Hina Kelana: Bab 113. Perdebatan yang Bertele-tele

Lantaran berpikir demikian, cepat Co Leng-tan berseru, “Nanti dulu, para kawan Hing-san-pay, ada persoalan apa biarlah kita berunding secara baik-baik, kenapa mesti terburu nafsu?”

“Adalah begundalmu yang mengusir kami dan bukan kami sendiri yang mau pergi dari sini,” jawab Tho-kin-sian dengan mencibir.

Co Leng-tan mendengus satu kali tanpa menanggapi, sebaliknya ia berkata terhadap Lenghou Tiong, “Lenghou-ciangbun, orang persilatan kita paling mengutamakan pegang janji. Tadi kau sudah menyatakan akan mengikuti haluan Gak-siansing, tentunya kau akan pegang teguh ucapanmu ini.”

Lenghou Tiong coba memandang Gak Put-kun, dilihatnya sang guru sedang manggut-manggut padanya dengan sikap simpatik dan sangat mengharapkan. Sebaliknya ketika ia memandang ke arah Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin, kedua tokoh itu tampak menggeleng-geleng kepala.

Di tengah kebimbangan itu, terdengar Gak Put-kun berkata, “Anak Tiong, hubungan kita seperti ayah dan anak, ibu-gurumu juga cukup baik padamu, apakah kau tidak ingin berhubungan baik lagi dengan kami seperti dahulu?”

Seketika Lenghou Tiong mencucurkan air mata terharu, tanpa pikir lagi ia lantas berseru, “Suhu dan Sunio, memang itulah yang kuharap-harapkan. Bila kalian setuju penggabungan, maka Anak hanya menurut saja, lain tidak.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula, “Namun, bagaimana pula dengan sakit hati ketiga Suthay….”

“Kau jangan khawatir,” kata Gak Put-kun dengan lantang. “Hal tewasnya Ting-sian Suthay bertiga memang harus disesalkan oleh setiap kawan persilatan kita. Selanjutnya sesudah kelima golongan kita tergabung, maka urusan Hing-san-pay tentu termasuk juga urusanku. Tugas utama kita sekarang tiada lain mencari tahu siapakah pembunuhnya, lalu dengan tenaga gabungan ngo-pay kita serta minta bantuan para kawan bu-lim yang hadir sekarang, biarpun si pembunuh punya kepandaian setinggi langit juga akan kita cincang sampai hancur lebur. Anak Tiong, maka kukatakan lagi janganlah kau khawatir, sekalipun pembunuhnya adalah tokoh tertinggi dari Ngo-gak-pay kita juga takkan kita ampuni.”

Kata-kata Gak Put-kun itu diucapkan dengan gagah dan tegas, serentak anak murid Hing-san-pay sama bersorak memuji. Gi-ho lantas berseru, “Ucapan Gak-siansing memang betul. Bila engkau dapat tampil ke muka untuk membalaskan sakit hati ketiga Suthay kami, maka segenap keluarga Hing-san-pay sungguh merasa sangat berterima kasih.”

“Soal ini kujamin, dalam tiga tahun bilamana tidak mampu membalaskan sakit hati ketiga Suthay, biarlah nanti kawan bu-lim boleh anggap aku sebagai manusia rendah, orang yang tidak tahu malu,” seru Gak Put-kun.

Ucapan ini semakin menimbulkan rasa senang anak murid Hing-san-pay, mereka bersorak gembira, banyak dari kawan-kawan golongan lain juga ikut bertepuk tangan dan memuji.

Menyaksikan itu, Lenghou Tiong berpikir, “Meski aku bertekad menuntut balas bagi ketiga Suthay, tapi susah rasanya memakai batas waktu. Biarpun orang banyak mencurigai Co Leng-tan sebagai pembunuhnya, tapi cara bagaimana membuktikannya? Seumpama dia dapat dibekuk dan ditanyai, apakah dia mau mengaku terus terang? Tapi mengapa Suhu berbicara secara begitu tegas dan pasti? Ya, tentu beliau sudah tahu pasti siapa pembunuhnya dengan bukti-bukti nyata, makanya di dalam tiga tahun Suhu yakin akan dapat membereskannya.”

Kalau semula dia mengkhawatirkan anak murid Hing-san-pay menentang pendiriannya yang mengikuti haluan Gak Put-kun, sekarang demi melihat mereka bersorak gembira, maka legalah hatinya, segera ia berseru, “Baik sekali jika demikian. Guruku Gak-siansing sudah menyatakan, asal sudah diselidiki dan jelas siapa pembunuh ketiga Suthay, sekalipun pembunuh itu adalah tokoh tertinggi Ngo-gak-pay juga takkan diampuni. Nah, Co-ciangbun, engkau setujui atas ucapan ini tidak?”

Dengan nada dingin Co Leng-tan menjawab, “Ucapan ini kan sangat tepat, mengapa aku tidak setuju?”

“Bagus,” seru Lenghou Tiong. “Nah, para kesatria yang hadir di sini telah mendengar semua, bilamana biang keladi pembunuh ketiga Suthay nanti telah diketahui, tak peduli siapakah dia dan apa kedudukannya, maka setiap orang berhak untuk membinasakan dia.”

Serentak sebagian besar di antara hadirin bersorak menyatakan akur.

Setelah suara ramai itu rada mereda, lalu Co Leng-tan berseru, “Nah, jadi sudah jelas Ngo-gak-kiam-pay kita seluruhnya sudah setuju bergabung menjadi satu, maka sejak kini di dunia persilatan takkan muncul pula nama Ngo-gak-kiam-pay, yang ada ialah Ngo-gak-pay. Dengan demikian segenap anggota kelima golongan kita dengan sendirinya juga menjadi anak murid atau anggota Ngo-gak-pay.” (Ngo-gak = lima gunung. Yakni gunung sebelah timur Thay-san, sebelah barat Hoa-san, sebelah utara Hing-san, sebelah selatan Heng-san dan gunung bagian tengah Ko-san.)

Habis berkata, ketika ia angkat sebelah tangannya, serentak terdengarlah suara riuh gemuruh petasan bergema di angkasa pegunungan Ko-san sebagai tanda merayakan berdirinya “Ngo-gak-pay” secara resmi.

Menghadapi suasana ramai itu, para kesatria saling pandang dengan tersenyum, mereka sama bersyukur bahwa penggabungan Ngo-gak-kiam-pay dapat berjalan dengan lancar, kalau tidak tentu akan terjadi banjir darah di puncak Ko-san ini.

Begitulah di puncak gunung sunyi itu seketika bertebaran dengan remukan kertas, asap mengepul memenuhi udara, suara petasan makin lama makin riuh sehingga bicara berhadapan tak terdengar. Selang agak lama barulah suara petasan mulai mereda.

Lalu di antara hadirin ada yang menghampiri Co Leng-tan untuk mengucapkan selamat, tampaknya orang-orang ini adalah undangan Ko-san-pay sendiri, karena melihat penggabungan Ngo-gak-kiam-pay terang akan jadi, pengaruh Co Leng-tan juga tambah besar, maka mereka mendahului memberi puji sanjung kepada tuan rumah.

Tiada henti-hentinya Co Leng-tan mengucapkan kata-kata rendah hati, namun tidak urung air mukanya yang biasanya dingin kaku itu menampilkan senyuman kepuasan.

Tiba-tiba terdengar Tho-kin-sian berseru, “Karena penggabungan Ngo-gak-kiam-pay menjadi Ngo-gak-pay sudah jadi, maka kami Tho-kok-lak-sian terpaksa ikut mendukungnya, ini namanya menurut arah angin.”

Co Leng-tan membatin, “Sejak keenam keparat ini datang ke sini, hanya kata-kata inilah pantas didengar.”

Dalam pada itu Tho-kan-sian juga berseru, “Pada umumnya setiap aliran tentu ada seorang ketua. Lalu ketua Ngo-gak-pay ini harus dipegang siapa? Bila para hadirin mengangkat kami Tho-kok-lak-sian, mau tak mau kami pun akan menerimanya.”

“Menurut kata-kata Gak-siansing tadi bahwa penggabungan ini adalah demi kepentingan dunia persilatan umumnya dan tidak untuk keuntungan pribadi,” seru Tho-ki-sian pula. “Jika demikian halnya, maka tugas seorang ketua sungguh sangat berat, namun apa mau dikata, terpaksa kami berenam saudara akan bekerja sekuat tenaga.”

“Memang, kalau para hadirin begini simpatik kepada kami, mana boleh kami tidak bekerja mati-matian demi kawan-kawan Kangouw umumnya?” sambung Tho-yap-sian.

Begitulah mereka bertanya-jawab seperti dagelan, seakan-akan mereka benar-benar telah diangkat menjadi ketua oleh pilihan orang banyak.

Dengan gemas seorang tua berbaju kuning dari Ko-san-pay berteriak, “Hei, siapakah yang mengangkat kalian menjadi ketua Ngo-gak-pay? Huh, seperti orang gila, tidak tahu malu?”

Serentak orang-orang Ko-san-pay yang lain juga sama mencemoohkan, “Persetan! Omong kosong melulu!”

“Huh, kalau bukan hari gembira, jangan harap kalian dapat turun dari sini dengan selamat!”

Lalu seorang lain berseru kepada Lenghou Tiong, “Lenghou-ciangbun, keenam orang gila itu mengacau terus dari tadi, kenapa kau diam saja?”

“Hah, kau panggil Lenghou Tiong sebagai ‘Lenghou-ciangbun’, jadi kau mengakui dia sebagai Ciangbunjin (ketua) Ngo-gak-pay?” teriak Tho-hoa-sian. “Tadi Co Leng-tan sendiri sudah menyatakan bahwa Thay-san-pay, Ko-san-pay, dan lain-lain sudah dihapus dari dunia persilatan, dengan sendirinya ‘ciangbun’ yang kau sebut tentunya dimaksudkan sebagai ciangbun dari Ngo-gak-pay.”

“Meski Lenghou Tiong masih selisih setingkat daripada kami jika dia yang menjabat ketua Ngo-gak-pay, tapi kalau yang lebih baik seperti kami tidak mau, ya, terpaksa boleh juga terima saja tokoh yang lebih rendah sedikit,” ujar Tho-sit-sian.

Lalu Tho-kin-sian berteriak keras-keras, “Nah, Ko-san-pay mengusulkan Lenghou Tiong sebagai ketua Ngo-gak-pay, bagaimana pendapat para hadirin?”

“Setuju!” terdengar beratus-ratus orang berteriak, suaranya nyaring merdu, terang mereka adalah anak murid Hing-san-pay.

Hanya karena salah omong, salah seorang tua Ko-san-pay salah ucap “Lenghou-ciangbun” dan kelemahan ini lantas dipegang oleh Tho-kok-lak-sian, keruan orang Ko-san-pay itu menjadi serbasusah dan bingung, serunya dengan gelagapan, “Tidak, ti… tidak! Bu… bukan… bukan begitu maksudku.”

“Bukan begitu maksudmu? Jika demikian tentu kau anggap kami Tho-kok-lak-sian lebih cocok menjadi ketua Ngo-gak-pay,” seru Tho-kan-sian. “Wah, atas dukungan Saudara dan rasa cintamu kepada kami, terpaksa kami tak bisa menolak dan mau tak mau harus menerimanya.”

“Begini saja,” sambung Tho-ki-sian. “Kami akan pegang pimpinan setahun atau enam bulan, kalau segala urusan sudah berjalan lancar barulah kami serahkan kedudukan penting ini kepada tokoh lain.”

“Betul, betul! Ini namanya tahu kewajiban dan pemimpin bijaksana!” teriak Tho-kok-ngo-sian yang lain.

Sungguh tidak kepalang mendongkolnya Co Leng-tan, dengan nada dingin ia berseru, “Kalian berenam sudah terlalu banyak mengoceh, seakan-akan para kesatria yang hadir di Ko-san ini tak berharga sama sekali, boleh tidak kalau orang lain juga diberi kesempatan bicara sedikit?”

“Boleh, sudah tentu boleh, kenapa tidak boleh?” jawab Tho-hoa-sian. “Ada kata-kata lekas diucapkan, ada kentut lekas dilepaskan!”

Seketika suasana menjadi sunyi malah demi mendengar kata-kata Tho-hoa-sian itu. Maklum, siapa pun tidak mau membuka suara supaya tidak dianggap kentut.

Selang agak lama barulah Co Leng-tan berbicara, “Para hadirin silakan kemukakan pandangan masing-masing, tentang ocehan keenam orang gila ini tak perlu digubris lagi!”

Berbareng Tho-kok-lak-sian menghirup napas panjang-panjang, lalu hidung mereka sama-sama mendengus-dengus dan berkata, “Nyaring benar kentutnya, tapi untung, tidak terlalu bau!”

Seorang tua Ko-san-pay tampil ke muka pula dan berseru, “Ngo-gak-kiam-pay berserikat secara senasib setanggungan, paling akhir ini pimpinan selalu dijabat oleh Co-ciangbun, nama beliau cukup terkenal, wibawanya cukup disegani. Kalau sekarang ngo-pay kita dilebur, dengan sendirinya Co-bengcu pula yang pantas menjadi ciangbunjin kita. Kalau dijabat orang lain, kukira sukar diterima oleh orang banyak.”

“Tidak betul, kurang tepat!” seru Tho-hoa-sian. “Penggabungan kelima aliran adalah peristiwa hebat dan merupakan sejarah baru, oleh karena itu ciangbunjin juga harus diganti yang baru, harus diangkat orang baru.”

“Benar,” sambung Tho-sit-sian. “Jika Co Leng-tan tetap menjadi ketua, itu berarti ganti botol tanpa ganti isi, lalu apa gunanya Ngo-gak-kiam-pay dilebur menjadi satu?”

“Kukira ketua Ngo-gak-pay dapat dijabat oleh siapa pun juga,” kata Tho-ki-sian. “Hanya Co Leng-tan saja yang tidak boleh menjabatnya.”

“Menurut pendapatku, paling baik kalau jabatan ketua ini kita jabat secara bergiliran, seorang menjadi ketua satu hari, hari ini kau yang menjadi ketua, besok ganti aku, lusa dia, semuanya mendapat bagian, tiada satu pun yang dirugikan. Ini namanya adil, tidak pilih kasih, tanpa pandang bulu, barang baik, harga pas!” seru Tho-yap-sian.

“Usulmu ini sungguh teramat bagus!” sambut Tho-kin-sian. “Dan yang pantas menjabat ketua yang pertama adalah nona cilik yang berusia paling muda. Maka aku mengusulkan adik cilik Cin Koan dari Hing-san-pay menjadi ketua Ngo-gak-pay pertama pada hari ini!”

Para anak murid Hing-san-pay serentak bersorak setuju sebab mereka tahu apa yang diucapkan Tho-kok-lak-sian memang sengaja untuk menentang rencana busuk Co Leng-tan. Selain itu ribuan hadirin yang juga senang pada kekacauan juga ikut-ikutan berteriak setuju, sehingga di puncak Ko-san itu seketika menjadi riuh ramai lagi.

Seorang tosu tua dari Ko-san-pay tampil pula dan berseru, “Ketua Ngo-gak-pay harus dijabat oleh seorang yang pandai dan bijaksana, seorang tokoh terkemuka yang punya nama dan berpengaruh, mana bisa jabatan sepenting itu diduduki secara bergiliran, sungguh pikiran anak kecil kalian ini!”

Begitu keras dan lantang suara tosu tua ini sehingga di tengah ribut-ribut itu toh didengar dengan jelas oleh setiap hadirin.

Tho-ki-sian lantas menanggapi, “Orang pandai dan bijaksana dengan nama baik dan berpengaruh? Kukira tokoh dunia persilatan yang memenuhi syarat ini kecuali Tho-kok-lak-sian hanya ketua Siau-lim-si saja yang dapat diterima, yaitu Hong-ting Taysu.”

Setiap kali Tho-kok-lak-sian bicara tadi selalu menimbulkan gelak tertawa orang banyak, semuanya anggap mereka seperti badut saja. Tapi sekarang demi Tho-ki-sian menyebut nama Hong-ting Taysu, seketika suasana menjadi sunyi, semua orang menjadi bungkam.

Maklumlah Hong-ting Taysu adalah tokoh yang dihormati dan disegani oleh setiap orang bu-lim, nama Siau-lim-si juga sangat berpengaruh di dunia persilatan. Maka Hong-ting Taysu memang tak bisa dibantah sebagai seorang yang pandai dan bijaksana, punya nama baik dan berpengaruh.

Begitulah Tho-kin-sian lantas berteriak, “Ketua Siau-lim-si Hong-ting Taysu terhitung tokoh yang pandai dan bijaksana, orang yang punya nama baik dan berpengaruh tidak?”

“Ya, betul, beliau terhitung tokoh nomor satu untuk memenuhi syarat itu!” teriak beribu-ribu hadirin berbareng.

“Bagus!” sambut Tho-kin-sian. “Itu tandanya Hong-ting Taysu telah disetujui dengan suara bulat oleh para hadirin, jika demikian maka ketua Ngo-gak-pay ini kita serahkan untuk dijabat oleh Hong-ting Taysu.”

“Ngaco-belo!” teriak sebagian orang-orang Thay-san-pay dan Ko-san-pay. “Hong-ting Taysu sendiri adalah ketua Siau-lim-pay, apa sangkut pautnya dengan Ngo-gak-pay kita?”

“Tadi tosu tua itu mengatakan jabatan ketua ini harus dipegang oleh seorang tokoh pandai dan bijaksana yang punya nama baik dan berpengaruh. Sekarang kita telah mendapatkan pilihan yang tepat dan sesuai dengan syarat tersebut, yaitu Hong-ting Taysu, memangnya kau berani menyangkal beliau tidak memenuhi syarat-syarat itu? Huh, coba katakan kalau kau minta kami ganyang lebih dulu.”

“Hong-ting Taysu memang seorang tokoh yang harus dihormati oleh siapa pun juga,” kata Giok-ki-cu dari Thay-san-pay. “Tetapi yang kita pilih sekarang adalah ketua Ngo-gak-pay, sedangkan Hong-ting Taysu adalah tamu, mana boleh beliau diikutsertakan dalam urusan ini.”

“O, jadi maksudmu Hong-ting Taysu tak dapat dipilih menjadi ketua Ngo-gak-pay lantaran Siau-lim-si kau anggap tiada sangkut pautnya dengan Ngo-gak-pay?” tanya Tho-kan-sian.

“Benar,” jawab Giok-ki-cu.

“Mengapa Siau-lim-pay tiada sangkut pautnya dengan Ngo-gak-pay? Aku justru mengatakan sangat besar sangkut pautnya! Coba katakan, Ngo-gak-pay terdiri dari kelima pay apa?” tanya Tho-kan-sian.

“Ah, Saudara ini sudah tahu sengaja tanya,” ujar Giok-ki-cu. “Ngo-gak-pay jelas terdiri dari Ko-san, Heng-san, Thay-san, Hing-san, dan Hoa-san-pay.”

“Salah, salah besar!” seri Tho-hoa-sian dan Tho-sit-sian berbareng. “Tadi Co Leng-tan menyatakan bahwa setelah Ngo-gak-kiam-pay bergabung, maka nama Thay-san-pay, Ko-san-pay segala takkan dipertahankan lagi, mengapa sekarang kau menyebut lagi kelima pay itu?”

“Ini tandanya dia tidak pernah melupakan golongannya sendiri, begitu ada kesempatan tentu dia akan menegakkan kembali kebesaran Thay-san-pay,” sambung Tho-yap-sian.

Banyak hadirin yang tertawa geli, mereka pikir Tho-kok-lak-sian tampaknya suka gila-gilaan, tapi asal lawan sedikit salah bicara segera didebat oleh mereka sehingga mati kutu.

Maklumlah, sejak mulai dapat bicara Tho-kok-lak-sian lantas suka bantah-membantah dan debat-mendebat di antara saudara-saudaranya sendiri, selama berpuluh tahun pekerjaan mereka hanya berdebat melulu, ditambah lagi enam kepala digunakan sekaligus, enam mulut mengap berbareng, tentu saja orang lain kewalahan menghadapi mereka berenam.

Begitulah Giok-ki-cu menjadi tersipu-sipu oleh debatan Tho-kok-lak-sian tadi, terpaksa ia berkata, “Huh, Ngo-gak-pay punya keenam anggota istimewa macam kalian, sungguh sial.”

“Kau bilang Ngo-gak-pay sial? Itu berarti kau menghina Ngo-gak-pay dan tidak sudi masuk Ngo-gak-pay,” kata Tho-hoa-sian.

“Ngo-gak-pay kita didirikan pada hari pertama ini sudah kau sumpahi dengan ucapan sial, padahal kita semua mengharapkan Ngo-gak-pay akan berkembang dan berjaya di dunia persilatan, Giok-ki Totiang, mengapa hatimu begitu jahat dan sengaja mengutuki?” sambung Tho-sit-sian.

“Ya, itu menandakan Giok-ki Tojin menghendaki kegagalan pendirian Ngo-gak-pay kita, maksud jahat seperti ini mana boleh kita mengampuni dia?” kata Tho-yap-sian.

Pada umumnya orang Kangouw paling sirik pada kata-kata yang bersifat menyumpahi, karena itu banyak di antara hadirin sepaham dengan Tho-kok-lak-sian dan anggap Giok-ki-cu memang tidak pantas mengatakan Ngo-gak-pay sial pada hari pertama ini.

Rupanya Giok-ki-cu merasa telah telanjur salah omong, ia menjadi bungkam dengan penuh mendongkol.

Segera Tho-kan-sian berseru, “Kami mengatakan Siau-lim-pay besar sangkut pautnya dengan Ko-san, tapi Giok-ki Tojin justru bilang tiada sangkut pautnya. Sebenarnya bagaimana? Kau yang salah atau kami yang betul?”

Dengan gemas Giok-ki-cu menjawab, “Kau suka mengatakan ada sangkut pautnya, maka anggap saja kau yang benar.”

“Haha, segala urusan di dunia ini memangnya tak bisa mengingkari suatu hal, yakni kebenaran,” kata Tho-kan-sian. “Coba katakan, Siau-lim-si terletak di gunung mana? Dan Ko-san-pay terletak di gunung mana pula?”

“Siau-lim-si terletak di Siau-sit-san dan Ko-san-pay di Thay-sit-san, baik Siau-sit-san maupun Thay-sit-san termasuk pegunungan di lingkungan Ko-san, betul tidak? Nah, kenapa Giok-ki Tojin mengatakan Siau-lim-pay tiada sangkut pautnya dengan Ko-san-pay?”

Kata-kata ini nyatanya betul dan bukan pokrol-pokrolan, mau tak mau para hadirin manggut-manggut setuju.

Lalu Tho-ki-sian menyambung lagi, “Tadi Gak-siansing mengatakan bahwa setelah penggabungan nanti akan banyak mengurangi pertentangan di antara sesama orang Kangouw, makanya beliau menyetujui peleburan Ngo-gak-kiam-pay. Beliau mengatakan pula yang ilmu silatnya mendekati satu sama lain atau yang tempatnya berdekatan sebaiknya saling gabung. Bicara tentang tempat yang berdekatan kukira hanya Siau-lim-pay dan Ko-san-pay yang sama-sama terletak di suatu pegunungan yang sama. Kalau Siau-lim-pay dan Ko-san-pay tidak bergabung, maka apa yang dikatakan Gak-siansing bukankah seperti ken… kentut belaka.”

Semua orang tertawa mendengar Tho-ki-sian hendak menahan “kentut”, namun mereka pun merasa apa yang dikatakan Tho-ki-sian memang bukannya tidak beralasan.

Tho-kin-sian lantas berkata, “Hong-ting Taysu adalah tokoh pilihan umum, maka kalau terjadi penggabungan Siau-lim-pay dan Ko-san-pay, lalu dilebur pula ke dalam Ngo-gak-pay, maka kami Tho-kok-lak-sian yang pertama-tama tunduk kepada beliau dan taat kepada beliau sebagai ciangbunjin. Memangnya ada di antara hadirin yang tidak tunduk?”

“Jika ada yang tidak tunduk, hayolah silakan tampil ke muka dan coba-coba ukur tenaga lebih dulu dengan kami Tho-kok-lak-sian,” sambung Tho-hoa-sian. “Bila dapat mengalahkan Tho-kok-lak-sian kami, nanti baru coba-coba dengan Hong-ting Taysu. Kalau Hong-ting Taysu juga dikalahkan, masih ada lagi jago-jago Siau-lim-si yang lain seperti padri-padri sakti dari Tat-mo-ih, Lo-han-tong, dan lain-lain. Bila tokoh-tokoh simpanan Siau-lim-si itu juga kalah, kemudian silakan bertanding pula dengan Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay….”

“Lho, kenapa Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay kau bawa-bawa, Saudaraku?” tanya Tho-sit-sian.

“Habis, Bu-tong-pay dan Siau-lim-pay kan dua aliran yang mempunyai hubungan paling erat,” jawab Tho-hoa-sian. “Kalau Siau-lim-pay dikalahkan orang, mustahil Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay tinggal diam saja?”

“Ya, benar juga,” kata Tho-sit-sian. “Dan kalau Tiong-hi Totiang juga kalah, akhirnya silakan bertanding pula dengan Tho-kok-lak-sian.”

“He, pertandingan dengan kita Tho-kok-lak-sian kan sudah dilakukan tadi, kenapa diulangi?” ujar Tho-kin-sian.

“Tadi memang sudah, tapi kita hanya kalah satu kali saja masakah lantas rela menyerah?” jawab Tho-sit-sian. “Tentu saja kita masih harus labrak si keparat itu secara mati-matian sampai akhir zaman.”

Riuh rendah seketika suara tertawa orang banyak, bahkan ada yang bersuit.

Keruan tidak kepalang gusar Giok-ki-cu, ia tidak sabar lagi dan lantas melompat maju, teriaknya, “Tho-kok-lak-koay, aku Giok-ki-cu yang pertama-tama tidak tunduk dan hendak mencoba-coba kemampuan kalian!”

“Ah, kita kan sama-sama orang Ngo-gak-pay, bila bergebrak bukankah berarti saling bunuh-membunuh?” ujar Tho-kin-sian.

“Kalian terlalu cerewet dan membikin muak,” kata Giok-ki-cu. “Jika kalian dilenyapkan dari Ngo-gak-pay tentu suasana akan menjadi tenang dan aman.”

“E-eh, jadi timbul nafsu membunuh pada dirimu, kau ingin membinasakan kami berenam?” kata Tho-kan-sian.

Giok-ki-cu mendengus saja tanpa menjawab, diam-diam berarti membenarkan pertanyaan orang.

Tho-ki-sian berkata, “Hari ini ngo-pay kita baru bergabung dan kau sudah berniat membunuh kami berenam dari Hing-san-pay, lalu cara bagaimana kita bisa bekerja sama pada waktu-waktu yang akan datang?”

“Jika kalian sudah tahu perlu adanya kerja sama yang baik, maka ocehan-ocehan kalian yang mengganggu urusan penting hendaknya jangan diucapkan lagi,” jawab Giok-ki-cu dengan menahan gusar.

“Tapi kalau ucapan-ucapan yang bermanfaat bagi Ngo-gak-pay dan kata-kata baik demi kepentingan kawan dunia persilatan, apakah juga tidak boleh diucapkan?” tanya Tho-yap-sian.

“Hm, rasanya kalian takkan mengemukakan ucapan-ucapan baik sebagaimana kalian maksudkan!” jengek Giok-ki-cu.

“Soal siapa yang pantas menjadi ketua Ngo-gak-pay bukankah soal yang penting bagi Ngo-gak-pay kita sendiri dan juga bersangkut paut dengan kepentingan dunia persilatan umumnya?” ujar Tho-hoa-sian. “Sedari tadi kami telah menyarankan seorang tokoh terkemuka dan disegani dunia persilatan umumnya untuk menjadi ketua kita tapi kau tidak setuju, rupanya kau mempunyai kepentingan pribadi dan ingin mendukung calonmu sendiri yang telah memberi sogok tiga ribu tahil emas dan empat perempuan cantik padamu itu.”

Giok-ki-cu menjadi gusar karena dituduh terima sogokan, teriaknya, “Kau mengaco-belo belaka! Siapakah yang pernah memberi tiga ribu tahil emas dan empat perempuan cantik padaku?”

“Ah, jangan kau mungkir?” jawab Tho-hoa-sian. “Bisa jadi aku salah sebut angkanya, kalau bukan tiga ribu tahil tentulah empat ribu tahil. Kalau tidak empat perempuan cantik tentulah tiga atau lima. Siapa yang memberikannya padamu masakah kau sendiri tidak tahu dan pura-pura tanya? Siapa calon ketuamu, dia itulah yang menyogok kau.”

“Sret”, segera Giok-ki-cu melolos pedang, bentaknya, “Jika kau mengoceh tak keruan lagi, segera kubikin kau mandi darah di sini!”

Tapi Tho-hoa-sian terbahak-bahak malah sambil melangkah maju dengan membusungkan dada. Katanya, “Dengan keji dan licik kau telah membunuh ketua Thay-san-pay kalian sendiri, sekarang kau hendak mencelakai orang lain lagi? Hayolah maju, jika berani cobalah bikin aku mandi darah di sini. Thian-bun Tojin sudah kau sembelih, membunuh anggota perguruan sendiri memang adalah kemahiranmu yang khas, sekarang boleh kau coba-coba cara yang sama atas diriku.”

Sembari bicara ia terus mendekati Giok-ki-cu.

“Berhenti!” bentak Giok-ki-cu sambil mengacungkan pedangnya ke depan. “Satu langkah lagi kau maju segera kuserang kau!”

“Haha, untuk menyerang saja memangnya kau perlu permisi dulu?” ejek Tho-hoa-sian. “Puncak Ko-san ini bukan hak milikmu, ke mana aku suka, ke sana pula aku bebas melangkah pergi, memangnya kau ada hak buat merintangi aku?”

Habis berkata kembali ia melangkah maju sehingga jaraknya dengan Giok-ki-cu tinggal beberapa kaki jauhnya.

Melihat wajah Tho-hoa-sian yang buruk dengan gigi-gigi yang kuning menyeringai, rasa muak Giok-ki-cu bertambah hebat, tanpa pikir pedangnya terus menusuk ke dada Tho-hoa-sian.

Cepat Tho-hoa-sian mengegos sambil memaki, “Bangsat busuk, kau ben… benar-benar ingin berkelahi?”

Ternyata Giok-ki-cu telah menguasai ilmu pedang Thay-san-pay dengan sempurna, serangan pertama segera disusul serangan kedua yang lebih lihai dan cepat. Dalam sekejap saja Tho-hoa-sian terpaksa harus menghindari empat kali serangan. Makin menyerang makin cepat gerak pedang Giok-ki-cu, Tho-hoa-sian sampai tidak sempat melolos pedang sendiri untuk menangkis. Di tengah berkelebatnya sinar pedang, “cret”, bahu kiri Tho-hoa-sian tertusuk. Tapi pada saat yang hampir sama segera pedang Giok-ki-cu lantas terpental ke udara, menyusul tubuhnya terangkat ke atas, kedua tangan dan kedua kakinya masing-masing telah dipegang oleh Tho-kin-sian, Tho-kan-sian, Tho-ki-sian, dan Tho-yap-sian berempat.

Apa yang terjadi itu sungguh teramat cepat, bahkan suatu bayangan kuning lantas berkelebat datang pula disertai mengilatnya sinar pedang, seorang telah membacok kepala Tho-ki-sian dengan pedangnya.

Namun Tho-sit-sian sudah berjaga di samping, segera ia menangkis dengan pedangnya. Menyusul orang itu lantas mengalihkan serangannya ke dada Tho-kin-sian. Tapi Tho-hoa-sian juga sudah siap dan menangkisnya dengan pedangnya. Ketika diperhatikan, kiranya penyerang itu adalah ketua Ko-san-pay, Co Leng-tan adanya.

Sejak tadi Co Leng-tan sudah tahu Tho-kok-lak-sian memiliki kepandaian yang hebat meski ucapan mereka angin-anginan dan ugal-ugalan. Sekarang dilihatnya Giok-ki-cu kena ditangkap pula oleh keenam orang aneh itu, bila terlambat menolongnya tentu Giok-ki-cu akan mengalami nasib tubuh terkoyak-koyak. Sebagai tuan rumah mestinya Co Leng-tan tidak pantas turun tangan, tapi menghadapi detik bahaya itu terpaksa ia menyelamatkan dulu jiwa Giok-ki-cu. Dua kali ia menyerang Tho-ki-sian dan Tho-kin-sian dengan tujuan memaksa kedua orang itu lepaskan Giok-ki-cu. Tak terduga Tho-kok-lak-sian dapat bekerja sama dengan sangat rapat, empat saudaranya memegangi sasaran, dua orang lagi lantas siap menjaga di samping sehingga dua kali serangan Co Leng-tan dapat ditangkis oleh Tho-hoa-sian dan Tho-sit-sian.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: