Hina Kelana: Bab 116. Co Leng-tan Melawan Gak Put-kun

“Hm, jika dalam tiga jurus bahkan kau dapat mengalahkan orang she Co, tentu kau lebih-lebih disayang ayahmu bukan?” jengek pula Co Leng-tan.

“Ilmu pedang Co-supek mahasakti, masakah aku berani mimpi mengalahkan Co-supek apa segala,” kata Leng-sian. “Hanya saja aku ingin coba-coba bertahan sampai 13 jurus, entah bisa terkabul tidak harapanku ini.”

Mendongkol sekali hati Co Leng-tan, pikirnya, “Jangankan 13 jurus, asal kau mampu menahan tiga jurus saja sudah terhitung hebat.”

Tanpa berkata lagi segera ia gunakan tiga jari tangan kiri untuk memegang ujung pedangnya, tangan kanan lantas lepas sehingga pedang menegak, gagang pedang di depan, lalu katanya, “Mulailah!

Cara Co Leng-tan memegang senjatanya ini benar-benar menggemparkan para penonton, Bahwa menggunakan pedang dengan tangan kiri saja luar biasa, apalagi dia hanya memegangi ujung pedang dengan tiga jari, gagang pedang yang digunakan menghadapi musuh.

Leng-sian juga terkesiap, ia tidak tahu kepandaian apa yang akan dikeluarkan Co Leng-tan, betapa pun wibawa Co Leng-tan memang angker, mau tak mau timbul juga rasa jeri pada hati Leng-sian, tapi urusan sudah sejauh ini, buat apa takut lagi?

Sekilas Leng-sian melirik ke arah murid-murid Hing-san-pay, kelihatan mereka masih sibuk dan merubung di sana, namun tiada suara tangisan, dapat diduga luka Lenghou Tiong meski parah agaknya tidak membahayakan jiwanya. Maka rada legalah hatinya. Segera ia angkat pedang dan membungkuk tubuh dengan gaya “Ban-gak-tiau-cong” (Berlaksa Gunung Menghadap Pusat), yakni suatu jurus Ko-san-kiam-hoat yang murni.

Jurus pembukaan ini mengandung arti menghormat, maka gemparlah anak murid Ko-san-pay, tapi merasa puas juga atas sikap Leng-sian itu.

Co Leng-tan manggut perlahan, katanya di dalam hati, “Ternyata kau pun bisa memainkan jurus ini, mengingat sikap hormatmu ini biarlah aku takkan membikin malu kau di depan orang banyak.”

Setelah jurus pembukaan tadi, segera Leng-sian melancarkan serangan, pedangnya berkelebat terus menusuk.

Co Leng-tan terkejut oleh kecepatan dan cara menyerang Leng-sian itu. Ia heran dari mana putri Gak Put-kun ini mempelajari ilmu pedang Ko-san-pay yang indah ini. Sebagai seorang guru besar Ko-san-pay, dengan sendirinya ingin tahu lebih mendalam setiap jurus ilmu silat aliran sendiri yang hebat. Ia lihat tusukan Leng-sian itu tidak membawa tenaga dalam yang terlalu kuat, asal sudah dekat dan menyelentiknya dengan jari tentu pedang lawan itu akan terpental. Maka ia sengaja membiarkan tusukan Leng-sian itu lebih mendekat untuk melihat bagaimana perubahan berikutnya.

Ternyata sebelum mencapai sasarannya, mendadak Leng-sian menarik kembali pedangnya, orangnya menggeser ke samping, pedangnya membalik terus menebas ke bahu kiri Co Leng-tan. Kembali suatu gerak serangan yang indah yang membuat Co Leng-tan terkejut heran dan kegirangan pula karena dapat menyaksikan ilmu pedang aliran sendiri yang belum pernah dilihatnya.

Sejak umur belasan Co Leng-tan sudah mempelajari ilmu pedang Ko-san-pay dengan tekun sekali, setelah mewarisi jabatan ketua Ko-san, banyak pula dia mengembangkan ilmu pedang Ko-san-pay yang belum pernah dikerjakan oleh leluhur Ko-san-pay, maka dia boleh dikatakan tokoh Ko-san-pay yang paling berjasa dalam mengembangkan ilmu silat golongannya. Akan tetapi kini ilmu pedang Ko-san-pay yang dimainkan Leng-sian itu adalah hasil tiruannya dari ukiran di dinding gua Hoa-san, betapa pun tinggi ilmu pedang yang diyakinkan Co Leng-tan toh masih kalah hebat daripada apa yang dimainkan Leng-sian sekarang. Karena itu Co Leng-tan menjadi kegirangan dan sangat tertarik untuk mengikutinya lebih lanjut.

Bila lawan Co Leng-tan adalah Hong-ting Taysu atau Tiong-hi Tojin yang lihai, tentu dia tidak punya kesempatan untuk menilai dan mengikuti gerak serangan lawan. Tapi sekarang tenaga dalam Leng-sian masih jauh lebih rendah kalau dibandingkan Co Leng-tan, pada detik berbahaya bila perlu dia masih sanggup menggetar jatuh pedang lawan itu, maka ia tidak mengkhawatirkan akibatnya dan dapat memusatkan perhatian untuk mengikuti setiap gerak serangan pedang Gak Leng-sian.

Para penonton menjadi heran juga menyaksikan cara bertanding mereka itu. Setiap kali Leng-sian selalu menarik kembali serangannya sebelum mencapai sasarannya, seperti sengaja mengalah dan seperti juga merasa jeri. Sebaliknya Co Leng-tan tidak ambil pusing terhadap serangan yang tiba, air mukanya sebentar heran sebentar girang seperti orang linglung. Pertandingan demikian benar-benar jarang terjadi.

Tapi lantaran ilmu pedang Gak Leng-sian ini hanya tiruan dari gambar yang dilihatnya di dinding gua itu, biarpun mengandung intisari yang mendalam, namun Leng-sian tidak mampu mengembangkannya dengan baik sehingga gayanya tetap begitu-begitu saja. Ko-san-kiam-hoat yang terukir di dinding gua itu hanya meliputi tiga belas jurus, setelah 13 jurus selesai dimainkan, bila perlu terpaksa ia harus mengulangi dari semula.

Sampai di sini pikiran Co Leng-tan tergerak, apakah mesti melihat lebih jauh ilmu pedang lawannya atau bikin pedang lawan tergetar lepas dari cekalan? Kedua hal ini terlalu gampang baginya. Kalau mau melihat lebih lanjut, betapa pun tinggi kepandaian Gak Leng-sian toh tidak mampu mencelakainya. Sebaliknya kalau mau menggetar lepas pedang lawan juga tidak sukar baginya. Namun untuk memilih satu di antara dua inilah yang sulit.

Dalam sekejap macam-macam pikiran sudah terlintas dalam benaknya, “Ko-san-kiam-hoat yang dia mainkan ini sangat aneh dan bagus, sesudah ini mungkin tiada kesempatan buat melihatnya lagi. Untuk membunuh anak perempuan ini adalah terlalu gampang, tapi mencari ilmu pedangnya inilah yang sukar. Rasanya juga tidak mungkin aku minta-minta kepada Gak Put-kun untuk memperlihatkan Ko-san-kiam-hoat ini padaku. Sebaliknya kalau kubiarkan dia ulangi kembali permainannya akan menunjukkan pula ketidakmampuanku melawan seorang anak perempuan, lalu ke mana mukaku ini harus kutaruh? Ah, mungkin sudah lebih 13 jurus yang dijanjikan.”

Teringat pada 13 jurus, seketika hasratnya menjadi pemimpin Ngo-gak-pay mengalahkan pikiran-pikiran lain, segera ia putar pedangnya ke atas, terdengarlah benturan nyaring, pedang Leng-sian tergetar patah menjadi beberapa bagian dan jatuh ke tanah.

Leng-sian cepat melompat mundur, serunya nyaring, “Co-supek, sudah berapa jurus Ko-san-kiam-hoat yang kumainkan tadi?”

Co Leng-tan coba mengingat-ingat kembali jurus-jurus serangan Leng-sian tadi, lalu menjawab, “Ya, sudah kau mainkan 13 jurus. Sungguh hebat.”

Leng-sian memberi hormat, lalu berkata pula, “Terima kasih atas kemurahan Co-supek sehingga Titli mampu memainkan 13 jurus Ko-san-kiam-hoat dengan lancar.”

Bahwa Co Leng-tan dapat membikin pedang lawannya tergetar patah menjadi beberapa bagian memang luar biasa. Namun Leng-sian sudah bicara di muka bahwa dia akan memainkan 13 jurus Ko-san-kiam-hoat, bagi pandangan kebanyakan orang kalau dia sanggup bergebrak tiga jurus saja dengan Co Leng-tan, sudah terhitung hebat, jangankan 13 jurus. Tak terduga Co Leng-tan menjadi linglung sehingga tanpa terasa Leng-sian benar-benar dapat menyelesaikan 13 jurus serangannya.

Segera seorang tua dari Ko-san-pay tampil ke muka dan berseru, “Ilmu sakti Co-ciangbun telah kita saksikan bersama, bahkan beliau cukup bijaksana dan murah hati. Sebaliknya putri keluarga Gak ini baru memahami sedikit Ko-san-kiam-hoat kami lantas berani omong besar dan pamer di hadapan Co-ciangbun, namun apa jadinya? Akhirnya dia keok juga. Ini pun membuktikan bahwa ilmu silat mengutamakan kemahiran khusus, asalkan terlatih sempurna, ilmu silat dari aliran mana pun dapat menjagoi dunia persilatan….”

Sudah tentu para penonton sama cocok dengan ucapan orang tua ini, soalnya memang jarang yang mahir macam-macam ilmu silat kecuali ilmu silat dari perguruannya sendiri.

Maka terdengar orang tua tadi melanjutkan, “Rupanya Gak-toasiocia ini entah berhasil mengintip di mana dan memperoleh sedikit ilmu pedang dari golongan lain, lalu dia berani sesumbar di sini, katanya telah menguasai ilmu pedang dari Ngo-gak-kiam-pay. Padahal ilmu pedang dari aliran masing-masing mempunyai intisarinya sendiri-sendiri, kalau cuma paham sedikit kulitnya atau bulunya saja mana dapat dikatakan sudah mahir?”

Kembali para penonton mengangguk setuju dan sama berpikir Gak Put-kun harus bertanggung jawab karena telah melanggar pantangan besar orang persilatan, yaitu mengintip dan mencuri belajar ilmu silat golongan lain.

Melihat sebagian besar hadirin mendukung ucapannya, segera orang tua itu bicara lagi, “Maka dari itu, tentang jabatan ketua Ngo-gak-pay ini kukira tiada pilihan lain kecuali Co-ciangbun yang pantas mendudukinya. Dari sini juga terbukti bahwa meyakinkan ilmu silat dari suatu aliran yang khusus dengan sempurna jelas lebih baik dan lebih tinggi juga daripada manusia yang suka menganglap dan menyerobot macam-macam ilmu silat orang lain secara tidak sah.”

Kata-kata terakhir itu jelas ditujukan kepada Gak Put-kun, maka serentak beratus murid Ko-san-pay sama bersorak membenarkan.

“Nah, coba siapa lagi di antara anggota-anggota Ngo-gak-pay yang merasa kepandaiannya dapat melebihi Co-ciangbun boleh silakan maju untuk mengukur kekuatan masing-masing,” kata si orang tua pula. Tapi meski dia ulangi lagi tantangannya, tetap tiada jawaban.

Mestinya Tho-kok-lak-sian dapat mengoceh lagi, tapi saat itu Ing-ing lagi sibuk menolong Lenghou Tiong yang terluka parah, dia tidak sempat lagi memberi petunjuk-petunjuk kepada Tho-kok-lak-sian untuk mengadu mulut dengan pihak Ko-san-pay.

Lantaran tidak tahu apa yang harus dikatakan, Tho-kok-lak-sian juga saling pandang dengan bingung.

Maka orang tua itu lantas buka suara pula, “Kalau tiada seorang pun yang berani menantang Co-ciangbun, maka dengan sendirinya Co-ciangbun disilakan menjabat ketua Ngo-gak-pay kita sesuai dengan keinginan kita.”

Tapi Co Leng-tan pura-pura menolak, katanya, “Ah, masih banyak tokoh-tokoh Ngo-gak-pay yang lebih baik, Cayhe sendiri tidak sanggup menerima jabatan seberat ini.”

“Tugas sebagai ketua Ngo-gak-pay memang berat,” kata orang tua tadi, “tapi apa pun juga Co-ciangbun adalah pantas memimpin kita menuju hari depan yang bahagia. Maka sekarang juga silakan Co-ciangbun naik ke atas panggung untuk peresmian upacara.”

Maka bergemuruhlah suara genderang dan tambur disertai petasan yang riuh, rupanya semua ini telah disiapkan sebelumnya oleh anak murid Ko-san-pay. Menyusul orang-orang Ko-san-pay lantas bersorak-sorai, “Silakan Co-ciangbun naik panggung.”

Tanpa bicara lagi Co Leng-tan lantas melompat ke atas, dengan enteng ia tancapkan kakinya di atas Hong-sian-tay. Lalu ia memberi hormat kepada para hadirin di bawah panggung, katanya, “Atas penghargaan para kawan, akan kelihatan terlalu mementingkan diri sendiri jika Cayhe menolak lagi untuk memikul tanggung jawab yang berat ini.”

Beratus-ratus orang Ko-san-pay serentak bertepuk tangan pula memberi pujian.

Tapi mendadak suara seorang wanita berseru, “Co-supek, kau menggetar patah pedangku, apakah dengan demikian kau sudah terhitung ketua Ngo-gak-pay?”

Yang bicara ini bukan lain adalah Gak Leng-sian.

Co Leng-tan menjawab, “Bukankah semua orang tadi mendengar juga bahwa kita bertanding untuk berebut juara. Bila Gak-siocia yang menggetar patah pedangku, dengan sendirinya kita pun akan mengangkat Gak-siocia sebagai ketua Ngo-gak-pay.”

“Untuk mengalahkan Co-supek sudah tentu aku tidak mampu,” ujar Leng-sian. “Tapi di antara jago-jago Ngo-gak-pay kukira tidak mustahil masih cukup banyak orang yang dapat mengalahkan Co-supek.”

Padahal di antara tokoh-tokoh Ngo-gak-pay, yang paling ditakuti Co Leng-tan hanya Lenghou Tiong saja, sekarang Lenghou Tiong sudah terluka parah, hati Co Leng-tan sudah merasa lega. Maka segera ia menjawab, “Kalau menurut penilaian Gak-siocia, jago-jago yang mampu mengalahkan aku barangkali adalah suamimu, ibumu, atau ayahmu?”

Seketika orang-orang Ko-san-pay tertawa gemuruh pula, tertawa yang mengejek.

Gak Leng-sian menjawab dengan tenang, “Suamiku adalah angkatan muda, kepandaiannya mungkin masih selisih setingkat dengan Co-supek. Tapi ilmu pedang ibuku tentu dapat menandingi Co-supek dengan sama kuat. Mengenai ayahku, dengan sendirinya beliau lebih tinggi daripada Co-supek.”

Kembali suara riuh ramai timbul dari rombongan orang-orang Ko-san-pay, ada yang bersuit mengejek, ada yang berteriak marah.

Co Leng-tan lantas berpaling kepada Gak Put-kun dan berkata, “Gak-siansing, terhadap ilmu silatmu, agaknya putrimu sendiri amat sangat menghargaimu.”

“Ah, anak perempuan memang banyak omong,” sahut Gak Put-kun. “Harap Co-heng jangan anggap sungguh-sungguh. Tentang ilmu silat Cayhe memang ketinggalan jauh kalau dibandingkan Hong-ting Taysu dari Siau-lim-pay, Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay, serta tokoh-tokoh terkemuka yang lain.”

Air muka Co Leng-tan berubah seketika. Gak Put-kun hanya menyebut Hong-ting Taysu, Tiong-hi Totiang, dan lain-lain, tapi sama sekali tidak menyebut namanya Co Leng-tan, hal ini berarti ia menganggap kepandaian sendiri memang lebih tinggi daripada orang she Co.

Tapi orang tua Ko-san-pay tadi toh masih menegas, “Dan kalau dibandingkan Co-ciangbun kami kira-kira bagaimana?”

“Cayhe sudah cukup lama bersahabat dengan Co-heng dan saling menghargai,” jawab Gak Put-kun. “Selama ratusan tahun ilmu pedang Ko-san-pay dan Hoa-san-pay juga mempunyai ciri khas masing-masing dan belum pernah menentukan pihak mana yang lebih unggul. Maka pertanyaan Han-heng ini sungguh membikin Cayhe sukar menjawabnya.”

Kiranya orang tua itu she Han, dari nada bicaranya rupanya kedudukannya tidaklah rendah di dalam Ko-san-pay, hanya saja orang Kang-ouw tidak banyak yang mengenalnya.

Segera orang she Han itu berkata pula, “Dari nada ucapan Gak-siansing agaknya kau merasa kepandaianmu memang lebih kuat daripada Co-ciangbun kami?”

“Sebenarnya soal bertanding untuk menentukan siapa lebih unggul sejak dahulu kala sukar dihindarkan,” kata Gak Put-kun. “Sudah lama Cayhe memang punya maksud minta petunjuk kepada Co-heng. Cuma sekarang kita baru saja membangun Ngo-gak-pay, siapa ketuanya juga belum ditentukan, kalau Cayhe lantas bertanding dengan Co-heng tampaknya menjadi rada-rada tidak enak, sebab orang tentu akan mengatakan Cayhe sengaja hendak berebut menjadi ketua dengan Co-heng.”

“Tapi kalau Gak-heng memang benar dapat mengalahkan pedang di tanganku ini, maka jabatan ketua Ngo-gak-pay dengan sendirinya akan kuserahkan kepada Gak-heng,” kata Co Leng-tan.

“Ah, jangan bicara demikian, sebab orang yang berilmu silat tinggi belum tentu martabatnya juga tinggi,” ujar Gak Put-kun. “Biarpun Cayhe dapat mengalahkan Co-heng juga belum tentu sanggup mengalahkan tokoh-tokoh Ngo-gak-pay yang lain.”

Biar ucapannya sangat rendah hati, tapi setiap katanya ternyata tidak mau kalah, tetap anggap dirinya sendiri lebih tinggi setingkat daripada Co Leng-tan.

Keruan gusar Leng-tan tak terperikan, jawabnya dengan dingin, “Gak-heng punya gelar ‘Kun-cu-kiam’ (Pedang Kesatria) sudah termasyhur di seluruh jagat. Sampai di mana ‘kesatria’ Gak-heng kukira tidak perlu dijelaskan, tapi betapa pun pula nilai ‘pedang’ gelaranmu itu kukira tiada jeleknya diuji sekarang juga agar para hadirin dapat ikut menyaksikan.”

“Benar, benar! Tarung saja ke atas panggung!”

“Hayolah berhantam saja, buat apa melulu omong doang!”

“Bergebrak dulu dan urusan belakang!” demikian seru orang banyak.

Tapi Gak Put-kun tenang-tenang saja tanpa menjawab.

Di waktu merencanakan penggabungan Ngo-gak-kiam-pay sudah dalam perhitungan Co Leng-tan sampai di mana kepandaian tokoh-tokoh lawannya, ia yakin kepandaian dirinya cukup kuat untuk mengatasi ketua keempat aliran yang lain. Sebab itulah dengan giat dia mengusahakan terlaksananya penggabungan itu.

Tentang ilmu Gak Put-kun yang diandalkan, yaitu “Ci-he-sin-kang” memang juga diketahui oleh Co Leng-tan ketika terjadi pertarungan di Siau-lim-si dahulu, maka ia pun dapat mengukurnya bahwa dirinya masih sanggup mengatasi Gak Put-kun. Apalagi waktu di Siau-lim-si dahulu, ketika Gak Put-kun menendang Lenghou Tiong, tapi kaki sendiri berbalik tergetar patah, dari sini pun dapat diketahui lwekang ketua Hoa-san-pay itu pun cuma sekian saja. Sebab kalau orang yang memiliki lwekang dengan sempurna, sekalipun tidak dapat mencelakai lawan, tentu tidak pula mencelakai dirinya sendiri.

Karena perasaan yang mantap itu, pula melihat gelagatnya Gak Put-kun seperti tidak bermaksud naik panggung untuk bertanding dengan dia, keruan Co Leng-tan menjadi lebih takabur, pikirnya, “Gak Put-kun sangat licik, kalau sekarang aku tidak menaklukkan dia, kelak orang seperti dia tentu akan membahayakan Ngo-gak-pay yang kupimpin.”

Maka dengan nada menghina Co Leng-tan lantas berkata pula, “Gak-heng, para hadirin sama ingin melihat kepandaianmu, mengapa kau tidak memberi muka kepada orang banyak?”

“Jika demikian kata Co-heng, ya, apa boleh buat, terpaksa Cayhe menurut saja,” jawab Gak Put-kun. Maka selangkah demi selangkah ia naik ke atas Hong-sian-tay melalui undak-undakan batu. Padahal kalau mau sekali lompat saja dengan gampang ia dapat naik ke sana seperti apa yang dilakukan Co Leng-tan tadi.

Melihat bakal ada pertunjukan ramai, para hadirin sama bersorak gembira.

Setiba di atas panggung batu itu, Gak Put-kun memberi hormat, katanya, “Co-heng, kita sekarang sudah terhitung sesama perguruan, cuma para hadirin minta Siaute lemaskan otot, terpaksa kulakukan sebisanya. Kita hanya saling belajar, tidak perlu saling melukai, cukup asal sudah kena, lalu berhenti. Bagaimana pendapatmu?”

“Sudah tentu aku akan hati-hati dan berusaha sebisanya agar tidak melukai Gak-heng,” kata Co Leng-tan.

Serentak orang-orang Ko-san-pay sama berteriak mengejek, “Huh, belum dihajar sudah minta ampun, ada lebih baik mengaku kalah saja dan tak perlu bertanding.”

“Ya, kalau takut mampus, silakan lekas turun kembali saja.”

“Memangnya senjata tak bermata, begitu mulai bergebrak siapa berani tanggung takkan terluka atau binasa?”

Namun Gak Put-kun tersenyum-senyum saja, katanya lantang, “Senjata memang tidak bermata, memang sukar terjamin takkan terluka atau mati.”

Sampai di sini ia lantas berpaling kepada orang-orang Hoa-san-pay dan berseru, “Dengarkan para murid Hoa-san, aku hanya saling belajar saja dengan Co-suheng dan sekali-kali tiada punya permusuhan apa-apa, bila nanti secara kebetulan aku terbunuh oleh Co-suheng atau terluka parah, hal ini adalah salahku sendiri dan kalian tidak boleh dendam dan menuntut balas kepada Co-supek. Yang penting rasa persatuan Ngo-gak-pay kita harus tetap dipegang teguh.”

Gak Leng-sian dan lain-lain serentak mengiakan.

Hal ini rada di luar dugaan Co Leng-tan malah, katanya kemudian, “Gak-heng ternyata sangat bijaksana dan mengutamakan kepentingan Ngo-gak-pay kita, sungguh sangat baik.”

“Peleburan kelima aliran kita adalah urusan penting yang mahasulit,” kata Put-kun dengan tersenyum. “Kalau sekarang disebabkan persoalan kita berdua sehingga terjadi pertengkaran sendiri di antara sesama anggota Ngo-gak-pay, maka jelas telah mengingkari asas tujuan penggabungan kelima aliran kita.”

“Ya, memang tidak salah,” kata Co Leng-tan. Di dalam hati ia terpikir bahwa Gak Put-kun sudah jeri padanya, maka sebentar harus ditaklukkannya untuk menegakkan wibawa.

Dengan penuh keyakinan, segera Co Leng-tan melolos pedangnya, “creeng”, suaranya nyaring melengking panjang. Kiranya dia sengaja menggunakan tenaga dalam untuk mencabut keluar pedangnya, batang pedang bergesek dengan sarungnya dan mengeluarkan suara nyaring. Penonton yang tidak tahu sebab musababnya sama melongo kaget. Sebaliknya orang-orang Ko-san-pay kembali bersorak memberi pujian.

Dalam pada itu Gak Put-kun juga lantas mengeluarkan pedangnya, namun caranya berbeda. Dengan perlahan-lahan ia menanggalkan pedang dan sarungnya yang menggantung di pinggangnya, lalu ditaruh pada pojok panggung, dari situ baru perlahan-lahan ia lolos keluar pedangnya.

Melulu dari cara mencabut pedang masing-masing sudah kentara pihak mana lebih kuat dan pertandingan ini sebenarnya sudah jelas pihak mana yang lebih unggul.

Sementara itu Lenghou Tiong yang terluka parah karena bahu kanan tertembus oleh pedang Gak Leng-sian tadi sedang dirubung-rubung anak murid Hing-san-pay untuk diberi pertolongan. Ing-ing tidak menghiraukan kedudukan sendiri lagi tadi, yang maju mencabut pedang Lenghou Tiong itu adalah dia serta memondongnya ke pinggir. Bersama-sama Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain mereka sibuk memberi obat luka yang paling mujarab dari Hing-san-pay.

Walaupun terluka parah, tapi pikiran Lenghou Tiong tetap jernih, ketika melihat kesibukan Ing-ing dan murid Hing-san-pay yang prihatin menghadapi keadaannya yang parah itu, diam-diam ia merasa menyesal, hanya karena ingin menyenangkan hati siausumoay, sebaliknya Ing-ing dan para murid Hing-san-pay harus dibikin cemas sedemikian. Sekuatnya ia coba tersenyum dan berkata, “Ah, sedikit kurang hati-hati, entah bagaimana telah di… dilukai oleh pedang ini. Kukira tidak… tidak apa-apa, tidak apa-apa, tak perlu….”

“Sssst, jangan bersuara,” kata Ing-ing.

Meski dia sengaja membuat suaranya sekasar-kasarnya supaya cocok dengan penyamarannya sebagai seorang laki-laki berewok, tapi sukar duga menutupi suara perempuan yang lembut. Keruan para murid Hing-san-pay sama terheran-heran mendengar suara seorang laki-laki berewok itu sedemikian aneh.

“Coba kulihat… kulihat….” kata Lenghou Tiong sambil memandang ke arah panggung.

Gi-jing mengiakan dan segera menarik minggir dua orang sumoaynya yang menghalangi penglihatan Lenghou Tiong. Saat itu Gak Leng-sian lagi bertanding melawan Co Leng-tan, apa yang terjadi kemudian dapat diikutinya dengan samar-samar karena keadaannya yang payah.

Ketika Gak Put-kun melolos pedang menghadapi Co Leng-tan, saat itu para penonton sama menahan napas menantikan terjadinya pertarungan dahsyat. Maka suasana di puncak Ko-san seketika menjadi sunyi senyap.

Sayup-sayup Lenghou Tiong mendengar suara orang membaca kitab Buddha dengan suara yang sangat lirih. Dari suaranya yang lembut dan doa yang penuh kesungguhan dan kekhidmatan Lenghou Tiong yakin yang sedang berdoa baginya itu pastilah Gi-lim.

Dahulu Gi-lim juga pernah membaca kitab dan berdoa baginya ketika di luar Kota Heng-san, waktu itu ia tidak berpaling untuk memandangnya, namun sorot mata Gi-lim yang mesra serta wajahnya yang cantik itu dengan jelas terbayang di depan matanya. Kini Lenghou Tiong duduk bersandar di atas badan Ing-ing yang lunak, telinganya mendengar suara berdoa Gi-lim, seketika timbul perasaan cintanya yang sukar dilukiskan. Pikirnya, “Tidak hanya Ing-ing, bahkan Gi-lim Sumoay juga sangat memerhatikan diriku. Bahkan mereka lebih mementingkan keselamatanku daripada jiwa mereka sendiri. Sekalipun badanku hancur lebur sukar juga rasanya untuk membalas budi kebaikan mereka.”

Dalam pada itu pertandingan di atas panggung sudah mulai bersiap-siap. Gak Put-kun melintangkan pedang di depan dada, tangan kirinya bergaya seperti pegang pensil hendak menulis. Co Leng-tan tahu ini adalah jurus Hoa-san-kiam-hoat yang disebut “Si-kiam-hwe-yu” (Menemui Sahabat dengan Syair dan Pedang), jurus ini adalah jurus pembukaan bilamana pihak Hoa-san-pay bertarung dengan teman sesama persilatan, jurus ini mengandung arti pertandingan ini hanya dilakukan secara persahabatan saja dan tidak perlu mengadu jiwa.

Co Leng-tan menampilkan senyuman puas, katanya, “Ah, tidak perlu sungkan-sungkan.”

Tapi dalam hati ia pun waswas, biarpun Gak Put-kun bergelar “Pedang Kesatria”, namun lebih banyak munafik daripada kesatria tulen, belum tentu dia benar-benar hendak bertanding secara bersahabat dengan aku, bisa jadi dia sudah jeri, tapi dia sengaja bersikap demikian agar aku tidak menaruh curiga apa-apa, kemudian dia lantas menggunakan serangan maut untuk merobohkan diriku. Demikian pikir Co Leng-tan.

Segera tangan kirinya terpentang ke samping, pedang di tangan kanan lantas menjurus ke depan, yang dia gunakan adalah jurus “Khay-bun-kian-san” (Buka Pintu Tampak Gunung) dari Ko-san-kiam-hoat. Jurus ini mengandung arti, kalau mau berkelahi silakan mulai saja dan tidak perlu pura-pura segala. Dengan jurus ini pun dia hendak menyindir secara halus kemunafikan pihak lawan.

Sudah tentu Gak Put-kun paham arti yang terkandung dalam jurus pembukaan Co Leng-tan itu. Segera pedangnya menjulur ke tengah, ujung pedang bergetar, tapi sampai di tengah jalan mendadak ujung pedang menyungkit ke atas, inilah jurus “Jing-san-in-in” (Gunung Menghijau Samar-samar), suatu jurus yang penuh perubahan-perubahan lihai.

Segera pedang Co Leng-tan membacok dari atas ke bawah dengan tenaga yang dahsyat. Banyak di antara para penonton sama bersuara kaget. Kiranya gerakan Co Leng-tan ini tidak terdapat dalam Ko-san-kiam-hoat, yang dia gunakan sesungguhnya adalah gaya ilmu pukulan yang digunakan atas pedang. Jurus ini disebut “Tok-pik-hoa-san” (Satu Kali Membelah Hoa-san), jurus pukulan ini sangat umum bagi setiap orang yang belajar ilmu silat pukulan. Selama ini pun semua orang tahu tiada terdapat jurus demikian dalam Ko-san-kiam-hoat, seumpama ada, mengingat nama Hoa-san-pay selayaknya mesti dihindarkan pemakaiannya. Tapi sekarang Co Leng-tan sengaja menggunakan pedang dan memainkan jurus serangan itu, terang dia bermaksud memancing kemarahan Gak Put-kun. Kalau marah tentu pula akan kurang cermat dalam pertarungan nanti.

Di luar dugaan Gak Put-kun tetap tenang-tenang saja, ia mengegos ke samping atas bacokan Co Leng-tan tadi, menyusul dari samping ia lantas batas menusuk dengan jurus “Ko-pek-sim-sim” (Cemara Tua Rindang Rimbun).

Melihat sikap Gak Put-kun yang tenang dan teratur itu, jelas orang telah merancangkan pertarungan jangka lama dengan dia, maka Co Leng-tan tidak berani gegabah lagi. Segera ia melancarkan serangan pula dengan lebih hati-hati.

Begitulah kedua tokoh itu telah bertarung dengan segenap kemahiran masing-masing dengan ilmu pedang dari aliran sendiri-sendiri. Begitu seru sehingga dalam sekejap saja kedua orang seakan-akan terbungkus rapat oleh sinar pedang. Meski Gak Put-kun belum ada tanda-tanda akan kalah, tapi di bawah serangan Co Leng-tan yang gencar, tampaknya Ko-san-kiam-hoat lebih banyak digunakan menyerang daripada untuk bertahan.

Sejak timbul cita-cita Co Leng-tan hendak melebur Ngo-gak-kiam-pay, lebih dulu ia telah merangkul tenaga-tenaga Hoa-san-pay dari sekte pedang seperti Seng Put-yu dan kawan-kawannya, mereka dihasut untuk memusuhi Gak Put-kun untuk mengurangi kekuatan Hoa-san-pay, di samping itu diam-diam ia menugaskan murid kepercayaannya untuk meneliti dengan cermat setiap jurus ilmu pedang Hoa-san-pay yang dimainkan Gak Put-kun dan kemudian dilaporkan kepadanya. Hasilnya Co Leng-tan memang banyak mengetahui titik kekuatan dan titik kelemahan Hoa-san-kiam-hoat. Maka pertandingan sekarang cukup membuatnya mantap, yakin pasti akan menang.

Kira-kira sudah dekat ratusan jurus kedua pihak masih sama kuatnya. Suatu ketika Co Leng-tan mendadak angkat pedangnya ke atas, menyusul tangan kiri terus menghantam ke depan, pukulan telapak tangan ini mengancam 36 tempat hiat-to di tubuh musuh bagian atas, kalau Gak Put-kun menghindar tentu juga akan terluka oleh pedang Co Leng-tan.

Di sini mulailah Gak Put-kun memperlihatkan kemampuannya. Air mukanya mendadak berubah gelap, merah keungu-unguan, ia pun menggunakan telapak tangan kiri untuk menyambut hantaman lawan. “Blang”, kedua tangan beradu. Gak Put-kun melompat pergi, sebaliknya Co Leng-tan berdiri tegak.

Melihat adu pukulan itu, Lenghou Tiong menjadi khawatir dan prihatin atas keselamatan Gak Put-kun. Ia tahu betapa lihai ilmu pukulan Co Leng-tan yang mahadingin itu, tempo hari Yim Ngo-heng saja termakan dan pernah membikin empat orang berubah menjadi manusia salju ketika penyakit dinginnya kumat akibat pukulan Co Leng-tan itu.

Namun Gak Put-kun ternyata sanggup bertahan, dengan tenang ia berseru, “Apakah ilmu pukulanmu ini ilmu silat murni dari Ko-san-pay?”

“Ini adalah ilmu pukulan ciptaanku sendiri, kelak akan kuajarkan kepada murid pilihan dalam Ngo-gak-pay kita,” jawab Co Leng-tan.

“Kiranya demikian, biarlah kuminta petunjuk beberapa jurus lebih banyak,” kata Gak Put-kun.

“Bagus,” sahut Co Leng-tan. Diam-diam ia mengakui juga kelihaian “Ci-he-sin-kang” yang dikuasai Gak Put-kun, buktinya sedikitnya ketua Hoa-san-pay itu tidak menggigil dingin, bahkan sanggup buka suara. Tapi ia yakin kalau Gak Put-kun berani menyambut beberapa jurus ilmu pukulannya yang mahadingin “Han-peng-sin-ciang” (Pukulan Sakti Sedingin Es) akhirnya pasti tak tahan dan akan menggigil.

Segera Co Leng-tan putar pedangnya terus menusuk, cepat Gak Put-kun menangkisnya. Beberapa jurus lagi, “blang”, kembali pukulan kedua orang beradu. Sekali ini Gak Put-kun tidak menghindar pergi, sebaliknya pedang terus menebas ke pinggang lawan malah.

Giliran Co Leng-tan yang menangkis dengan pedangnya, berbareng telapak tangan kiri terus menggaplok sekeras-kerasnya ke batok kepala lawan. Gaplokan dari atas ke bawah ini sungguh luar biasa dahsyatnya.

Tapi Gak Put-kun kembali angkat tangan kiri untuk memapaknya. “Plok”, untuk ketiga kalinya mereka beradu tangan. Sambil mendakkan tubuh Gak Put-kun terus melompat ke samping. Sedangkan Co Leng-tan lantas mencaci maki, “Bangsat! Tidak tahu malu!”

Nadanya sangat gusar dan penuh penasaran.

Sudah jelas para penonton menyaksikan Gak Put-kun kecundang, waktu melompat pergi tampaknya juga sempoyongan. Tapi mengapa Co Leng-tan mencaci makinya dengan gemas, hal ini sungguh membuat mereka bingung.

Kiranya pada adu tangan yang ketiga, mendadak tengah telapak tangan Co Leng-tan terasa sakit, sesudah Gak Put-kun melompat pergi, sekilas Co Leng-tan melihat telapak tangannya ada suatu lubang kecil dan mengeluarkan darah kehitam-hitaman.

Keruan Co Leng-tan terkejut dan murka, ia pikir tentu Gak Put-kun memasang jarum berbisa di tengah tangannya sehingga secara licik melukainya. Dari darah kehitam-hitaman yang keluar itu terang jarumnya berbisa. Sungguh tidak nyana tokoh yang bergelar “Pedang Kesatria” ternyata begitu rendah perbuatannya. Cepat ia menghirup hawa segar panjang-panjang, lalu menutuk tiga kali pada bahu kiri sendiri untuk menahan menjalarnya racun.

Sekarang ia tidak mau memberi angin lagi kepada Gak Put-kun, ia putar pedangnya yang melancarkan gerangan dengan lebih gencar.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: