Hina Kelana: Bab 112. Siapa yang Berdiri di Belakang Tho-kok-lak-sian

Dengan lantang Co Leng-tan menjawab, “Guru kalian mempunyai pandangan jauh dan perhitungan mendalam, beliau adalah tokoh paling hebat dari Ngo-gak-kiam-pay kita, selamanya aku pun sangat kagum padanya. Cuma sayang beliau telah meninggal di Siau-lim-si tempo hari, kalau beliau masih hidup, maka ketua Ngo-gak-pay hari ini rasanya takkan diperebutkan lagi, cukup serahkan saja kepada Ting-sian Suthay.”Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula, “Dahulu di waktu Cayhe berunding tentang penggabungan Ngo-gak-kiam-pay dengan Ting-sian Suthay bertiga, secara tegas Cayhe juga pernah menyatakan bilamana peleburan Ngo-gak-kiam-pay jadi dilaksanakan, maka jabatan ketua Ngo-gak-pay sudah pasti akan kuminta Ting-sian Suthay yang menjabatnya. Tatkala mana Ting-sian Suthay secara rendah hati telah menolak usulku, tapi setelah Cayhe menyarankan dengan sungguh-sungguh, akhirnya Ting-sian Suthay tidak menolak lagi. Tapi, ai, sungguh harus disesalkan, seorang kesatria wanita yang belum merampungkan darmabakti itu sudah mendahului meninggal di Siau-lim-si, sungguh membikin hati sedih dan gegetun.”

Berturut-turut ia dua kali menyebut Siau-lim-si, secara samar-samar ucapannya itu hendak mengingatkan orang bahwa kematian Ting-sian dan Ting-yat Suthay itu adalah perbuatan pihak Siau-lim-si, seumpama pembunuhnya bukan orang Siau-lim-pay, tapi tempat kejadian itu adalah tempat suci yang diagungkan dunia persilatan, namun pembunuh itu tetap berani melakukan kejahatannya, maka betapa pun pihak Siau-lim-pay harus ikut bertanggung jawab.

Tiba-tiba suara seorang serak kasar berteriak, “Ucapan Co-ciangbun kurang tepat. Dahulu Ting-sian Suthay pernah berkata padaku, katanya beliau justru mendukung engkau menjadi ketua Ngo-gak-pay.”

Co Leng-tan menjadi senang, ia coba memandang ke arah pembicara, dilihatnya orang itu berwajah buruk dan aneh, kepala kecil lancip, mata kecil seperti tikus, ternyata tidak dikenalnya. Tapi dari bajunya yang berwarna hitam dapat diketahui adalah orang Hing-san-pay. Di sebelahnya berdiri pula lima orang yang berwajah serupa, dandanan juga sama. Ia tidak tahu bahwa keenam orang itu adalah Tho-kok-lak-sian.

Meski senang dalam hati, tapi lahirnya Co Leng-tan pura-pura dingin saja, katanya, “Siapakah nama Saudara yang mulia ini? Meski dahulu Ting-sian Suthay memang pernah menyarankan demikian, tapi kalau Cayhe dibandingkan beliau boleh dikata jauh untuk bisa memadai.”

Yang baru bicara itu adalah Tho-kin-sian, dia berdehem satu kali, lalu menjawab, “Aku bernama Tho-kin-sian, kelima orang ini adalah saudara-saudaraku.”

“O, sudah lama kagum, sudah lama kagum!” ujar Co Leng-tan.

“Apa yang menjadikan kau kagum kepada kami?” tanya Tho-ki-sian. “Kagum terhadap ilmu silat kami atau kagum terhadap kecerdikan kami?”

“Buset, kiranya orang dogol,” demikian Co Leng-tan membatin dalam hati. Tapi mengingat kata-kata Tho-kin-sian yang memujinya tadi, ia lantas menjawab, “Baik ilmu silat maupun kecerdikan kalian sudah lama kukagumi.”

“Ilmu silat kami sih tidak seberapa,” sela Tho-kan-sian. “Bila kami berenam maju sekaligus memang lebih tinggi sedikit daripada kau Co-bengcu, tapi kalau satu lawan satu harus diakui selisih rada jauh.”

“Namun kalau bicara tentang kecerdikan memang kami jauh lebih tinggi daripadamu,” sambung Tho-hoa-sian.

“Betulkah begitu?” jengek Co Leng-tan sambil mengerut kening.

“Sedikit pun tidak salah,” sahut Tho-hoa-sian. “Begitulah dikatakan oleh Ting-sian Suthay dahulu.”

“Ya, dahulu di waktu Ting-sian Suthay mengobrol dengan Ting-cing dan Ting-yat Suthay bila bicara tentang penggabungan Ngo-gak-kiam-pay, sering kali Ting-sian Suthay mengatakan bahwa orang yang paling tepat menjabat ketua Ngo-gak-pay adalah Co-bengcu dari Ko-san. Kau percaya tidak apa yang dikatakan Ting-sian Suthay?”

“Itu karena Ting-sian Suthay menghargai diriku, tapi aku sendiri tidak berani menerimanya,” ujar Co Leng-tan.

“Kau jangan senang dahulu,” kata Tho-kin-sian. “Sebab Ting-cing Suthay berpendapat lain, beliau mengatakan engkau Co-bengcu memang seorang kesatria, kalau dibandingkan para tokoh persilatan umumnya, memang termasuk pilihan yang baik bila engkau diangkat menjadi ketua Ngo-gak-pay, namun beliau anggap kau terlalu nafsu, terlalu mementingkan diri pribadi, berpikiran sempit, dada kurang lapang, bila kau jadi diangkat menjadi ketua, maka yang paling celaka tentulah anak murid Hing-san-pay yang terdiri dari kaum wanita semua ini.”

“Ya, maka Ting-sian Suthay lantas berkata bahwa untuk calon ketua yang bijaksana sudah tersedia enam kesatria sejati di sini,” sambung Tho-kan-sian. “Keenam kesatria ini tidak cuma tinggi dalam ilmu silat, bahkan pengetahuannya luas dan cerdik, mereka sangat cocok untuk diangkat menjadi ketua Ngo-gak-pay.”

“Enam kesatria?” jengek Co Leng-tan. “Hm, mana keenam orang itu?”

“Aha, tak-lain tak-bukan ialah kami berenam saudara ini,” jawab Tho-hoa-sian.

Maka bergemuruhlah suara tertawa orang banyak oleh kata-kata Tho-hoa-sian itu. Sebagian besar para hadirin itu tidak kenal Tho-kok-lak-sian, tapi melihat wajah mereka yang aneh dan tingkah laku yang lucu, kata-katanya jenaka, malah sekarang mengaku punya kepandaian tinggi dan pengetahuan yang luas, tentu saja mereka merasa geli.

Begitulah Tho-ki-sian lantas ikut menyambung, “Dahulu ketika Ting-sian Suthay menyebut ‘keenam kesatria’, seketika Ting-cing dan Ting-yat Suthay teringat kepada kami berenam saudara, maka serentak mereka bersorak setuju. Eh, apa yang dikatakan Ting-yat Suthay ketika itu, apakah kau masih ingat, Saudaraku?”

“Sudah tentu aku masih ingat,” sahut Tho-sit-sian. “Di tengah sorak gembira ketiga tokoh itu, Ting-yat Suthay lantas berkata, ‘Tho-kok-lak-sian memang selisih sedikit kalau dibandingkan Hong-ting Taysu dari Siau-lim-si, masih lebih rendah juga kalau dibandingkan Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay. Tapi dibandingkan tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay pada umumnya boleh dikata tiada seorang pun yang mampu menandingi mereka. Betul tidak, kedua Suci?’

“Maka Ting-cing Suthay telah menjawab, ‘Sebenarnya bicara tentang ilmu silat dan pengetahuan sesungguhnya Ting-sian Suci masih di atas Tho-kok-lak-sian, cuma sayang kita adalah kaum wanita, untuk menjadi ketua Ngo-gak-pay dan memimpin beribu-ribu pahlawan dan kesatria rasanya rada-rada repot. Maka dari itu, memang paling baik kita menyarankan Tho-kok-lak-sian saja yang menjadi ketua Ngo-gak-pay.’”

Semakin mendengar semakin geli Lenghou Tiong, ia tahu Tho-kok-lak-sian sengaja meledek Co Leng-tan dan mengacaukan pertemuan ini. Kalau Co Leng-tan berani mengarang ucapan orang-orang yang sudah mati, apa salahnya kalau Tho-kok-lak-sian juga membual sehingga Co Leng-tan mati kutu.

Soal penggabungan Ngo-gak-kiam-pay, di antara para hadirin itu kecuali anak buah Ko-san-pay beserta sebagian kecil orang-orang yang sudah berkomplot dengan Co Leng-tan, selebihnya boleh dikata tidak setuju. Ada tokoh-tokoh yang berpandangan jauh seperti Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin, mereka khawatir kalau kekuatan Co Leng-tan bertambah besar dan kelak tentu akan menimbulkan bencana bagi dunia Kangouw. Ada yang menyaksikan kematian Thian-bun Tojin tadi secara mengenaskan serta sikap Co Leng-tan yang garang, hal ini telah menimbulkan rasa benci dan memuakkan mereka. Sedangkan orang-orang seperti Lenghou Tiong dan anak murid Hing-san-pay, mereka menduga pasti Co Leng-tan yang membunuh Ting-sian Suthay bertiga, maka yang mereka cita-citakan adalah menuntut balas, dan dengan sendirinya mereka paling tegas memusuhi pihak Ko-san-pay. Maka dari itu mereka menjadi senang, bahkan banyak yang tertawa riuh melihat Co Leng-tan mati kutu menghadapi Tho-kok-lak-sian yang bicara secara lucu itu.

Maka terdengarlah suara seorang berseru, “Tho-kok-lak-sian, apa yang diucapkan Ting-sian Suthay bertiga itu, siapa lagi yang mendengarkan?” Agaknya pembicara ini adalah begundalnya Co Leng-tan.

Dengan tertawa Tho-kin-sian menjawab, “Berpuluh anak murid Hing-san-pay juga ikut mendengarkan. Betul tidak, Nona The?”

The Oh menahan rasa gelinya dan menjawab, “Betul! Co-ciangbun, kau sendiri bilang guruku menyetujui penggabungan Ngo-gak-kiam-pay, siapa lagi yang mendengar ucapan beliau ini? Wahai para suci dan sumoay dari Hing-san-pay, adakah di antara kalian pernah mendengar ucapan demikian dari suhuku?”

“Tidak, tidak pernah dengar,” jawab berpuluh murid Hing-san-pay secara serentak. Bahkan ada yang berteriak, “Tentu Co-ciangbun sendiri yang mengarang cerita demikian.”

Seorang lagi menyambung, “Dibandingkan Co-ciangbun, suhu kami jelas lebih mendukung Tho-kok-lak-sian. Sebagai murid beliau masakah kami tidak tahu pikiran guru sendiri?”

Di tengah suara tertawa orang banyak, dengan suara keras Tho-ki-sian lantas berseru, “Nah, betul tidak kata-kata kami? Kami tidak berdusta bukan? Malahan kemudian Ting-sian Suthay berkata pula, ‘Setelah bergabung, yang menjabat ketua Ngo-gak-pay hanya satu orang saja, padahal Tho-kok-lak-sian terdiri dari enam orang, lalu siapa di antaranya yang harus diangkat?’

“Eh, Saudaraku, apa yang dijawab oleh Ting-cing Suthay waktu itu?”

“Beliau mengatakan… mengatakan, o ya, katanya, ‘Biar ngo-pay dilebur menjadi satu, tapi kelima gunung yang menjadi empat kedudukan kelima aliran itu toh tak bisa dikumpulkan menjadi satu, sedangkan Co Leng-tan juga bukan malaikat dewata, apa dia mampu memindahkan kelima gunung itu untuk dipersatukan? Maka dari itu Tho-kok-lak-sian diminta membagi lima orang untuk menduduki kelima pegunungan itu, sisanya seorang lagi adalah pemimpin pusat.’

“Lalu Ting-yat Suthay menanggapi, ‘Pendapat Suci memang benar. Rupanya ayah-bunda Tho-kok-lak-sian sudah tahu sebelumnya bahwa kelak Co Leng-tan akan melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu, maka sengaja melahirkan mereka enam bersaudara. Kenapa tidak melahirkan lima orang atau tujuh orang, tapi bikin pas enam orang. Sungguh harus dikagumi kepandaian ayah-bunda Tho-kok-lak-sian itu.’”

Mendengar kata-kata jenaka ini, seketika bergemuruhlah suara tawa orang banyak.

Sebenarnya rencana Co Leng-tan dalam pertemuan ini akan dilaksanakan secara khidmat dan tertib agar disegani oleh para kesatria yang hadir, siapa duga mendadak muncul enam manusia dogol dan mengacaukan upacara yang diagungkan ini. Keruan gusar Co Leng-tan tak terlukiskan. Cuma sayang dia sendiri adalah tuan rumah sehingga terpaksa harus bersabar sedapat mungkin. Tapi di dalam batin ia mengutuk Tho-kok-lak-sian dan mengambil keputusan bila urusan penting sudah selesai, maka keenam keparat ini pasti akan dibinasakan olehnya.

Dalam pada itu Tho-sit-sian mendadak menangis keras-keras, teriaknya, “Wah, tidak bisa, tidak bisa jadi. Kami berenam saudara sejak keluar dari perut ibu selamanya tak pernah berpisah satu sama lain, bilamana sekarang kami masing-masing harus menjabat ketua dari kelima aliran sehingga terpaksa terpencar di lima tempat, ini takkan kulakukan, takkan kulakoni.”

Cara menangisnya begitu sungguh-sungguh, seakan-akan kedudukan mereka di lima gunung untuk menjabat ketua kelima aliran itu sudah ditetapkan dengan pasti, maka merasa tidak tega untuk berpisah dengan saudaranya.

Terdengar Tho-kan-sian lantas menanggapi, “Tak perlu Adik bersedih, kita berenam pasti takkan berpisah, kau tidak tega berpisah dengan para kakak-kakak, maka kakakmu ini pun tidak tega berpisah dengan adikku. Maka jalan paling baik supaya kita tidak diangkat menjadi pemimpin kelima gunung yang terpisah jauh satu sama lain itu, terpaksa kita harus menyatakan antipenggabungan Ngo-gak-kiam-pay ini.”

“Ya, seumpama benar harus dilebur juga perlu tunggu sampai nanti di tengah Ngo-gak-kiam-pay sudah muncul seorang pahlawan sejati, seorang kesatria tulen yang lebih berwibawa daripada kita berenam, yang cocok untuk memimpin Ngo-gak-pay, dengan begitulah baru kita dapat menyetujui penggabungan ini.”

Melihat keenam orang itu masih terus mengoceh tak keruan, Co Leng-tan pikir harus ambil tindakan tegas dan tepat untuk mengatasi keadaan, maka segera ia berteriak, “Sesungguhnya ketua Hing-san-pay dijabat kalian berenam kesatria ini ataukah masih ada orang lain lagi? Apakah urusan Hing-san-pay telah dikuasakan kepada kalian?”

“Kalau kami berenam kesatria besar ini mau menjabat ketua Hing-san-pay sebenarnya bukan soal,” jawab Tho-ki-sian. “Tapi mengingat ketua Ko-san-pay adalah engkau ini, bila kami menjadi ketua Hing-san-pay, itu akan berarti kami harus berdiri sama tinggi dan berduduk sama rendah dengan orang she Co seperti kau, untuk ini, hehe, hehe….”

“Berdiri sama tinggi dengan dia sudah tentu akan sangat merosotkan derajat kami berenam, sebab itulah ketua Hing-san-pay terpaksa kami serahkan kepada Lenghou-kongcu untuk menjabatnya,” sambung Tho-hoa-sian.

Sungguh tidak kepalang rasa murka Co Leng-tan, dengan dingin ia berkata kepada Lenghou Tiong, “Lenghou-kongcu, engkau adalah ketua Hing-san-pay, kenapa kau tidak dapat mengajar mereka dan membiarkan dia mengoceh tak keruan di depan para kesatria, kan membikin malu saja?”

“Keenam saudara ini bicara secara kekanak-kanakan tanpa tedeng aling-aling, tapi sesungguhnya mereka bukan manusia yang suka mengarang kata-kata ngawur dan omongan dusta,” jawab Lenghou Tiong. “Mereka hanya menguraikan kembali apa yang pernah diucapkan mendiang ketua kami Ting-sian Suthay, sudah tentu jauh lebih dapat dipercaya daripada orang luar yang suka ngaco-belo tanpa dasar.”

“Hm, jadi penggabungan Ngo-gak-kiam-pay sekarang hanya Hing-san-pay kalian yang mempunyai pendirian berbeda?” jengek Co Leng-tan.

“Hing-san-pay sih tiada pendirian yang tersendiri. Gak-siansing, ketua Hoa-san-pay adalah guruku yang berbudi yang pertama mengajarkan kepandaian padaku, meski Cayhe sekarang telah masuk di aliran lain, tapi tak berani melupakan ajaran-ajaran guruku di masa lampau.”

“Jika demikian, jadi kau masih tetap tunduk kepada apa yang dikatakan Gak-siansing dari Hoa-san?” Co Leng-tan menegas.

“Benar,” sahut Lenghou Tiong. “Hing-san-pay kami dan Hoa-san-pay tetap bahu-membahu dan gotong royong satu hati.”

Co Leng-tan lantas berpaling ke arah Hoa-san-pay dan berseru, “Gak-siansing, Lenghou-ciangbun ternyata tidak melupakan budi kebaikanmu terhadapnya di masa lampau, sungguh aku ikut gembira dan bahagia bagimu. Dalam hal penggabungan Ngo-gak-kiam-pay ini apakah engkau pro atau anti, yang jelas Lenghou-ciangbun telah menyatakan akan mengikuti haluanmu. Lantas bagaimana dengan pendirianmu?”

“Terima kasih atas pertanyaan Co-bengcu ini,” jawab Gak Put-kun dengan tenang-tenang. “Mengenai urusan penggabungan ini Cayhe memang pernah mempertimbangkannya secara masak-masak, tapi untuk mengambil suatu keputusan yang sempurna, sungguh tidaklah gampang.”

Seketika perhatian semua orang beralih atas diri Gak Put-kun. Sebagian besar di antara hadirin itu berpikir, “Heng-san-pay sudah lemah kekuatannya, Thay-san-pay terpecah belah sehingga tidak mampu menandingi Ko-san-pay, kalau sekarang Hoa-san-pay berdiri satu pihak dengan Hing-san-pay tentu akan sanggup menandingi Ko-san-pay.”

Terdengar Gak Put-kun berkata pula, “Selama sejarah Hoa-san-pay kami pernah terjadi pertentangan antara Kiam-cong dan Khi-cong. Banyak di antara locianpwe yang hadir tentu masih ingat. Maka kalau teringat kepada pertentangan di antara orang sendiri secara kejam di masa lalu itu, sungguh sampai sekarang Cayhe masih merasa ngeri….”

Lenghou Tiong menjadi heran mengapa Gak Put-kun hari ini mencerocos tentang urusan dalam Hoa-san-pay yang biasanya tidak suka diceritakannya kepada orang luar, sebab pertentangan Khi-cong dan Kiam-cong sesama Hoa-san-pay itu betapa pun memalukan bila diketahui orang.

Dalam pada itu terdengar Gak Put-kun melanjutkan kata-katanya dengan suara yang melengking nyaring berkumandang jauh, diam-diam Lenghou Tiong pikir sang guru ternyata sudah mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari ilmu “Ci-he-sin-kang” yang dilatihnya itu.

Terdengar Gak Put-kun lagi berkata, “Sebab itulah Cayhe merasa di antara berbagai golongan dan aliran persilatan kita ini daripada terpecah belah adalah lebih baik tergabung menjadi satu. Selama beratus-ratus, bahkan beribu-ribu tahun entah sudah betapa banyak para kawan bu-lim yang telah menjadi korban bunuh-membunuh, semuanya itu adalah karena gara-gara perbedaan paham, perselisihan golongan. Cayhe sering kali berpikir, bilamana dunia persilatan kita tiada perbedaan golongan dan perguruan, semua orang adalah anggota satu keluarga besar saja, satu sama lain laksana saudara sekandung, maka dapat dipastikan setiap percekcokan dan pertumpahan darah tentu akan dapat dikurangi.”

Pada umumnya orang persilatan memang sering mengalami nasib mati pada usia muda dan meninggalkan anak istri yang merana. Maka kata-kata Gak Put-kun sebenarnya tepat mengenai lubuk hati sebagian besar di antara hadirin. Tidak heran kalau banyak di antaranya sama manggut-manggut dan ada yang memuji keluhuran budi Gak Put-kun sesuai dengan julukannya, yaitu “Kun-cu-kiam”, Si Pedang Kesatria Sejati.

Begitulah Gak Put-kun melanjutkan pula, “Namun karena perbedaan di antara sumber ilmu silat yang diyakinkan masing-masing aliran, cara berlatihnya juga berlainan, maka untuk mempersatukan orang-orang persilatan sehingga tanpa membedakan golongan dan aliran, sungguh bukan persoalan yang mudah.”

“Siancay! Siancay!” Hong-ting Taysu bersabda. “Kata-kata Gak-siansing ini benar-benar mahabijaksana. Bilamana setiap orang persilatan mempunyai jalan pikiran seperti Gak-siansing, maka kekacauan dunia ini tentu akan hilang sirna tanpa bekas.”

“Ah, Taysu terlalu memuji,” kata Gak Put-kun. “Sedikit pendapat Cayhe yang dangkal ini tentunya sebelumnya sudah menjadi buah pikiran para padri sakti turun-temurun dari Siau-lim-pay. Sebenarnya dengan nama dan pengaruh Siau-lim-si, asalkan mau tampil ke muka dan menyerukan persatuan, maka setiap orang yang berpandangan jauh tentu akan setuju dan pasti akan banyak manfaatnya selama ratusan tahun terakhir ini. Namun sampai sekarang di antara berbagai golongan dan aliran masih terus bertentangan satu sama lain baik secara terang-terangan maupun secara gelap-gelapan sehingga banyak mengorbankan jiwa dan harta. Bahwasanya selama ini banyak di antara tokoh bijaksana telah menyelami betapa besar bencana yang ditimbulkan karena perbedaan golongan dan aliran, lalu mengapa kita tidak bertekad untuk melenyapkannya? Cayhe benar-benar bingung, sudah sekian lamanya Cayhe merenungkan persoalan ini, baru beberapa hari yang lalu Cayhe sadar dan memahami di mana letaknya kunci untuk memecahkan persoalan ini. Karena urusan ini menyangkut nasib setiap kawan persilatan, Cayhe tidak berani merahasiakan hasil pemikiranku ini, maka ingin kukemukakan di sini dan minta pertimbangan para hadirin.”

“Silakan bicara, silakan bicara,” seru orang banyak. “Pendapat Gak-siansing pasti sangat bagus!”

Setelah suasana rada tenang kembali barulah Gak Put-kun bicara pula, “Setelah Cayhe merenungkan secara mendalam, akhirnya kuketemukan titik persoalannya. Rupanya penyakit kegagalan daripada usaha penghapusan perbedaan golongan dan aliran ini sering kali disebabkan usaha yang terburu nafsu. Maklumlah, golongan dan aliran persilatan kita berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus banyaknya, setiap golongan juga sudah bersejarah sekian lamanya, kalau sekaligus hendak melenyapkan sejarah golongan masing-masing boleh dikatakan mahasulit.”

“Jika demikian, jadi menurut pendapat Gak-siansing adalah tidak mungkin untuk menghapuskan perbedaan golongan dan aliran? Jika betul demikian bukankah pendapat Gak-siansing ini sangat mengecewakan harapan orang?” ujar Co Leng-tan.

“Walaupun mahasukar, tapi bukannya sama sekali tidak dapat,” jawab Gak Put-kun. “Barusan Cayhe menyatakan bahwa titik penyakitnya terletak pada usaha yang terburu nafsu ingin cepat, malah macet. Jadi caranya yang harus diubah, asalkan haluannya berubah, lalu dihadapi bersama dengan segenap tenaga oleh para kawan, apakah usaha ini akan berjalan sampai 50 tahun ataupun 100 tahun, tapi akhirnya pasti jadi.”

“Wah, perlu 50 tahun atau 100 tahun, kan para pahlawan dan kesatria yang hadir sekarang ini hampir semuanya sudah masuk kubur?” ujar Co Leng-tan.

“Kaum kita hanya perlu berusaha sepenuh tenaga, soal akan berhasil atau tidak dari usaha kita bukan soal,” kata Gak Put-kun. “Ini namanya leluhur tanam pohonnya dan keturunan memetik buahnya. Kita hanya tanam pohon saja, biarlah anak cucu kita yang menerima buahnya, hal demikian kan perbuatan luhur? Pula, usaha jangka panjang 50 atau 100 tahun adalah secara keseluruhannya, kalau cuma sedikit hasil saja mungkin dalam waktu delapan atau 10 tahun juga sudah tampak nyata.”

“Dalam sepuluh atau delapan tahun sudah akan tampak hasil nyata walaupun hanya bagian kecil, ini sungguh sangat bagus. Tapi entah cara bagaimana kita harus berusaha bersama?” tanya Co Leng-tan.

Gak Put-kun tersenyum, jawabnya, “Seperti apa yang dilakukan Co-bengcu sekarang adalah perbuatan baik yang bermanfaat bagi kaum persilatan umumnya. Bahwasanya sekaligus kita hendak menghapus perbedaan pandangan di antara berbagai golongan dan aliran boleh dikata sukar terlaksana, tapi kalau diusahakan agar golongan-golongan yang tempatnya berdekatan, yang ilmu silatnya mendekati sejenis atau yang mempunyai hubungan lebih rapat, lalu di antara mereka diadakan peleburan sebisanya, maka dalam waktu tidak terlalu lama perbedaan golongan dan aliran di dunia persilatan kita, tentu akan berkurang sebagian besar. Seperti halnya peleburan di antara Ngo-gak-kiam-pay kita adalah suatu bukti nyata bagi golongan-golongan lain.”

Ucapan terakhir Gak Put-kun ini seketika membikin para hadirin menjadi gempar, banyak yang berteriak, “O, kiranya Hoa-san-pay juga setuju penggabungan Ngo-gak-kiam-pay.”

Lenghou Tiong juga sangat terkejut, pikirnya, “Tak terduga suhu duga menyetujui penggabungan, padahal aku sudah menyatakan akan ikut haluan suhu, apakah aku mesti menarik kembali ucapanku?”

Dengan cemas ia coba memandang ke arah Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin, dilihatnya kedua tokoh itu sama menggeleng padanya dengan wajah yang rada lesu.

Maka terdengar Co Leng-tan berkata, “Sebenarnya maksud Ko-san-pay menghendaki penggabungan hanya demi kepentingan kita bersama, sebab kalau bergabung jelas kekuatan menjadi besar, sebaliknya kalau bercerai tenaga menjadi lemah. Tapi dari uraian Gak-siansing tadi ternyata penggabungan Ngo-gak-kiam-pay kita masih dapat mendatangkan manfaat-manfaat begitu besar, sungguh aku menjadi seperti pintar mendadak.”

Lalu Gak Put-kun berkata pula, “Sesudah kita bergabung, bila kita ingin memperbesar pengaruh, lalu mengadu kekuatan dengan golongan lain, maka akibatnya hanya menimbulkan bencana di dunia persilatan. Sebab itu asas tujuan peleburan kita ini harus mengutamakan ‘hindarkan pertentangan dan akhiri permusuhan’. Menurut dugaanku banyak di antara kawan persilatan tentu khawatir penggabungan kita ini pasti akan merugikan pihak lain, dalam hal ini aku dapat menyatakan supaya kawan-kawan ini janganlah khawatir.”

Banyak di antara hadirin menjadi lega mendengar jaminan Gak Put-kun itu, tapi ada juga yang masih ragu-ragu dan kurang percaya.

“Jika demikian, jadi Hoa-san-pay jelas juga setuju penggabungan?” tanya Co Leng-tan.

“Benar,” jawab Gak Put-kun. Ia merandek sejenak, lalu katanya sambil memandang ke arah Lenghou Tiong, “Lenghou-ciangbun dari Hing-san-pay dahulu pernah berada di Hoa-san, Cayhe pernah mempunyai hubungan guru murid selama 20-an tahun dengan dia. Sejak dia meninggalkan Hoa-san-pay, syukur selama ini dia masih ingat akan hubungan baik di masa silam dan tetap mengharapkan agar Cayhe dapat kumpul bersama lagi dengan dia dalam suatu aliran yang sama. Dalam hal ini tadi Cayhe sudah menyanggupi dia bahwa untuk kumpul kembali di dalam suatu aliran bukanlah soal sulit.”

Bicara sampai di sini, wajahnya menampilkan senyuman manis.

Lenghou Tiong tergetar dan sadar seketika, kiranya kesanggupan sang guru akan menerimanya kembali sebagai murid bukanlah kembali ke dalam Hoa-san-pay, tapi masuk ke dalam Ngo-gak-pay sesudah kelima golongan dilebur menjadi satu, rasanya hal ini toh tidak jelek. Apalagi tadi suhu telah menyatakan sesudah dilebur menjadi satu, maka asas tujuannya adalah menghindari pertentangan dan mengakhiri permusuhan. Kalau nanti Hoa-san-pay, Hing-san-pay ditambah dengan Heng-san-pay berdiri di satu pihak, ini berarti akan lebih besar pengaruhnya daripada Ko-san-pay dan Thay-san-pay sehingga asas yang dikemukakan suhu ini dapatlah dijalankan.

Selagi Lenghou Tiong dibuai oleh pikirannya sendiri, terdengar Co Leng-tan lagi berkata, “Syukurlah bahwa Gak-siansing dan Lenghou-ciangbun sejak kini telah dapat berkumpul kembali dalam suatu keluarga besar. Terimalah ucapan selamat dariku!”

Menyusul banyak di antara hadirin juga bersorak menyatakan syukur.

Tapi mendadak Tho-ki-sian berteriak, “Tidak, urusan ini tidak baik, sangat tidak baik.”

“Kenapa tidak baik?” tanya Tho-kan-sian.

“Jabatan ketua Hing-san-pay bukankah tadinya adalah hak kita berenam saudara?” tanya Tho-ki-sian.

“Betul!” serentak Tho-kan-sian berlima menjawab.

“Tapi lantaran kita sungkan menjadi ketua segala, makanya kita serahkan jabatan itu kepada Lenghou Tiong dengan suatu syarat bahwa dia harus membalaskan sakit hati kematian Ting-sian Suthay bertiga, betul tidak? Dan kalau tidak melaksanakan tugasnya itu berarti jabatannya sebagai ketua menjadi batal, betul tidak?”

Begitulah setiap kali Tho-ki-sian bertanya, serentak Tho-kan-sian berlima mengiakan pula setiap kali.

“Namun pembunuh Ting-sian Suthay bertiga jelas berada di tengah Ngo-gak-pay juga,” kata Tho-ki-sian pula. “Maka menurut pendapatku, besar kemungkinan pembunuh itu she Co kalau tidak she Ci, atau bisa jadi she Cuci. Bilamana Lenghou Tiong jadi masuk Ngo-gak-pay, itu berarti dia akan menjadi saudara seperguruan dengan manusia jahanam she Co atau she Ci atau Cuci dan itu berarti pula dia tak mampu membalaskan sakit hati Ting-sian Suthay bertiga.”

“Benar, sedikit pun tidak salah,” seru Tho-kok-ngo-sian.

Alangkah gusarnya Co Leng-tan, pikirnya, “Keparat, kalian berenam berani menghina aku di depan umum, bila kalian dibiarkan hidup lebih lama tentu banyak ocehan-ocehan tidak senonoh yang akan kalian lontarkan terhadapku.”

Dalam pada itu Tho-kin-sian sedang berkata, “Kalau Lenghou Tiong tidak membalaskan sakit hati Ting-sian Suthay berarti dia batal menjadi ketua Hing-san-pay, bukan? Dan kalau dia batal menjadi ketua Hing-san-pay berarti dia tidak kuasa lagi mengurusi kepentingan Hing-san-pay, bukan? Dan kalau dia tidak kuasa lagi berarti tidak boleh bicara atas nama Hing-san-pay dalam soal penggabungan ini, bukan?”

Setiap kali ia tanya, setiap kali pula Tho-kok-ngo-sian yang lain mengiakan.

Kini Tho-sit-sian yang bicara, “Tapi lowongan ketua tidak boleh selalu kosong, bila Lenghou Tiong tidak menjadi ketua Hing-san-pay, sepantasnya diangkat orang lain yang lebih sesuai, bukan? Adapun calon ketua yang punya ilmu silat tinggi dan pengetahuan luas sudah sejak dulu dinilai oleh Ting-sian Suthay, bukan?”

“Benar!” jawab Tho-kok-ngo-sian. Semakin keras yang bertanya, semakin nyaring pula suara kelima orang yang menjawab.

Lantaran merasa lucu, pula maksud Tho-kok-lak-sian itu jelas sengaja main gila terhadap Ko-san-pay, maka sebagian di antara hadirin itu ikut senang, malahan ada di antaranya lantas ikut-ikutan bersuara, setiap kali Tho-kok-lak-sian bertanya jawab, berpuluh orang hadirin juga ikut-ikut mengiakan.

Ketika Gak Put-kun setuju penggabungan Ngo-gak-kiam-pay tadi, diam-diam Lenghou Tiong merasa cemas dan bingung, sekarang demi mendengar ocehan Tho-kok-lak-sian yang tak keruan itu, dalam hati kecilnya timbul rasa senang seakan-akan keenam orang dogol itu telah menyelesaikan soal sulit baginya. Tapi setelah mengikuti terus ocehan Tho-kok-lak-sian itu, kemudian ia menjadi terheran-heran, sebab sekarang apa yang diucapkan seakan-akan sangat teratur, satu sama lain seperti telah disiapkan, sama sekali berbeda daripada kebiasaan mereka, sungguh perubahan yang aneh. Apa barangkali di belakang mereka ada orang pandai yang memberi petunjuk? Demikian pikir Lenghou Tiong.

Sementara itu Tho-hoa-sian lagi berkata, “Bahwasanya di dalam Hing-san-pay ada enam kesatria yang berilmu silat tinggi dan berpengetahuan luas, siapakah mereka berenam, kalian kan bukan orang bodoh, tentu sudah tahu, bukan?”

Beratus hadirin serentak mengiakan dengan tertawa.

“Siapa keenam kesatria besar itu? Coba katakan!” seru Tho-hoa-sian.

“Siapa lagi kalau bukan kalian Tho-kok-lak-sian!” teriak beratus orang dengan suara riuh.

“Itu dia! Dengan demikian, jadi jabatan ketua Hing-san-pay terpaksa kami berenam menerimanya untuk melaksanakan tugas yang suci sesuai dengan harapan orang banyak, cocok dengan pilihan umum, sesuai dengan kehendak bapak mertua, dan… dan….”

Karena kata-katanya yang melantur, para hadirin sampai terpingkal-pingkal saking geli. Sebaliknya orang-orang Ko-san-pay sangat mendongkol, banyak di antaranya lantas membentak, “Persetan! Kalian berenam keparat ini sengaja mengacau apa di sini? Lekas enyah semua dari sini!”

“Aneh bin heran!” jawab Tho-ki-sian. “Kalian Ko-san-pay dengan segala daya upaya berusaha hendak melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu, sekarang kami para kesatria Hing-san-pay telah sudi berkunjung ke Ko-san sini, tapi kalian malah mengusir kami pergi dari sini. Bila kami berenam kesatria besar ini angkat kaki dari sini, segera para kesatria kecil, para pahlawan betina Hing-san-pay yang lain juga akan ikut pergi dari sini, lalu soal penggabungan Ngo-gak-pay kalian itu akan macet setengah jalan, akan mati dalam kandungan dan… dan… gugur. Nah, baiklah, para kawan Hing-san-pay, karena kita sudah tidak diperlukan lagi, marilah kita pergi dari sini, biarkan mereka mengadakan peleburan si-pay (empat aliran) saja. Kalau Co Leng-tan kepingin menjadi ketua Si-gak-pay biarkan saja, kita Hing-san-pay tidak sudi ikut campur.”

Dasar Gi-ho, Gi-jing, Gi-lim, dan lain-lain sudah teramat benci kepada Co Leng-tan, demi mendengar ajakan Tho-ki-sian itu, serentak mereka mengiakan, seru mereka, “Benar, hayolah kita pergi dari sini!”

Keruan Co Leng-tan berbalik kelabakan, ia pikir kalau Hing-san-pay pergi, itu berarti Ngo-gak-pay akan tinggal Si-gak-pay. Padahal sejak dahulu kala di dunia ini telah kenal ngo-gak, tidak pernah kenal si-gak segala. Jika si-gak bergabung dan aku menjadi ketua Si-gak-pay, rasanya juga tidak gemilang, sebaliknya malah akan ditertawai oleh orang-orang persilatan.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: