Hina Kelana: Bab 115. Gak Leng-sian Menjagoi Gelanggang Pertandingan

Karena itu Giok-im-cu tidak berani sembarangan melakukan serangan maut, sebab takut kalau pihak lawan juga melakukan serangan mematikan. Lama-lama ia tambah khawatir dan berkeringat dingin.

Sementara itu ia sudah hampir selesai memainkan ilmu pedangnya, mendadak Leng-sian putar pedangnya dengan cepat, beruntun-runtun ia melancarkan lima kali serangan.

“Ngo-tay-hu-kiam!” seru Giok-seng-cu yang masih berdiri di samping.

Mendengar orang dapat menyebut nama jurus serangannya, sekonyong-konyong Leng-sian miringkan tubuhnya ke samping, pedang terus menusuk Giok-seng-cu sambil berseru, “Apakah ini pun ilmu pedang Thay-san-pay kalian?”

Cepat Giok-seng-cu menangkis dengan pedangnya sambil menjawab, “Mengapa bukan? Ini adalah jurus Lay-hong-jing-coan!”

“Bagus jika kau pun mengetahuinya!” seru Leng-sian.

“Sret”, pedangnya membalik dan menebas Giok-im-cu.

“Ini Sik-koan-hwe-ma!!” Giok-seng-cu menyebut pula nama jurus serangan Leng-sian.

“Hafal juga kau akan nama-nama ilmu pedang ini,” ujar Leng-sian. Berbareng pedangnya berkelebat, “sret-sret-sret”, tiga kali, kontan terdengar Giok-im-cu menjerit, dadanya telah tertusuk.

Giok-seng-cu juga tampak sempoyongan, akhirnya sebelah kaki tertekuk dan berlutut ke bawah, lekas-lekas ia menahan tubuhnya dengan batang pedang. Tapi terlalu keras ia menggunakan tenaga, ujung pedang menahan di atas sepotong batu pula, maka terdengar suara “pletak”, pedang patah menjadi dua. Terdengar mulut Giok-seng-cu sempat menggumam, “Gway-hoat-sam!”

Leng-sian tertawa dingin dan tidak menyerang lebih lanjut, ia simpan kembali pedangnya. Sementara itu para penonton sudah bersorak gemuruh. Sungguh luar biasa, seorang nyonya muda mengalahkan dua tokoh Thay-san-pay hanya dalam beberapa jurus, bahkan menggunakan ilmu pedang Thay-san-pay sendiri.

Co Leng-tan saling pandang dengan beberapa kawannya, mereka pun sama bersangsi dan heran. Yang dimainkan anak perempuan ini memang benar ilmu pedang Thay-san-pay yang hebat dan jarang terlihat. Walaupun permainannya tampak kurang murni, namun jurus-jurus serangan yang ganas dan terlatih itu pasti bukan hasil pemikiran anak perempuan ini, besar kemungkinan adalah hasil peyakinan Gak Put-kun. Padahal untuk meyakinkan ilmu pedang setinggi ini entah memerlukan waktu berapa lama. Dari sini dapat dibayangkan betapa jauh rencana dan maksud tujuan Gak Put-kun menghadapi persoalan ini.

Lenghou Tiong juga terkesiap dan bingung melihat cara Gak Leng-sian merobohkan lawan-lawannya itu. Tiba-tiba ada orang membisikinya dari belakang, “Lenghou-kongcu, apakah kau yang mengajarkan jurus-jurus itu kepada Nona Gak?”

Ketika berpaling, Lenghou Tiong melihat yang bicara itu adalah Dian Pek-kong. Maka ia menjawabnya dengan menggeleng.

“Dahulu ketika kau bergebrak dengan aku di puncak Hoa-san, aku masih ingat kau pun pernah menggunakan jurus Lay-ho… apa tadi, cuma waktu itu kau belum menguasai dengan baik,” kata Dian Pek-kong dengan tersenyum.

Lenghou Tiong tidak menjawabnya, ia sedang termenung-menung bingung. Begitu Gak Leng-sian mulai menyerang tadi segera ia dapat melihatnya bahwa apa yang dimainkan Leng-sian itu adalah ilmu pedang Thay-san-pay yang pernah dilihatnya di dalam gua di puncak Hoa-san dahulu. Padahal apa yang pernah dilihatnya itu tidak pernah diberitahukannya kepada orang lain, ketika meninggalkan gua itu ia pun ingat betul-betul telah menutup lubang gua dengan batu, lalu cara bagaimana Gak Leng-sian dapat menemukannya? Tapi lantas terpikir pula olehnya, kalau dirinya dapat menemukan gua itu, mengapa Leng-sian tidak dapat? Apalagi lubang gua itu tentu akan lebih memudahkan diketemukan oleh siausumoaynya.

Dalam pada itu tertampak seorang tua kurus maju ke tengah dan berkata, “Kiranya Gak-siansing telah mahir setiap ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay, sungguh suatu peristiwa besar yang belum pernah terjadi di dunia persilatan. Selama aku meyakinkan ilmu pedang aliran sendiri, ada beberapa tempat sulit yang belum kupecahkan, maka kebetulan hari ini dapat kuminta petunjuk-petunjuk kepada Gak-siansing.”

Habis berkata, dari rebab yang dipegang di tangan kiri itu diloloskan sebatang pedang pandak yang mengilap. Orang tua ini adalah Bok-taysiansing dari Heng-san-pay.

Dengan memberi hormat Gak Leng-sian lantas menanggapi, “Harap Bok-supek maklum, Titli (anak keponakan) hanya belajar beberapa jurus ilmu pedang Heng-san-pay yang tak berarti, mohon Bok-supek sudi memberi petunjuk-petunjuk seperlunya.”

Padahal Bok-taysiansing tadi mengatakan “hari ini kebetulan dapat minta petunjuk-petunjuk kepada Gak-siansing”, jadi yang ditantang adalah Gak Put-kun, siapa duga Gak Leng-sian yang lantas terima tantangannya itu, bahkan menyatakan akan menggunakan ilmu pedang Heng-san-pay malah.

Bok-taysiansing melengak, tapi lantas menjawab dengan tersenyum, “Wah, bagus, bagus! Hebat, hebat!”

Habis itu pedangnya yang pendek itu perlahan-lahan menjulur ke depan, sekonyong-konyong ia menyendal sedikit pedangnya dan seketika menerbitkan suara mendengung. Menyusul mana pedangnya lantas bergerak dan berbunyi “ngung-ngung” dua kali.

Cepat Leng-sian menangkis. Namun pedang Bok-taysiansing itu berkelebat secepat kilat, tahu-tahu ia pun sudah mengitar ke belakang Leng-sian. Lekas-lekas Leng-sian memutar tubuh, terdengar suara mendengung lagi dua kali, maka tertampaklah secomot rambut melayang jatuh ke tanah. Ternyata rambut sendiri telah kena dikupas sepotong oleh Bok-taysiansing.

Keruan Leng-sian terkejut. Tapi cepat ia dapat berpikir bahwa Bok-taysiansing tidak bermaksud mencelakainya, kalau mau tentu serangan tadi sudah membinasakannya. Kalau lawan tak mau mencelakainya, tentu saja kebetulan baginya. Segera Leng-sian melancarkan serangan dua kali ke atas dan ke bawah tanpa menghiraukan lagi serangan lawan.

Bok-taysiansing terkesiap juga oleh serangan Leng-sian itu. Dua jurus serangan itu memang betul gaya ilmu pedang Heng-san-pay yang lihai. Ia heran dari mana anak perempuan ini dapat mempelajarinya?

Namun sedikit pun ia tidak ayal, pedangnya bergerak dengan cepat untuk bertahan, tapi lama-lama ia pun kewalahan. Maklum, Leng-sian sudah ambil keputusan hanya menyerang tanpa menghiraukan diserang. Ia mengetahui Bok-taysiansing takkan mencelakainya, maka yang diutamakan hanya melancarkan serangan dengan jurus-jurus yang lihai. Sebaliknya Bok-taysiansing mau tak mau harus meladeni serangan Leng-sian, dan karena harus meladeni, sukarlah baginya untuk melepaskan diri.

Pedang kedua orang berkelebat sama cepatnya, terdengar suara “crang-creng” berulang-ulang, para penonton sampai tidak tahu siapa yang menyerang dan siapa yang bertahan, tak tahu pula berapa jurus pertarungan kedua orang itu sudah berlangsung.

Sampai pada puncaknya, dengan susah payah Bok-taysiansing dapat menangkis suatu jurus serangan Leng-sian, tapi terpaksa harus melompat mundur oleh serangan lain yang disebut “Thian-cu-in-gi” (Awan Mengelilingi Pilar), Bok-taysiansing menyadari tidak mampu menangkis serangan lihai ini, terpaksa ia melompat ke samping sambil putar pedangnya secepat kilat, padahal pedangnya sama sekali tidak sanggup buat balas menyerang, tujuannya hanya untuk mengaburkan pandangan penonton dan untuk menutupi keadaan sendiri yang konyol itu.

Dalam keadaan demikian terdengar Leng-sian tertawa dan berkata, “Ah, terima kasih atas kesudian Bok-supek mengalah kepada Titli!”

Maka jelaslah hasil pertarungan yang telah berlangsung itu, betapa pun Bok-taysiansing harus mengakui keunggulan lawan.

Tapi dasarnya Leng-sian memang kurang pengalaman, ia menjadi ragu-ragu dan merandek, tidak bicara juga tidak melancarkan serangan susulan. Sebagai seorang yang kenyang asam garam dunia Kang-ouw, tentu saja Bok-taysiansing tidak sia-siakan kesempatan baik itu, segera pedangnya bergerak pula dan menerbitkan suara mendengung, kembali menubruk maju.

Beberapa serangan kilat ini menggunakan segenap kekuatan Bok-taysiansing yang diyakinkan selama ini, dalam sekejap saja Leng-sian sudah terbungkus di dalam sinar pedangnya.

Leng-sian berseru khawatir sambil mundur beberapa langkah. Tapi Bok-taysiansing tidak mau mengulangi kesalahannya tadi, ia tidak mau memberi kesempatan lagi kepada lawannya untuk balas menyerang. Makin lama makin cepat pedangnya menyambar, sekalipun jago kelas wahid juga sukar melihat jelas arah serangannya. Karena itu para penonton menjadi berkhawatir bagi Leng-sian, ada pula yang gegetun akan kehebatan ilmu pedang Bok-taysiansing.

Dalam pada itu Lenghou Tiong masih termenung-menung terhadap jurus-jurus serangan Leng-sian tadi. Ia tidak habis paham, mengapa siausumoaynya itu mahir menggunakan ilmu silat yang terukir di dinding gua itu, apakah memang benar gua itu telah ditemukan olehnya?

Sedang melamun, seorang laki-laki berewok mendekatinya serta menegurnya perlahan, “Apa yang lagi kau pikirkan?”

“O, aku… aku….” Lenghou Tiong tersentak kaget dari lamunannya.

Pada saat itulah terdengar jeritan Leng-sian, pedangnya mencelat ke udara, sebelah kakinya terpeleset dan jatuh terduduk.

Ujung pedang Bok-taysiansing tampak mengarah ke bahu kanan Leng-sian sambil berkata, “Jangan khawatir Titli yang baik, silakan bangun!”

Tapi mendadak terdengar suara “pletak” satu kali, pedang Bok-taysiansing itu patah bagian tengah. Kiranya Leng-sian telah jemput dua potong batu, pedang Bok-taysiansing ditimpuk dengan batu yang satu sehingga patah, menyusul batu yang lain terus disambitkan ke samping.

Dalam keadaan senjata patah, Bok-taysiansing melengak kaget dan bingung pula melihat Leng-sian menyambitkan batunya ke arah lain. Tak terduga mendadak iganya lantas kesakitan, rupanya batu yang disambitkan ke samping itu mendadak memutar balik dan tepat mengenai tulang iga sehingga patah tulang. Kontan darah tersembur dari mulutnya.

Beberapa kali serang-menyerang ini sungguh berubah dengan sangat cepat, Leng-sian terjatuh, batu melayang, pedang patah, menyusul Bok-taysiansing muntah darah, para penonton sampai melongo karena kejadian-kejadian itu teramat cepat untuk diikuti. Menyusul tertampak sinar pedang berkelebat, pedang Leng-sian yang mencelat ke atas tadi telah jatuh dan menancap di samping Bok-taysiansing dan hampir-hampir menancap tubuhnya

Para penonton telah menyaksikan dengan jelas bahwa setelah Bok-taysiansing menjatuhkan Leng-sian, ia tidak melancarkan serangan habis-habisan melainkan menyuruh Leng-sian jangan takut dan disilakan bangun. Hal ini menang lazim sebagai orang tua yang telah mengalahkan lawan yang lebih muda. Akan tetapi serangan Leng-sian dengan dua potong batu dan kontan membuat lawan tak berkutik dan terluka parah itulah yang benar-benar sukar diduga dan susah dielak.

Hanya Lenghou Tiong saja yang tahu bahwa kedua jurus serangan Leng-sian yang terakhir itu pun diperoleh dari ilmu silat yang terukir di dinding gua Hoa-san itu. Menurut ukiran itu, ketika tokoh Mo-kau mematahkan ilmu pedang Heng-san-pay dahulu, yang digunakan adalah sepasang bandul tembaga dan bukan batu. Cuma sekarang Leng-sian telah menggunakan batu sebagai pengganti bandul.

Tiba-tiba Gak Put-kun mendekati Leng-sian dan menampar mukanya sekali sambil membentak, “Kurang ajar! Jelas Bok-supek sengaja mengalah padamu, mengapa kau berani berbuat kasar kepada beliau?”

Lalu ia memapah Bok-taysiansing ke pinggir dan berkata, “Bok-heng, harap maafkan anak perempuan yang tidak kenal adat itu, sungguh aku sangat menyesal.”

“Benar-benar harimau tidak melahirkan anak anjing, sungguh luar biasa,” ujar Bok-taysiansing dengan meringis. Habis berkata kembali darah tersembur dari mulutnya. Cepat dua anak murid Heng-san-pay berlari mendekatinya dan memayangnya ke tengah rombongannya.

Dengan mata melotot Gak Put-kun mendelik anak perempuannya, lalu mengundurkan diri.

Melihat pipi Leng-sian yang merah terkena tamparan sang ayah, air mata pun meleleh, tapi sikapnya rada bandel, Lenghou Tiong menjadi teringat kepada masa dahulu, bila terkadang Leng-sian nakal dan diomeli ayah-ibunya, sering kali Leng-sian memperlihatkan sikap yang sama seperti sekarang ini. Lalu untuk menyenangkan hati sang sumoay, sering kali Lenghou Tiong ajak bertanding pedang sang sumoay. Hal yang paling menyenangkan hati siausumoaynya itu tak lebih daripada menang bertanding. Maka Lenghou Tiong sengaja pura-pura kalah.

Berpikir sampai di sini, kembali teringat olehnya cara bagaimana Leng-sian bisa mendatangi gua rahasia itu? Besar kemungkinan sesudah menikah, karena kangen kepada hubungan baiknya dengan aku di waktu yang lampau, lalu dia sengaja naik ke puncak itu untuk mengenangkan pengalaman-pengalaman di waktu lalu, dan karena itu dia dapat menemukan gua itu.

Ia menoleh dan memandang sekejap ke arah Lim Peng-ci, lalu pikirnya pula, “Lim-sute baru menikah dengan Siausumoay, sepantasnya dia gembira ria. Tapi mengapa tampaknya dia muram durja? Sebagai suami ia pun tidak menunjukkan perhatiannya terhadap sang istri ketika Leng-sian dihajar oleh ayahnya tadi. Sungguh keterlaluan sikap dinginnya itu.”

Berpikir bahwa mungkin terkenang padanya sehingga Leng-sian naik ke puncak Su-ko-keh untuk mengenangkan masa lampau, walaupun hal ini hanya dugaan sendiri, tapi dalam benak Lenghou Tiong sudah timbul bayangan Leng-sian yang sedang menangis sedih dengan penuh penyesalan telah salah menikahi Lim Peng-ci.

Ketika berpaling lagi, dilihatnya Leng-sian sedang menjemput kembali pedangnya dengan air mata bercucuran.

Mendadak darah bergolak di rongga dada Lenghou Tiong, pikirnya, “Aku akan meledek dia sehingga dari menangis menjadi tertawa.”

Dalam pandangan Lenghou Tiong sekarang panggung Hong-sian-tay di puncak Ko-san ini telah berubah menjadi Giok-li-hong di Hoa-san, beribu-ribu hadirin itu dianggapnya seperti pepohonan belaka, yang dia pikirkan melulu sang jantung hati yang sedang menangis sedih lantaran dihajar ayahnya. Selama hidupnya entah sudah berapa kali ia membujuk dan melucu sehingga sang jantung hati terhibur, lalu tertawa. Mana boleh sekarang dia tinggal diam?

Karena itu tanpa pikir ia terus melangkah maju dan berseru, “Siau… Siau….” tiba-tiba teringat olehnya bahwa agar bisa menyenangkan hati sang jantung hati harus bertanding sungguh-sungguh untuk kemudian barulah mengalah, maka dengan nada menantang ia berganti suara, “Kau telah mengalahkan ketua-ketua dari Thay-san-pay dan Heng-san-pay, sudah tentu ilmu pedangmu tidaklah sembarangan. Tapi Hing-san-pay kami tidak dapat terima, apakah kau pun sanggup menandingi aku dengan ilmu pedang Hing-san-pay?”

Perlahan-lahan Leng-sian angkat kepalanya dengan pedang terhunus, sahutnya, “Kau sendiri pun bukan asli Hing-san-pay, sekarang kau telah menjadi ketua Hing-san-pay, apakah kau pun sudah mahir ilmu pedang aliranmu?”

Sejak Lenghou Tiong diusir dari Hoa-san, sudah beberapa kali ia bertemu dengan Gak Leng-sian, tapi hanya sekali ini saja Leng-sian tidak menggunakan kata-kata pedas dan galak. Sekonyong-konyong timbul rasa gembira Lenghou Tiong, katanya dalam hati, “Aku harus berkelahi dengan teliti, supaya dia tidak tahu bahwa aku sengaja mengalah padanya.”

Maka jawabnya kemudian, “Bilang mahir, betapa pun aku tidak berani. Tapi sudah sekian lamanya aku berada di Hing-san, dengan sendirinya aku pun sudah cukup masak meyakinkan pedang Hing-san-pay. Sekarang kita harus sama-sama menggunakan ilmu pedang Hing-san-pay, kalau bukan ilmu pedang Hing-san-pay dianggap kalah. Bagaimana? Jadi?”

Bahwasanya ilmu pedang yang dikuasai Lenghou Tiong jauh lebih tinggi daripada Leng-sian cukup diketahui orang lain. Namun di dalam hati ia sudah ambil keputusan, bilamana nanti pertandingan sudah berjalan, pada akhirnya dia akan menggunakan Tokko-kiu-kiam untuk mengalahkan Leng-sian, dengan demikian kemenangannya akan dianggap batal dan berbalik dianggap kalah malah. Cara demikian tentu takkan menimbulkan sangsi orang lain bahwa cara kalahnya itu sengaja dibuat.

Ternyata Leng-sian lantas menjawab, “Baik, boleh kita mulai!”

Pedangnya berputar setengah lingkaran dan segera menusuk miring ke arah Lenghou Tiong.

Serentak terdengarlah jerit heran anak murid Hing-san-pay. Nyata mereka sangat kagum terhadap serangan Leng-sian itu. Ini pun membuktikan bahwa apa yang digunakan Leng-sian memang betul adalah ilmu pedang Hing-san-pay.

Kiranya memang tidak salah bahwa jurus serangan Leng-sian itu adalah jurus ilmu pedang yang pernah dipelajari Lenghou Tiong dari dinding gua Hoa-san itu, jurus serangan ini pun sudah diajarkan Lenghou Tiong kepada anak murid Hing-san-pay. Dari itu mereka lantas mengenali jurus serangan Gak Leng-sian itu.

Lantaran sudah cukup lama tinggal bersama anak murid Hing-san-pay, ilmu pedang yang pernah dimainkan tokoh-tokoh tertinggi Hing-san-pay seperti Ting-sian, Ting-cing, dan Ting-yat Suthay juga sudah sering dilihatnya dahulu, maka sekarang permainan ilmu pedang Lenghou Tiong dapat berjalan dengan lancar dan tidak malu sebagai ketua Hing-san-pay.

Padahal Lenghou Tiong telah mempelajari Tokko-kiu-kiam yang meliputi inti ilmu silat dari berbagai aliran. Ilmu pedang yang dia mainkan hanya gayanya saja memperlihatkan kemiripan dengan Hing-san-kiam-hoat, tapi sebenarnya setiap jurusnya rada berbeda daripada apa yang dimiliki Ting-sian Suthay dan lain-lain. Hal ini sukar diketahui orang luar, hanya Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain dapat melihat perbedaan itu.

Jadi ilmu pedang Hing-san-pay yang dimainkan Lenghou Tiong dan Gak Leng-sian sekarang sama-sama diperoleh dari ukiran di dalam gua rahasia di puncak Hoa-san itu. Cuma dasar ilmu pedang Lenghou Tiong jauh lebih kuat daripada Leng-sian, pula dia sudah sekian lamanya berdiam di Hing-san sehingga pengetahuannya tentang ilmu silat Hing-san-pay menjadi lebih luas pula. Maka begitu kedua orang mulai bergebrak, jika Lenghou Tiong tidak sengaja mengalah tentu dalam beberapa jurus saja Leng-sian sudah dikalahkan.

Begitulah kedua orang bergebrak dengan sangat cepat dan kencang, setelah lebih 30 jurus, Leng-sian harus mengulangi kembali jurus serangan yang dipelajarinya dari ukiran di dinding gua itu. Lenghou Tiong juga melayani dengan sama cepatnya, karena ilmu pedang kedua orang serupa, maka pertandingan berlangsung dengan sangat menarik.

Seorang penonton berkata dengan kagum, “Bahwasanya Lenghou Tiong dapat memainkan ilmu pedangnya sedemikian bagus adalah jamak karena dia memang ketua Hing-san-pay, tapi Nona Gak adalah orang Hoa-san-pay, mengapa ia pun mahir Hing-san-kiam-hoat?”

“Kau jangan lupa bahwa tadinya Lenghou Tiong adalah murid tertua Gak-siansing, maka jelas Gak-siansing sendiri yang telah mengajarkan ilmu pedang ini, kalau tidak masakan kedua muda-mudi ini dapat bertanding sedemikian seru?”

“Ya, kalau Gak-siansing sudah mahir ilmu pedang Hoa-san-pay, Thay-san-pay, Heng-san-pay, dan Hing-san-pay, maka ilmu pedang Ko-san-pay tentu juga mahir. Kuyakin jabatan ketua Ngo-gak-pay tak ada pilihan lain kecuali beliau yang menjabatnya,” kata seorang penonton lain pula.

“Ah, juga belum pasti,” sahut lagi seorang. “Ilmu pedang Co-ciangbun dari Ko-san pasti jauh lebih tinggi daripada Gak-siansing. Ilmu silat mengutamakan kualitas dan tidak mementingkan kuantitas. Sekalipun kau mampu memainkan segala macam ilmu silat di dunia ini, tapi kalau pengetahuanmu hanya beberapa jurus cakar kucing saja apa gunanya? Maka aku yakin Co-ciangbun melulu menggunakan Ko-san-kiam-hoat saja pasti sanggup mengalahkan ilmu pedang empat aliran yang dikuasai Gak-siansing.”

“Huh, dari mana kau mendapat tahu begitu jelas sehingga kau berani omong besar tanpa malu?” omel orang tadi dengan mendongkol.

“Omong besar tanpa malu apa? Jika kau berani, hayolah kita bertaruh 100 perak, aku bae Co-ciangbun dan kau pegang Gak-siansing,” jawab yang lain dengan aseran.

“Kenapa tidak berani?” teriak orang pertama. “Ini, seratus perak, kontan!”

“Jadi!” yang lain tak mau kalah. “Tidak perlu kontan, bayar belakang juga boleh.”

“Huh, nanti buka cek kosong!” ejek yang pertama.

“Cuh!” kawannya meludah sambil mencibir.

Dalam pada itu pertarungan kedua orang masih berlangsung dengan cepat. Melihat gerak tubuh Leng-sian yang indah, Lenghou Tiong menjadi teringat kepada keadaan masa dahulu di waktu mereka berdua latihan bersama. Tanpa terasa pikirannya melayang-layang, ketika Leng-sian menusuknya, segera ia balas menyerang. Tak tahunya jurus ini ternyata bukan Hing-san-kiam-hoat.

Leng-sian melengak, katanya dengan suara perlahan, “Jing-bwe-ji-tau!”

Menyusul ia pun balas suatu jurus, menebas ke dahi Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong juga melengak dan menggumam, “Liu-yap-su-bi!”

Jing-bwe-ji-tau (Mundu Hijau Laksana Kacang) dan Liu-yap-su-bi (Daun Liu Lentik Seperti Alis) adalah jurus-jurus dalam Tiong-leng-kiam-hoat, yakni ilmu pedang ciptaan Lenghou Tiong dan Gak Leng-sian. Nama ilmu pedang itu diambil dari singkatan nama masing-masing, yaitu tiong dan leng. Ilmu pedang ini sebenarnya tiada sesuatu yang istimewa, cuma dahulu telah mereka latih dengan sangat masak. Maka sekarang tanpa terasa telah dikeluarkannya bersama di hadapan orang banyak.

Hanya sekejap saja belasan jurus sudah berlangsung, bukan saja Lenghou Tiong merasa berada kembali di waktu latihan bersama di masa dahulu, bahkan Leng-sian juga melayang pikirannya dan lupa daratan bahwa dirinya sekarang sudah menjadi istri orang, yang terbayang olehnya hanya sang suheng yang cakap itu sedang berlatih bersama dengan dia.

Tiong-leng-kiam-hoat itu diciptakan mereka ketika kedua muda-mudi itu sedang tenggelam di tengah lautan asmara dahulu. Maka serang-menyerang dilakukan dengan asyik, satu dan lain sama isi-mengisi.

Tujuan Lenghou Tiong bertanding dengan Leng-sian adalah sengaja hendak mengalah untuk menghibur hati duka Leng-sian karena dihajar oleh ayahnya tadi. Sekarang melihat air muka Leng-sian semakin cerah, sorot matanya memperlihatkan perasaan gembira melayani serangan-serangannya, sungguh tidak terkatakan rasa senang Lenghou Tiong bahwa maksudnya telah tercapai. Dalam keadaan demikian sungguh ia berharap Tiong-leng-kiam-hoat mereka itu mencakup beribu-ribu jurus serangan yang tak habis-habis dimainkan sehingga dia akan dapat menghadapi sang sumoay yang sebenarnya sangat dicintainya itu untuk selama-lamanya.

Kembali dua-tiga puluh jurus telah lalu. Suatu ketika pedang Leng-sian menebas ke kaki kiri Lenghou Tiong. Cepat Lenghou Tiong angkat kakinya terus mendepak batang pedang lawan. Tapi Leng-sian segera tekan pedangnya ke bawah berbareng menebas telapak kaki.

Namun pedang Lenghou Tiong telah menusuk juga ke pinggang Leng-sian sehingga terpaksa ia putar pedangnya ke atas untuk menangkis. “Trang”, kedua pedang beradu sehingga sama-sama tergetar ke atas, berbareng kedua orang sama-sama menyorong pedang masing-masing ke depan untuk menusuk tenggorokan lawan dengan cepat luar biasa.

Menurut arah pedang masing-masing itu, jelas siapa pun sukar menghindarkan diri dan pasti akan gugur bersama. Tanpa terasa para penonton ikut menjerit khawatir. Tapi mendadak terdengar suara “cring” yang perlahan, ujung pedang masing-masing ternyata saling ketemu dan terbentur sehingga lelatu api meletik, batang pedang masing-masing sampai melengkung, menyusul kedua orang sama-sama tergetar dan melompat mundur dengan mengulum senyum mesra.

Sungguh di luar dugaan siapa pun juga bahwa akhirnya serangan maut masing-masing itu bisa saling bentur di tengah jalan. Hal ini biarpun beribu-ribu kali juga jarang terjadi satu kali. Tapi di saat menentukan antara hidup dan mati mereka berdua itu ternyata ujung pedang mereka bisa kebentur secara sedemikian tepat.

Orang lain tidak tahu bahwa benturan ujung pedang di tengah jalan itu mungkin teramat sulit terjadi, namun bagi mereka justru telah sengaja berlatih benturan demikian itu secara tak kenal capek dan entah sudah berlangsung berapa ribu kali latihan mereka dan akhirnya telah berhasil.

Tadinya Lenghou Tiong mengusulkan jurus itu, diberi nama “Ni-su-ngo-hoat” (Kau Mati Aku Hidup), tapi Leng-sian keberatan, mengapa kau mati dan aku hidup, katanya. Kan lebih baik “Tong-seng-kiong-si” (Sehidup dan Semati).

Begitulah selagi Leng-sian terbayang kepada peristiwa-peristiwa di masa dahulu, tiba-tiba di tengah penonton ada suara orang menjengek. Keruan ia terkejut sebab dapat dikenalnya suara jengekan itu dikeluarkan oleh Lim Peng-ci, suaminya. Seketika ia merasa cara bertempurnya dengan Lenghou Tiong itu memang tidak wajar. Segera ia angkat pedangnya dan menyerang pula dengan gaya yang indah. Ternyata yang digunakan sekarang adalah salah satu jurus “Giok-li-kiam” dari Hoa-san-pay.

Suara jengekan Peng-ci itu didengar juga oleh Lenghou Tiong. Akibat dari suara jengekan itu segera Leng-sian melancarkan jurus serangan tanpa kenal ampun, tidak lagi memperlihatkan sikap mesra sebagaimana menggunakan Tiong-leng-kiam-hoat tadi. Seketika hati Lenghou Tiong menjadi pilu, segala macam kejadian masa lampau terbayang semua di dalam benaknya.

Dalam keadaan pikiran kusut itu, tiba-tiba Leng-sian menyerang pula, tanpa pikir Lenghou Tiong cepat menyelentik, “creng”, dengan tepat batang pedang Leng-sian terjentik dan terlepas dari cekalan.

Setelah menyelentik barulah Lenghou Tiong sadar apa yang terjadi, diam-diam ia mengeluh atas tindakannya yang telanjur itu. Dilihatnya sikap Leng-sian yang cemas-cemas murung. Ia menjadi teringat pada waktu dirinya dihukum menyepi di puncak Su-ko-keh dahulu, ketika Leng-sian mengantar daharan padanya, si nona telah mengajak latihan ilmu pedang Giok-li-kiam-hoat yang baru saja dipelajarinya, ketika itu pun dia telah menyelentik pedang Leng-sian sehingga terpental dan jatuh ke jurang, lantaran kejadian itu Leng-sian menjadi marah dan tinggal pergi. Sejak itu timbullah ketegangan di antara mereka berdua. Tak terduga kejadian yang sama itu kini terulang kembali.

Kalau dahulu saja dia sudah dapat menyelentik sehingga pedang Leng-sian terpental, apalagi sekarang lwekangnya sudah jauh lebih tinggi, maka pedang Leng-sian yang mencelat ke udara tadi sampai sekian lamanya baru jatuh ke bawah.

Padahal tujuan Lenghou Tiong hanya ingin membikin senang hati siausumoaynya, sebaliknya sekarang dia malah menyelentik pedangnya hingga mencelat dan membuatnya malu di depan umum, sungguh perbuatan tidak patut.

Sekilas tertampak pedang Leng-sian itu sedang melayang ke bawah, tanpa pikir Lenghou Tiong terus mendoyongkan tubuhnya sambil berseru, “Hing-san-kiam-hoat yang bagus!”

Dengan gaya seperti berusaha mengelak, tapi sebenarnya tubuhnya sengaja disodorkan ke ujung pedang yang menyambar turun itu. Maka terdengarlah suara “cret” satu kali, pedang itu langsung menancap di belakang bahu kanannya. Kontan tubuh Lenghou Tiong tersungkur ke depan sehingga badannya seakan-akan terpaku di tanah oleh pedang Leng-sian.

Kejadian ini benar-benar terlalu mendadak sehingga para penonton menjerit kaget dan melongo.

Leng-sian juga terkejut dan berseru, “Toa… Toasuko, ken….” segera dilihatnya seorang laki-laki berewok berlari mendekati dan membangunkan Lenghou Tiong, pedang yang menancap di tubuhnya itu dicabut, lalu Lenghou Tiong dipondong ke sana.

Darah segar tampak mengucur deras dari luka di bahu Lenghou Tiong, belasan anak murid Hing-san-pay lantas memapak maju pula untuk memberi pertolongan dengan obat luka.

Karena tidak tahu bagaimana luka Lenghou Tiong itu, Leng-sian bermaksud mendekatinya untuk melihat. Tapi mendadak sinar pedang berkelebat, dua orang nikoh telah merintanginya sambil membentak, “Perempuan yang berhati keji!”

Leng-sian melengak dan mundur beberapa langkah, seketika ia pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Terdengarlah Gak Put-kun tertawa nyaring dan berseru, “Anak Sian, sungguh tidak sia-sia kau telah mengalahkan ketua dari tiga aliran dengan menggunakan ilmu pedang dari aliran masing-masing.”

Bahwasanya jurus terakhir yang digunakan Leng-sian itu apakah benar jurus ilmu pedang Hing-san-pay atau bukan, sebenarnya para penonton juga tidak tahu jelas. Yang pasti dan terbukti adalah Lenghou Tiong terluka oleh Leng-sian, hal ini tak bisa disangkal oleh siapa pun juga. Sebab itulah tiada seorang pun yang berani menanggapi ucapan Gak Put-kun itu.

Dengan perasaan bingung Leng-sian menjemput kembali pedangnya yang terbuang di tanah itu, melihat batang pedang penuh berlepotan darah, ia menjadi khawatirkan keselamatan jiwa Lenghou Tiong.

Dalam pada itu terdengar suara seorang yang keras lantang berseru, “Gak-siansing tidak cuma menguasai ilmu pedang Hoa-san-pay sendiri, bahkan ilmu pedang Thay-san-pay, Heng-san-pay, dan Hing-san-pay juga dikuasainya dengan sempurna, sungguh sangat mengagumkan dan harus dipuji. Maka jabatan ketua Ngo-gak-pay rasanya tiada pilihan lain daripada Gak-siansing sendiri yang harus mendudukinya.”

Pembicara ini adalah seorang tua berjenggot, ialah pangcu dari Kay-pang.

Sebagai suatu organisasi terbesar di dunia Kang-ouw, apa yang diucapkan Pangcu Kay-pang sudah tentu mempunyai nilai tertentu, maka tidak sembarangan orang berani menanggapinya.

Tiba-tiba seorang menjawab dengan suara dingin, “Nona Gak ternyata mahir ilmu pedang dari berbagai aliran, sungguh pantas dipuji. Kalau dapat mengalahkan pula diriku dengan Ko-san-kiam-hoat, maka tanpa syarat aku pun akan mendukung Gak-siansing sebagai ketua Ngo-gak-pay.”

Pembicara ini adalah Co Leng-tan. Sambil bicara ia terus maju ke tengah kalangan. Sekali tangan kiri menepuk sarung pedang, kontan pedangnya meloncat keluar dari sarungnya. Tertampak sinar pedang berkelebat, dengan tangan kanan Co Leng-tan telah pegang gagang pedangnya.

Sekali tepuk sarung pedang saja dapat membuat pedang meloncat keluar sendiri dari sarungnya, sungguh suatu gaya yang indah dan luar biasa pula tenaga dalamnya. Seketika anak murid Ko-san-pay sama bersorak, tidak kecuali pula sebagian hadirin juga berteriak memuji.

Maka terdengarlah Gak Leng-sian menjawab tantangan Co Leng-tan tadi, “Aku hanya main tiga belas jurus saja, dalam 13 jurus kalau tak bisa mengalahkan Co-supek….”

“Bagus, kalau dalam 13 jurus tak bisa memenggal kepalaku, lalu bagaimana?” Co Leng-tan menegas dengan gusar karena merasa terhina.

“Mana bisa aku menandingi Co-supek,” ujar Leng-sian. “Hanya 13 jurus ilmu pedang Ko-san-pay yang kupelajari dari ayah, maka aku ingin mencoba-cobanya dengan Co-supek.”

Co Leng-tan mendengus tanpa menjawab.

Lalu Leng-sian berkata pula, “Kata Ayah, meski ke-13 jurus Ko-san-kiam-hoat ini adalah jurus-jurus serangan paling hebat dari Ko-san-pay, tapi dalam permainanku mungkin cuma satu jurus saja pedangku sudah tergetar mencelat dari cekalan, apalagi mau mainkan pula jurus kedua.”

Kembali Co Leng-tan mendengus tanpa menanggapi.

“Sudah tentu aku tidak percaya,” demikian Leng-sian melanjutkan. “Kukatakan kepada Ayah, sekalipun Co-supek terhitung jago nomor satu Ko-san-pay, tapi dia belum terhitung jago nomor satu dari Ngo-gak-kiam-pay kita, betapa pun dia tidak mahir ilmu pedang dari kelima aliran kita seperti Ayah. Namun Ayah dengan rendah hati menyatakan kepandaian beliau juga belum dapat dikatakan mahir, kalau tidak percaya boleh coba kau menandingi ilmu pedang Co-supek-mu yang lihai itu, bila kau sanggup bergebrak tiga jurus saja dengan dia, maka kau terhitung anak perempuanku yang tersayang.”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bio Etanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: