juga sudah pergi. Tiba-tiba didengarnya suara seorang perempuan mendengus, “Hm, munafik!”

Kata-kata itu entah diucapkan oleh murid perempuan Hing-san-pay yang mana, yang pasti kata “munafik” benar-benar menyentuh lubuk hati Lenghou Tiong. Dalam saat demikian tiada istilah lain yang lebih cocok untuk mencerminkan apa yang dirasakannya sekarang ini. Seorang guru berbudi yang paling dihormati dan dikasihinya sekonyong-konyong telah terbuka kedoknya sehingga tertampak mukanya yang bengis menyeramkan, muka yang culas dan keji.

Sementara itu hari sudah gelap, di samping Hong-sian-tay itu tinggal orang-orang Hing-san-pay saja, yang lain-lain sudah pergi semua.

“Lenghou-toako, apakah kita juga akan turun ke bawah?” tanya Gi-ho.

“Bagaimana kalau kita bermalam saja di sini?” ujar Lenghou Tiong. Ia merasa akan lebih baik juga bisa menjauhi Gak Put-kun, maka tidak ingin bertemu muka dengan gurunya di markas Ko-san-pay.

Ternyata ucapan Lenghou Tiong sangat cocok dengan pikiran para murid Hing-san-pay, mereka sama bersorak menyatakan persetujuan. Soalnya mereka pun muak terhadap Gak Put-kun. Seperti diketahui, ketika di Kota Hokciu dahulu mereka pernah minta bantuan kepada Gak Put-kun ketika menerima berita Ting-sian Suthay sedang dikerubut musuh, namun Gak Put-kun telah menolak permintaan mereka tanpa mengingat hubungan baik sesama Ngo-gak-kiam-pay. Sekarang Lenghou Tiong dilukai pula oleh Gak Leng-sian, malah kedudukan ketua Ngo-gak-pay kena direbut oleh Gak Put-kun, sudah tentu mereka sangat mendongkol dan lebih suka bermalam di tempat terbuka, seperti di samping Hong-sian-tay itu, daripada mesti berkumpul dengan Gak Put-kun dan begundalnya.

Maka Gi-jing lantas berkata juga, “Lenghou-suheng terluka, memang paling baik kalau tinggal di sini saja daripada banyak bergerak. Hanya saja Toako ini….” sampai di sini matanya melirik ke arah Ing-ing.

“Dia bukan toako, tapi Yim-toasiocia,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

Sedari tadi Ing-ing masih terus memapah Lenghou Tiong. Ia menjadi malu karena mendadak Lenghou Tiong membongkar rahasia penyamarannya itu, cepat ia lepaskan tangan dan berbangkit.

Lantaran tidak berjaga-jaga, keruan tubuh Lenghou Tiong menjadi terhuyung ke belakang. Untung Gi-lim yang berdiri di sebelahnya lantas memegangi bahu kirinya sambil berseru, “Eh, hati-hati!”

Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain memang sudah mengetahui kisah cinta antara Ing-ing dan Lenghou Tiong yang mendalam dan lain daripada yang lain, yang satu pernah mendatangi Siau-lim-si, rela mengorbankan jiwa sendiri demi menyelamatkan jiwa kekasih, yang lain kemudian memimpin beribu-ribu orang Kang-ouw menyerbu Siau-lim-si untuk menolongnya, peristiwa itu pernah mengguncangkan seluruh dunia Kang-ouw dan diketahui oleh setiap orang bu-lim. Kini demi diketahui bahwa lelaki berewok di depan mereka ini ternyata Yim-toasiocia dari Tiau-yang-sin-kau yang termasyhur itu, banyak di antara mereka sampai berseru kaget tercampur girang.

Pada umumnya anak murid Hing-san-pay jarang berkelana di dunia Kang-ouw, maka mereka pun tidak banyak bermusuhan dengan Tiau-yang-sin-kau atau yang biasa disebut Mo-kau, apalagi dalam pandangan mereka Yim-toasiocia ini sudah mereka anggap sebagai calon istri sang ketua, tentu saja pertemuan mereka sekarang menjadi sangat menyenangkan.

Segera Gi-ho dan lain-lain mengeluarkan perbekalan sebangsa ransum kering dan air untuk dibagi-bagikan, habis makan mereka lantas merebahkan diri di samping Hong-sian-tay itu. Lenghou Tiong sendiri terluka, dengan sendirinya sangat lelah dan lemah badannya, maka tidak lama ia lantas terpulas.

Sampai tengah malam, tiba-tiba di kejauhan ada suara bentakan kaum wanita, “Siapa itu?”

Meski terluka parah, namun dengan lwekang yang tinggi segera Lenghou Tiong terjaga bangun. Dari suara tadi ia tahu anak murid Hing-san-pay yang dinas jaga sedang menegur kaum pendatang.

Maka terdengar seorang menjawab, “Sesama kawan Ngo-gak-pay, murid Gak-siansing dari Hoa-san.”

Ternyata suara Lim Peng-ci adanya.

“Ada urusan apa malam-malam datang ke sini?” tanya pula murid Hing-san-pay tadi

“Cayhe ada janji dengan orang untuk bertemu di bawah Hong-sian-tay, sebelumnya tidak tahu kalau para Suci beristirahat di sini, harap maaf kalau mengganggu,” jawab Peng-ci dengan sopan.

Pada saat itulah dari arah barat sana berkumandang suara seorang tua, “Bocah she Lim, kau telah menyiapkan teman Ngo-gak-pay kalian di sini, apakah kau ingin main kerubut dan mencari perkara padaku?”

Dengan jelas Lenghou Tiong dapat mengenali pembicara itu adalah Ih Jong-hay, itu ketua Jing-sia-pay yang berbadan pendek kecil itu. Ia rada terkejut dan membatin, “Lim-sute dan Ih Jong-hay telah mengikat permusuhan berhubung terbunuhnya kedua orang tuanya, sekarang mereka berjanji bertemu di sini tentu untuk membereskan persoalan utang darah ini.”

Maka terdengar Lim Peng-ci sedang menjawab teguran Ih Jong-hay tadi, “Sebelumnya aku tidak tahu kalau para Suci dari Hing-san-pay bermalam di sini. Biarlah kita mencari tempat lain saja agar tidak mengganggu ketenangan orang lain.”

“Hahahaha! Ketenangan orang lain sudah kau ganggu, tapi kau masih bicara muluk-muluk dan pura-pura baik hati. Dasar, ada bapak mertua begitu tentu juga ada menantu begini. Nah, apa yang akan kau katakan lekas dikeluarkan agar sama-sama bisa tidur nyenyak.”

“Hm, ingin tidur nyenyak? Jangan kau harapkan lagi selama hidupmu ini,” jengek Lim Peng-ci. “Orang-orang Jing-sia-pay kalian yang datang seluruhnya ada 24 orang termasuk kau, aku mengundang kalian datang semua ke sini, mengapa yang datang sekarang cuma tiga orang?”

“Hm, kau ini barang macam apa? Masakah kau berani suruh aku begini dan begitu?” jawab Ih Jong-hay dengan tertawa. “Aku cuma mengindahkan bapak mertuamu karena dia baru saja menjabat ketua Ngo-gak-pay, makanya aku mau penuhi undanganmu. Nah, kalau mau kentut lekas keluarkan, kalau mau berkelahi lekas lolos senjata, biar kulihat apakah Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim kalian sudah lebih maju atau tidak.”

Perlahan-lahan Lenghou Tiong bangkit berduduk, di bawah sinar bulan yang remang-remang dilihatnya Peng-ci berdiri berhadapan dengan Ih Jong-hay dalam jarak beberapa meter jauhnya. Ia masih ingat Lim Peng-ci pernah menolongnya ketika ketua Jing-sia-pay itu hendak menghantamnya di Kota Heng-san selagi dia terluka parah, kalau pukulan Ih Jong-hay dahulu itu kena, tidak mungkin dirinya sanggup hidup sampai sekarang. Sekarang Lim-sute itu menantang Ih Jong-hay ke sini, mungkin sekali Suhu dan Sunio akan segera datang untuk membantunya. Kalau Suhu dan Sunio tidak datang dengan sendirinya aku tak bisa tinggal diam. Demikian pikir Lenghou Tiong.

Dalam pada itu terdengar Ih Jong-hay sedang mengolok-olok, “Hm, kalau kau berani seharusnya kau datang seorang diri untuk menuntut balas padaku di Jing-sia-san, cara beginilah baru terhitung perbuatan seorang laki-laki sejati, tapi sekarang kau menantang aku ke sini, sebaliknya secara licik menyiapkan serombongan kaum nikoh di sini untuk mengeroyok aku. Huh, sungguh tidak tahu malu. Benar-benar menggelikan.”

Gi-ho tidak tahan karena pihaknya disinggung-singgung, segera ia berseru, “Persetan dengan urusan kalian, kalau kalian mau berkelahi hingga mampus semua juga Hing-san-pay kami takkan ambil pusing. Hm, kau tojin pendek ini sebaiknya jangan ngaco-belo, kalau memang takut boleh lekas lari saja, tapi Hing-san-pay kami jangan diikutcampurkan.”

Ia tidak tahu dahulu Lim Peng-ci pernah menyelamatkan nyawa Lenghou Tiong, soalnya ia tidak suka kepada Gak Leng-sian dan dengan sendirinya juga jemu terhadap suami Leng-sian.

Ih Jong-hay sendiri mempunyai hubungan yang cukup rapat dengan Co Leng-tan, kehadirannya ke Ko-san sekarang juga atas undangan Co Leng-tan untuk memperkuat barisannya. Ketika sampai di Ko-san dalam dugaan Ih Jong-hay tentulah Co Leng-tan yang akan menduduki jabatan ketua Ngo-gak-pay, sebab itulah ia tidak menaruh perhatian terhadap orang Hoa-san-pay yang memusuhinya. Siapa duga akhirnya jabatan ketua Ngo-gak-pay kena direbut Gak Put-kun, ia menjadi kecewa dan malam-malam bermaksud meninggalkan Ko-san.

Tapi waktu turun dari puncak Ko-san itu, tiba-tiba Lim Peng-ci menghampirinya, dengan suara perlahan pemuda itu mengajaknya mengadakan pertemuan di pelataran Hong-sian-tay. Meski Peng-ci bicara dengan suara perlahan, namun sikapnya angkuh dan kasar sehingga Ih Jong-hay sangat mendongkol dan terima baik tantangannya.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetano/)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: