Hina Kelana: Bab 114. Pertandingan yang Luar Biasa

Sementara itu keselamatan Giok-ki-cu laksana terletak di ujung tanduk, kalau Co Leng-tan harus mendesak mundur Tho-hoa-sian dan Tho-sit-sian, untuk itu sedikitnya harus lebih dari lima-enam jurus dan selama itu tentu tubuh Giok-ki-cu sudah dirobek-robek keempat orang.

Karena itu Co Leng-tan tidak panjang pikir lagi, pedangnya berputar secepat kilat. Terdengar Giok-ki-cu menjerit keras-keras dan terbanting ke tanah dengan kepala di bawah. Tho-kin-sian dan Tho-ki-sian masing-masing memegangi sebuah tangan kutung, sedangkan Tho-kan-sian memegangi sebuah kaki putus, hanya Tho-yap-sian saja yang memegangi sebelah kaki yang masih bergandengan dengan tubuh Giok-ki-cu.

Rupanya Co Leng-tan merasa tidak mampu memaksa Tho-kok-lak-sian melepas tangan dalam waktu sesingkat itu, terpaksa ia harus ambil tindakan tegas dengan mengutungi kedua tangan dan sebelah kaki Giok-ki-cu sehingga Tho-kok-lak-sian tak dapat merobeknya menjadi empat potong. Meski terpaksa harus korbankan anggota badan, namun sedikitnya jiwa Giok-ki-cu bisa diselamatkan, sebab Tho-kok-lak-sian pasti takkan mengganggu seorang yang sudah cacat.

Selesai melaksanakan tindakan kilat itu, sambil mendengus lalu Co Leng-tan undurkan diri ke pinggir.

“He, Co Leng-tan,” seru Tho-ki-sian, “kau telah memberi sogok emas dan perempuan kepada Giok-ki-cu dan mengharuskan dia menyokong kau menjadi ketua Ngo-gak-pay, kenapa sekarang kau berbalik mengutungi kaki dan tangannya, apakah kau bermaksud memusnahkan saksi hidup ya?”

“Haha, ia khawatir kita merobek Giok-ki-cu menjadi empat potong, makanya dia hendak menolongnya, nyata dia telah salah duga,” ujar Tho-yap-sian.

“Berlagak pintar sendiri, haha, sungguh lucu dan menggelikan,” kata Tho-sit-sian. “Kami pegang Giok-ki-cu dengan maksud berkelakar dengan dia, padahal hari bahagia berdirinya Ngo-gak-pay seperti sekarang ini masakah ada yang berani main membunuh orang segala?”

“Walaupun Giok-ki-cu berniat membunuh aku, tapi mengingat sesama anggota Ngo-gak-pay masakah kami tega membunuh ia?” sambung Tho-hoa-sian. “Kami hanya menakut-nakuti dia saja dengan melemparkan dia ke udara, lalu kami tangkap dia kembali. Sebaliknya Co Leng-tan ternyata bertindak secara begitu kejam dan sembrono, sungguh terlalu bebal.”

Dengan menyeret Giok-ki-cu yang sudah buntung itu Tho-yap-sian mendekati Co Leng-tan, Giok-ki-cu dilemparkannya ke depan Co Leng-tan, lalu Tho-yap-sian geleng-geleng kepala dan berkata, “Co Leng-tan, kau benar-benar terlalu kejam, orang baik-baik seperti Giok-ki-cu ini mengapa kau tega membuntungi kaki dan tangannya? Sekarang dia hanya punya satu kaki saja, lalu cara bagaimana dia akan hidup?”

Tentu saja Co Leng-tan sangat gemas, padahal kalau dia tadi tidak ambil tindakan tegas, tentu tubuh Giok-ki-cu sudah tersobek menjadi empat potong dan jiwanya sudah melayang, sekarang malahan dirinya yang dianggap kejam. Tapi untuk membela diri juga tiada dasarnya, terpaksa Co Leng-tan hanya mendengus dan tidak menjawab.

Melihat Co Leng-tan diam saja, segera Tho-kin-sian menyambung, “Kalau Co Leng-tan mau bunuh Giok-ki-cu mestinya sekali tebas kutungi saja kepalanya, tapi dia justru ingin menyiksanya dengan membuntungi tangan dan kakinya sehingga Giok-ki-cu tidak mati dan setengah hidup, caranya sungguh keji dan tak berbudi.”

“Memang, kita sama-sama anggota Ngo-gak-pay, ada persoalan apa pun dapat dirunding secara baik-baik, mengapa mesti pakai cara sekejam ini? Sedikit pun tidak punya rasa setia kawan,” ujar Tho-kan-sian.

“Kalian berenam terkenal suka menyobek badan orang, tindakan Co-ciangbun tadi justru bermaksud menyelamatkan jiwa Giok-ki Totiang, mengapa kalian memutarbalikkan persoalan?” seru seorang tua Ko-san-pay.

“Jelas sekali kami cuma berkelakar saja dengan Giok-ki-cu, kenapa Co Leng-tan salah sangka? Kenapa dia tidak dapat membedakan orang sedang berkelakar atau sungguh-sungguh hendak merobeknya? Sungguh bodoh Co Leng-tan!” seru Tho-ki-sian.

“Ya, seorang laki-laki sejati berani berbuat harus berani bertanggung jawab,” sambung Tho-yap-sian. “Co Leng-tan sudah membuntungi Giok-ki-cu harus berani mengakui perbuatannya, tapi dia sengaja pakai macam-macam alasan untuk menutupi maksud kejinya, sedikit pun tidak punya keberanian untuk bertanggung jawab, sungguh pengecut. Padahal setiap orang yang hadir di sini telah menyaksikan apa yang kau lakukan, masakah kau dapat menyangkal?”

“Manusia yang tak berbudi, tidak setia kawan, goblok lagi pengecut, apakah mungkin jabatan ketua Ngo-gak-pay kita boleh diduduki orang macam begini? Huh, Co Leng-tan, kau jangan mimpi muluk-muluk,” seru Tho-hoa-sian.

Padahal banyak di antara kesatria yang hadir cukup maklum akan maksud baik Co Leng-tan, kalau tadi dia tidak bertindak tentu jiwa Giok-ki-cu sudah melayang. Tapi karena apa yang dikatakan Tho-kok-lak-sian cukup berdasar, sukar juga bagi orang lain untuk mendebatnya.

Yang paling kenal watak Tho-kok-lak-sian adalah Lenghou Tiong, ia menjadi heran dari mana mendadak Tho-kok-lak-sian bisa bertambah pintar sehingga setiap katanya selalu tepat mengenai titik kelemahan Co Leng-tan? Padahal biasanya mereka berenam suka edan-edanan dan dungu, besar kemungkinan di belakang mereka berenam itu ada orang pintar yang memberi petunjuk-petunjuk.

Perlahan-lahan Lenghou Tiong lantas mendekati Tho-kok-lak-sian untuk memeriksa apakah di sekitar mereka ada orang pintar tersembunyi itu. Tapi dilihatnya Tho-kok-lak-sian berkumpul menjadi satu dan di sekeliling mereka tiada orang lain, malahan orang-orang dungu itu sedang sibuk membalut luka Tho-hoa-sian tadi.

Ketika berpaling lagi, tiba-tiba Lenghou Tiong mendengar bisikan suara yang sangat lirih, “Engkoh Tiong, apakah kau sedang mencari diriku?”

Mendengar suara itu, sungguh kejut dan girang Lenghou Tiong tak terperikan. Meski suara itu sangat lirih, tapi cukup jelas, siapa lagi kalau bukan suaranya Ing-ing.

Ia coba memandang ke arah datangnya suara, tertampak seorang laki-laki berewok dengan badan rada gemuk berdiri bersandar pada sepotong batu besar sambil garuk-garuk kepala secara kemalas-malasan.

Laki-laki berewok semacam itu sedikitnya ada beratus-ratus di antara hadirin yang ribuan banyaknya itu sehingga tidaklah menarik perhatian. Tapi mendadak dari sorot mata laki-laki ini Lenghou Tiong melihat kilasan senyuman yang licin dan juga menggiurkan. Saking girangnya ia lantas mendekati orang itu.

Terdengar suara Ing-ing berkumandang lagi, “Jangan kemari, nanti rahasia tersingkap!”

Begitu lembut suara itu, tapi cukup jelas terdengar oleh telinganya.

Maka tahulah Lenghou Tiong, “Kiranya kata-kata Tho-kok-lak-sian tadi adalah ajaranmu, pantas keenam orang dungu itu mampu bicara tentang budi dan setia segala.”

Diam-diam ia pun bersyukur atas kedatangan Ing-ing secara menyamar itu, jelas si nona sengaja datang buat bantu usahanya berebut menjadi ketua Ngo-gak-pay.

Dalam pada itu terdengar Tho-kin-sian berkata pula, “Tokoh besar seperti Hong-ting Taysu tak bisa kalian terima sebagai ketua, Giok-ki-cu sekarang sudah buntung kaki dan kutung tangan, sedangkan Co Leng-tan jelas tidak berbudi dan pengecut, dengan sendirinya juga tak bisa menduduki tempat terhormat itu. Maka biarlah kita memilih seorang kesatria muda yang hebat untuk menjadi ketua kita. Kalau ada yang tidak setuju boleh silakan maju untuk belajar kenal dengan ilmu pedangnya.”

Bicara sampai di sini setelah tangannya terus menunjuk ke arah Lenghou Tiong.

“Inilah Lenghou-siauhiap,” sambung Tho-hoa-sian, “beliau mengetuai Hing-san-pay dan ada hubungan yang rapat dengan Gak-siansing dari Hoa-san-pay, dengan Bok-taysiansing dari Heng-san-pay juga bersahabat kental. Di antara Ngo-gak-kiam-pay jelas ada tiga aliran yang pasti akan mendukung beliau.”

“Para Tosu dari Thay-san-pay juga tidak bodoh semua, dengan sendirinya sebagian besar di antara mereka juga akan mendukung Lenghou-siauhiap,” ujar Tho-ki-sian.

“Nah, Co Leng-tan, jika kau tidak terima, silakan maju untuk coba-coba mengukur ilmu pedang Lenghou-siauhiap, yang menang, dialah yang menjadi ketua Ngo-gak-pay. Ini namanya bertanding untuk rebut juara!” seru Tho-yap-sian.

Di antara para pengunjung sebenarnya lebih banyak orang-orang yang ingin menonton keributan, untuk itu mereka tentunya tidak suka pada perdebatan yang bertele-tele seperti Tho-kok-lak-sian tadi, soalnya ucapan-ucapan Tho-kok-lak-sian tadi memang jenaka dan menggelikan, makanya mereka masih dapat mengikutinya dengan tertawa. Tapi sekarang demi mendengar Tho-yap-sian mengemukakan “bertanding untuk kedudukan ketua” serentak bergemuruhlah suara sorak-sorai setuju, karena mereka tahu akan sampailah saatnya pertandingan sengit di antara tokoh-tokoh tertinggi yang dijagoi oleh masing-masing pihak.

Namun Lenghou Tiong berpikir, “Aku telah berjanji kepada Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang untuk merintangi keinginan Co Leng-tan menjadi ketua Ngo-gak-pay. Maka bila Suhu saja yang menjadi ketua, beliau yang terkenal baik budi dan bijaksana tentu akan dapat disetujui oleh semua pihak. Padahal selain beliau rasanya juga tiada tokoh lain di antara Ngo-gak-kiam-pay yang sesuai untuk menjabat kedudukan penting ini.”

Karena pikiran demikian, segera Lenghou Tiong berseru, “Di hadapan kita sudah tersedia seorang tokoh yang paling cocok untuk menjadi ketua Ngo-gak-pay, mengapa kalian lupa semua? Siapa lagi calon di antara kita yang bisa menandingi Kun-cu-kiam Gak-siansing dari Hoa-san-pay? Ilmu silat Gak-siansing tinggi, pengetahuannya luas, orangnya berbudi dan bijaksana, kesemuanya ini telah cukup kita ketahui. Maka segenap anggota Hing-san-pay kami dengan tulus ikhlas menyarankan pengangkatan Gak-siansing sebagai ketua Ngo-gak-pay.”

Serentak anak murid Hoa-san-pay bersorak gembira dan menyatakan akur.

Seorang tokoh Ko-san-pay lantas bicara, “Ilmu silat Gak-siansing memang tinggi, tapi kalau dibandingkan Co-ciangbun masih selisih setingkat. Maka menurut pendapatku adalah Co-ciangbun yang lebih tepat untuk menjadi ketua, di samping itu boleh diadakan empat kursi wakil ketua dan masing-masing dijabat oleh Gak-siansing, Bok-taysiansing, Lenghou-siauhiap dan … dan Giok-seng-cu atau Giok-im-cu Totiang, terserah kepada pilihan orang Thay-san-pay sendiri.”

“Giok-ki-cu kan belum lagi mampus dia baru buntung tangannya dan kutung sebelah kakinya, mengapa kalian lantas menyingkirkan dia?” seru Tho-ki-sian.

“Ya, bertanding saja untuk berebut menjadi juara, siapa yang menang, dia yang menjadi ketua!” teriak Tho-yap-sian.

Maka beribu-ribu orang Kangouw lantas ikut-ikut berteriak, “Benar, benar! Bertanding saja untuk menentukan juara!”

Lenghou Tiong pikir kalau Co Leng-tan tidak dijatuhkan lebih dulu sehingga pihak Ko-san-pay putus harapan sukarlah bagi orang lain untuk mencalonkan diri sebagai ketua Ngo-gak-pay. Maka dengan pedang terhunus ia lantas maju ke tengah, serunya, “Co-siansing, sesuai kehendak orang banyak, marilah kita berdua mulai coba-coba dahulu.”

Menurut perhitungan Lenghou Tiong, ilmu pedang sendirinya masih sanggup mengatasi lawan, tapi kalau bertanding pukulan, maka dirinya sukar melawan Im-han-ciang-lik (pukulan dengan hawa dingin) Co Leng-tan yang lihai, hal ini terbukti Yim Ngo-heng saja kecundang di Siau-lim-si tempo hari. Seumpama ilmu pedang sendiri juga tak bisa mengalahkan lawan, paling sedikit tenaga lawan akan banyak diperas, habis itu Gak Put-kun baru turun kalangan dan tentu besar harapan untuk merobohkan Co Leng-tan.

Begitulah segera Lenghou Tiong ayun pedangnya dan berseru pula, “Co-siansing, setiap anggota Ngo-gak-kiam-pay kita mahir memainkan pedang, biarlah kita menentukan kalah menang pada senjata ini!”

Dengan ucapan ini ia sudah mendahului menutup jalan mundur Co Leng-tan agar ketua Ko-san-pay itu tidak mengajaknya bertanding ilmu pukulan dan lain-lain.

Maka ramailah orang bersorak menyatakan setuju dan berteriak-teriak minta pertandingan lekas dimulai.

Karena suara sendiri disokong orang banyak, dengan senang Lenghou Tiong berseru pula, “Co-siansing, hayolah maju! Jika kau enggan bertanding pedang dengan Cayhe, ya boleh juga, silakan mengumumkan di depan umum bahwa kau mengundurkan diri dari pencalonan ketua Ngo-gak-pay ini!”

“Hayo maju! Hayo bertanding!!” demikian orang banyak berteriak-teriak pula. “Yang tidak berani bertanding bukanlah kesatria! Tapi, babi! Anjing!” demikian sambung yang lain.

Di tengah suara ribut-ribut itu tiba-tiba suara seorang yang nyaring lantang berkumandang, “Jika para hadirin sudah menghendaki pemilihan ketua Ngo-gak-pay ditentukan secara bertanding, maka kita pun tidak dapat mengabaikan harapan orang banyak.”

Pembicara ini kiranya Gak Put-kun adanya.

“Ucapan Gak-siansing, memang tidak salah!” sambut orang banyak. “Hayo bertanding! Lekas dimulai!”

“Bertanding untuk berebut juara memang juga suatu cara yang lazim,” kata Gak Put-kun, “cuma asas penggabungan Ngo-gak-kiam-pay kita sebenarnya untuk mengurangi pertengkaran serta mencari kedamaian di antara sesama kawan Bu-lim. Sebab itu kalau pertandingan dilangsungkan, sebaiknya dibatasi hanya pada persentuhan saja sudah cukup, begitu sudah terang antara yang menang dan kalah harus segera berhenti, sekali-kali tidak boleh melukai apalagi mencelakai jiwa lawan. Seperti meninggalnya Thian-bun Totiang dan terlukanya Giok-ki Totiang tadi sungguh sangat kusesalkan.”

Karena apa yang dikatakan Gak Put-kun cukup beralasan, seketika suasana menjadi sunyi. Sejenak kemudian seorang hadirin barulah berteriak, “Pertandingan dibatasi memang baik, namun senjata tidak bermata, bila terjadi melukai atau membinasakan, ya anggap saja dirinya sendiri yang sial dan jangan salahkan pihak lain!”

“Benar!” sambung seorang lagi. “Kalau takut mati dan khawatir luka, lebih baik tinggal di rumah dan mengeloni bininya saja, buat apa susah-susah ikut hadir ke sini?”

Maka bergemuruhlah suara tertawa orang banyak.

“Namun demikian, kukira pertandingan tetap berlangsung secara persahabatan saja,” kata Gak Put-kun. “Cayhe mempunyai beberapa pendapat dan akan kuminta pertimbangan para hadirin.”

“Ah, lekas mulai berhantam saja, omong apa lagi?” teriak seorang.

“Jangan ngaco! Dengarkan dulu apa yang hendak diuraikan Gak-siansing!” seru seorang lain.

“Siapa yang ngaco? Pulang saja tanya pada emakmu!” jawab orang pertama tadi.

Kontan pihak lain balas memaki, maka terjadilah perang mulut dengan kata-kata dan istilah-istilah yang kotor.

“Bahwasanya siapa-siapa yang memenuhi syarat untuk ikut bertanding perlu diadakan suatu ketentuan ….” demikian Gak Put-kun membuka suara pula sehingga perang mulut di sebelah sana terhenti seketika. Lalu Gak Put-kun melanjutnya, “Bertanding untuk menentukan juara, jelas juara ini bukanlah gelar ‘jago nomor satu’ di dunia ini, tapi juara untuk menjadi ketua Ngo-gak-pay nanti. Oleh sebab itu yang ada hak ikut bertanding hanya terbatas anggota-anggota Ngo-gak-kiam-pay saja, orang luar biarpun punya kepandaian setinggi langit juga dilarang ikut.”

“Betul, betul! Kalau bukan anggota Ngo-gak-pay dilarang ikut bertanding!” seru orang banyak.

“Adapun mengenai cara bagaimana pertandingan harus dilakukan dalam suasana persahabatan, untuk ini silakan Co-siansing memberi komentar,” kata Gak Put-kun pula.

“Kukira Gak-siansing tentu sudah punya cara-cara yang baik, silakan bicara saja,” sahut Co Leng-tan dengan nada kaku.

“Cayhe berpendapat ada lebih baik kita minta tokoh-tokoh terhormat seperti Hong-ting Taysu, Tiong-hi Totiang, Pangcu dari Kay-pang, Ih-koancu dari Jing-sia-pay dan lain-lain agar sudi menjadi wasit. Siapa yang menang dan siapa yang kalah kita percayakan kepada para juri. Kita hanya menentukan kalah menang saja dan tidak menentukan hidup dan mati.”

“Siancay! Siancay!” Hong-ting Taysu bersabda. “Hanya menentukan kalah menang dan tidak menentukan mati dan hidup. Kalimat ini saja sudah menghapuskan banyak kemungkinan-kemungkinan banjir darah yang akan menimpa. Entah bagaimana dengan pendapat Co-siansing?”

“Kukira dari setiap aliran Ngo-gak-kiam-pay masing-masing hanya boleh menampilkan seorang jago saja,” kata Co Leng-tan. “Kalau tidak, nanti beratus-ratus orang ingin bertanding semua, lalu akan bertanding sampai kapan baru dapat selesai?”

Di antara hadirin-hadirin itu tentu saja banyak yang ingin melihat keributan, kalau pertandingan hanya dilakukan di antara lima jago saja dari kelima aliran itu tentu kurang seru. Tapi anak murid Ko-san-pay sudah lantas bersorak menyokong pendirian ketuanya, terpaksa para hadirin juga berteriak akur.

Tapi tiba-tiba Tho-ki-sian berseru, “Nanti dulu! Ketua Thay-san-pay adalah Giok-ki-cu, apakah kita membiarkan seorang yang sudah buntung demikian ikut dalam pertandingan?”

“Biarpun buntung dan tinggal satu kaki, dia kan masih bisa meloncat untuk menyepak dengan kaki tunggalnya?” kata Tho-yap-sian.

Maka kembali bergemuruhlah suara tertawa orang banyak.

Giok-im-cu dari Thay-san-pay menjadi gusar, teriaknya, “Kalian berenam setan alas inilah yang membikin cacat Suhengku, sekarang kalian mengolok-olok beliau pula. Kukira kalian sepantasnya juga dibikin buntung semua. Hayolah, kalau berani coba maju untuk bertanding dengan tuanmu!”

Habis berkata ia terus tampil ke muka dengan pedang terhunus.

“Apakah kau mewakili Thay-san-pay dalam perebutan juara ini?” tanya Tho-ki-sian.

“Kau dipilih oleh kawan-kawanmu atau kau sendiri yang tampil ke muka?” Tho-yap-sian menambahkan.

“Peduli apa dengan kau?” sahut Giok-im-cu dengan gusar.

“Tentu saja peduli,” jawab Tho-yap-sian. “Tidak saja peduli, bahkan sangat peduli. Sebab kalau kau yang mewakilkan Thay-san-pay dalam pertandingan ini, bila nanti kau kalah, maka Thay-san-pay tidak boleh mengajukan jago lain?” tanya Giok-im-cu.

Tiba-tiba seorang tokoh Thay-san-pay yang lain berseru, “Kami belum lagi menerima syarat bertanding dengan jago tunggal. Kalau Giok-im Sute kalah, dengan sendirinya Thay-san-pay masih boleh mengajukan jago pilihan lain.”

Pembicara ini ialah Giok-seng-cu, suheng Giok-im-cu.

“Haha, jago Thay-san-pay yang lain mungkin adalah saudara sendiri?” kata Tho-hoa-sian setengah mengejek.

“Benar, memangnya adalah kakekmu ini,” jawab Giok-seng-cu ketus.

“Nah-nah, coba lihatlah, para hadirin! Kembali orang-orang Thay-san-pay ribut urusan dalam lagi!” seru Tho-sit-sian. “Baru saja Thian-bun Tojin tewas, kemudian Giok-ki-cu terluka parah, sekarang Giok-seng-cu dan Giok-im-cu ini sudah saling bertengkar dan berebut menjadi pemimpin Thay-san-pay.”

Ucapan Tho-sit-sian sebenarnya tepat mengenai isi hati Giok-seng-cu dan Giok-im-cu. Tapi Giok-im-cu pura-pura mengomel, “Hm, ngaco-belo!”

Sebaliknya Giok-seng-cu hanya tertawa dingin saja tanpa bicara.

“Sebenarnya pihak Thay-san-pay akan diwakili oleh siapa dalam pertandingan ini?” tanya Tho-hoa-sian pula.

“Aku!” seru Giok-im-cu dan Giok-seng-cu berbareng.

“Aneh, kenapa kalian tidak mau saling mengalah?” ujar Tho-kin-sian. “Baiklah, boleh kalian saling gebrak lebih dulu, coba siapa yang lebih tangguh. Percuma bertengkar dengan mulut, tentukan saja dengan berkelahi!”

Dengan aseran Giok-seng-cu melangkah maju dan berseru kepada Giok-im-cu, “Sute, kau mundur saja, jangan menimbulkan tertawaan orang lain!”

“Kenapa akan ditertawakan orang?” jawab Giok-im-cu.

“Giok-ki Suheng terluka parah, adalah pantas jikalau aku ingin menuntut balas baginya.”

“Tujuanmu hendak menuntut balas atau ingin berebut menjadi juara?” Giok-seng-cu menegas.

“Hah, hanya dengan sedikit kepandaian kita saja masakah sesuai untuk menjadi ketua Ngo-gak-pay?” jengek Giok-im-cu. “Kukira kau jangan mimpi di siang bolong. Segenap anggota Thay-san-pay kita sudah jelas mendukung Co-ciangbun dari Ko-san-pay sebagai calon ketua, buat apa kita berdua ikut-ikut membikin malu di depan umum?”

“Jika demikian silakan kau mundur saja. Sebagai tertua, pimpinan Thay-san-pay sekarang kupegang,” kata Giok-seng-cu.

“Meski kau terhitung tertua di antara orang Thay-san-pay sekarang, tapi segala perbuatanmu dan tingkah lakumu selama ini sukarlah diterima orang. Apakah kau kira anggota-anggota Thay-san-pay kita mau tunduk kepada pimpinanmu?” tanya Giok-im-cu.

“Apa artinya dengan ucapanmu ini?” bentak Giok-seng-cu dengan bengis. “Kau berani kepada orang yang lebih tua, apakah kau lupa pada pasal pertama dari undang-undang perguruan kita?”

“Haha, janganlah kau lupa bahwa saat ini kita adalah sama-sama anggota Ngo-gak-pay,” jawab Giok-im-cu. “Kita masuk Ngo-gak-pay pada hari, bulan, tahun dan saat yang sama, berdasar apa kau anggap kau lebih tua dariku? Undang-undang perguruan Ngo-gak-pay belum lagi disusun, berdasar apa kau tunjuk pasal satu dan pasal berapa segala? Sedikit-sedikit kau suka tonjolkan undang-undang perguruan Thay-san-pay untuk menindas kawan sendiri, cuma sayang sekarang Thay-san-pay sudah hapus, yang ada hanya Ngo-gak-pay.”

Giok-seng-cu tak bisa mendebat lagi, saking gusarnya dia hanya berjingkrak sambil tuding Giok-im-cu dan berkata, “Kau … kau … kau ….”

“Hayolah maju, labrak saja! Kenapa omong doang? Habis berhantam baru jelas siapa yang tertua!” teriak para penonton yang ingin lihat perkelahian.

“Hayo, bae Giok-im, seratus perak!” seru seorang penonton.

“Apit, pegang bawah!” seorang lagi menanggapi dengan lagak seorang botoh jago.

“Lima belasan, pegang atas!” yang duluan menanggapi lagi.

Menurut istilah adu jago (ayam jantan), bae artinya memihak, memegang pihak yang dipilih. Apit artinya jumlah taruhan dua lawan satu, seratus perak lawan dua ratus perak. Lima belasan artinya 15 lawan 10.

Begitulah jiwa manusia pada umumnya kalau melihat ada pertengkaran bukannya memisah, melerai, tapi malah menyirami minyak dan membakar.

Tapi meski badan sampai gemetar saling gusar Giok-seng-cu tetap tidak berani maju. Kiranya Giok-seng-cu ini biarpun terhitung sang suheng, tapi biasanya dia suka tenggelam di tengah minuman keras dan main perempuan, sebab itulah ilmu pedangnya banyak mundur dan kalah kuat daripada Giok-im-cu.

Dengan dileburnya Ngo-gak-kiam-pay menjadi Ngo-gak-pay memangnya Giok-seng-cu dan Giok-im-cu juga tidak berani mengimpikan buat ikut berebut menjadi ketua, sebab mereka sadar kepandaian mereka masih jauh dibandingkan Co Leng-tan. Mereka sudah puas bila sekembalinya ke Thay-san nanti dapat diangkat menjadi pemimpin Thay-san-pay untuk menggantikan Thian-bun dan Giok-ki yang sudah tewas dan cacat itu Tapi sekarang di bawah hasutan orang banyak mereka berdua sampai-sampai bertengkar sendiri, Giok-seng-cu tidak berani sembarangan bergebrak, cuma ia pun tidak rela menyerah kepada sang sute di depan umum. Karena itu seketika keadaan menjadi lucu tampaknya.

Sekonyong-konyong suara seorang melengking tajam berkata, “Huh, kulihat inti ilmu silat Thay-san-pay sedikit pun belum kalian kuasai, tapi kulit muka kalian toh begitu tebal buat bertengkar di sini sehingga waktu penting terbuang percuma.”

Waktu semua orang berpaling ke arah pembicara, kiranya seorang pemuda yang jangkung dan tampan, hanya saja air mukanya rada pucat, ialah Lim Peng-ci dari Hoa-san-pay.

Segera orang yang kenal dia lantas berseru, “Itulah menantu baru Gak-siansing dari Hoa-san-pay!”

Lenghou Tiong juga terkesiap, ia tahu sifat Lim Peng-ci biasanya sangat pendiam, tidak suka banyak bicara, tak terduga sifatnya itu sekarang sudah berubah sehingga berani mengolok-olok orang di depan umum. Namun Lenghou Tiong juga tidak suka kepada Giok-im-cu dan Giok-seng-cu yang bersama Giok-ki-cu tadi telah mengakibatkan kematian Thian-bun Tojin, maka ia pun merasa senang atas sindiran Lim Peng-ci terhadap kedua jago Thay-san-pay itu.

Terdengar Giok-im-cu menjawab, “Aku belum menguasai sama sekali inti ilmu silat Thay-san-pay kami, memangnya saudara sendiri yang menguasai? Kalau begitu silakan saudara coba-coba mainkan beberapa jurus ilmu silat Thay-san-pay agar dimaklumi oleh para kesatria yang hadir di sini.”

Berulang-ulang ia sengaja mengucapkan kata-kata “Thay-san-pay” dengan suara keras, maksudnya hendak mengolok-olok Lim Peng-ci yang dikenal sebagai murid Hoa-san-pay masakah berani ikut bicara tentang ilmu silat dari perguruan lain.

Tak terduga Peng-ci lantas menjengek, jawabnya, “Ilmu silat Thay-san-pay sangat luas dan dalam, mana bisa dipahami oleh murid murtad macam kau yang mencelakai saudara seperguruan sendiri dengan bersekongkol dengan orang luar ….”

“Peng-ci!” bentak Gak Put-kun tiba-tiba. “Giok-im Totiang adalah kaum cianpwe, jangan kau kurang ajar!”

Terpaksa Peng-ci mengiakan dan berhenti bicara.

Dengan gusar Giok-im-cu lantas berkata terhadap Gak Put-kun, “Gak-siansing, bagus sekali murid didikanmu dan mantu kesayanganmu ini! Sampai-sampai ilmu silat Thay-san-pay berani dia sembarangan mengoceh dan menilainya.”

“Dari mana kau tahu dia sembarangan mengoceh?” tiba suara seorang perempuan menyela. Maka muncul ke depan seorang nyonya muda dengan gaun yang panjang, pada sanggulnya tersunting setangkai bunga merah dan kecil. Siapa lagi dia kalau bukan Gak Leng-sian.

“Ini, dengan ilmu pedang Thay-san-pay juga akan kucoba bagaimana kepandaianmu,” kata Leng-sian pula sambil memegang gagang pedangnya yang melintang ke belakang punggungnya.

Giok-im-cu mengenalnya sebagai anak perempuan Gak Put-kun, diketahui pula bahwa Gak Put-kun telah menyetujui peleburan Ngo-gak-kiam-pay dan cukup dihargai oleh Co Leng-tan, maka terhadap Leng-sian ia tidak berani sembarangan bertindak kasar. Dengan tersenyum ia menjawab, “Ah, pada hari bahagia nona Gak, sungguh menyesal aku tidak sempat hadir untuk menyampaikan selamat, apakah karena itu nona telah marah padaku? Tentang ilmu pedang Hoa-san-pay kalian memang sangat kukagumi. Tapi bahwasanya murid Hoa-san-pay juga mahir ilmu pedang Thay-san-pay, wah, sungguh baru kudengar sekarang ini.”

Dengan menarik alisnya yang lentik, dengan air muka menghina Leng-sian berkata, “Ayahku ingin menjadi ketua Ngo-gak-pay, dengan sendirinya setiap ilmu pedang dari kelima aliran harus dipelajarinya, kalau tidak cara bagaimana beliau sanggup memimpin Ngo-gak-pay nanti?”

Ucapan Leng-sian ini seketika membikin para kesatria menjadi gempar. Segera ada yang berteriak, “Apakah mungkin Gak-siansing juga mahir ilmu pedang dari keempat aliran lain?”

Gak Put-kun lantas berseru, “Ah, anak perempuanku suka membual saja, omongan anak kecil janganlah kalian anggap sungguh-sungguh.”

Tapi Leng-sian segera berkata pula, “Co-supek, jika kau mampu mengalahkan kami dengan ilmu pedang keempat aliran kami, dengan sendirinya kami akan tunduk dan angkat kau sebagai ketua Ngo-gak-pay. Sebaliknya kalau kau hanya mengandalkan ilmu pedang Ko-san-pay melulu, sekalipun kau dapat mengalahkan seluruh seterumu, paling-paling hanya ilmu pedang Ko-san-pay saja yang terkenal.”

Para hadirin pikir apa yang dikatakan Leng-sian memang tidak salah. Kalau orang mahir ilmu pedang dari kelima aliran, sudah tentu orang ini pula paling cocok untuk menjadi ketua Ngo-gak-pay. Akan tetapi ilmu pedang setiap aliran itu adalah hasil ciptaan tokoh-tokoh aliran masing-masing dari angkatan tua turun-temurun selama beratus-ratus tahun, jangankan mahir kesemua ilmu pedang aliran-aliran itu, melulu ilmu pedang suatu aliran saja sukar dipelajari hingga masak dan mendalam betul.

Namun Co Leng-tan mempunyai cara berpikir sendiri. Ia curiga mengapa anak perempuan Gak Put-kun berani omong besar demikian? Di balik ini tentu ada tujuan tertentu. Ia pun sangsi jangan-jangan Gak Put-kun yang juga kemaruk kedudukan itu berniat berebut jabatan ketua Ngo-gak-pay dengan dia.

Didengarnya Giok-im-cu sedang berkata, “Wah, kiranya Gak-siansing telah mahir menyelami inti ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay, ini benar-benar suatu peristiwa besar yang belum pernah terjadi dalam sejarah dunia. Maka biarlah aku saja yang mulai minta nona Gak memberi petunjuk-petunjuk tentang ilmu pedang Thay-san-pay.”

“Baik sekali!” jawab Leng-sian. “Sret”, segera ia lolos pedangnya.

Keruan Giok-im-cu sangat mendongkol. Pikirnya, “Dengan ayahmu saja aku lebih tua satu angkatan, masakah anak perempuan macam kau juga berani lolos senjata terhadapku?”

Semula ia menyangka Gak Put-kun tentu akan mencegah perbuatan anak perempuannya, sebab di antara tokoh-tokoh Hoa-san-pay hanya Gak Put-kun dan istrinya saja yang pantas menjadi lawannya.

Tak terduga Gak Put-kun hanya geleng-geleng kepala saja, katanya dengan menyesal, “Sungguh anak perempuan yang tidak tahu tebalnya bumi dan tingginya langit, Giok-im dan Giok-seng berdua Locianpwe adalah tokoh-tokoh kelas utama Thay-san-pay, kau sendiri yang mencari penyakit jika bermaksud melawannya dengan ilmu pedang Thay-san-pay mereka.”

Ketika Giok-im-cu melirik, dilihatnya pedang di tangan kanan Gak Leng-sian menuding miring ke bawah, jari-jari tangan kiri sedang bertekuk-tekuk seperti orang lagi menghitung-hitung.

Giok-im-cu terkejut dan heran dari mana anak perempuan ini paham jurus “Thay-cong-ji-ho”, suatu jurus ilmu pedang Thay-san-pay yang paling tinggi. Intisari jurus ini tidak terletak kepada serangan pedang, tapi dalam hal perhitungan letak tempat musuh, perawakan musuh dan panjang atau pendek senjata yang digunakan musuh dan macam-macam faktor lain. Perhitungannya sangat ruwet, tapi bila perhitungan sudah tepat, sekali serang tentu kena.

Pernah Giok-im-cu mendapat ajaran jurus ini dari gurunya, tapi ia sadar bahwa dirinya tidak sanggup menyelami jurus yang pakai perhitungan tinggi itu, maka waktu itu ia tidak pernah mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, sebaliknya sang guru juga tidak paksa dia berlatih lebih lanjut, rupanya gurunya sendiri juga tidak mahir terhadap jurus itu.

Karena dirinya tidak diharuskan berlatih jurus yang sukar itu, tentu saja Giok-im-cu merasa kebetulan. Sejak itu ia pun tidak pernah melihat orang Thay-san-pay sendiri memainkan jurus itu. Tak terduga peristiwa yang sudah berselang puluhan tahun itu, kini mendadak jurus itu dilihatnya dimainkan oleh seorang nyonya muda sebagai Gak Leng-sian, bahkan orang yang bukan anggota Thay-san-pay. Keruan ia menjadi gelisah dan keluar keringat.

Biasanya orang yang kepepet tentu akan timbul akal, ia membatin, “Bila aku cepat berganti tempat, lalu lompat ke sini dan loncat ke sana, dengan sendirinya perhitungannya akan selalu meleset.”

Begitulah segera ia menggeser ke sana, lalu putar balik dan menyerang dengan jurus “Long-gwat-bu-in” (terang bulan tanpa mega), tapi tusukannya belum mencapai sasaran segera ia menggeser dan menyerang pula dengan cepat. Sambil bergerak, yang diperhatikan Giok-im-cu hanya jari-jari Leng-sian yang bergerak-gerak menghitung itu. Ia masih ingat ucapan gurunya dahulu bahwa jurus “Thay-cong-ji-ho (cara menghitung dengan pasti) merupakan inti ilmu pedang Thay-san-pay, sekali serang pasti kena, membunuh orang tanpa terasa. Kalau sudah mencapai taraf demikian, maka boleh dikata sudah mencapai tingkat yang sempurna.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: