Hina Kelana: Bab 111. Pertumpahan Darah di Puncak Ko-san

Dengan suara lantang Co Leng-tan lantas membuka suara, “Hari ini adalah pertemuan Ngo-gak-kiam-pay kami, atas kunjungan para kawan bu-lim yang meluap ini, sungguh di luar dugaan dan terimalah rasa terima kasih kami. Hanya saja kalau ada kekurangan penyambutan dan pelayanan, harap para hadirin sudi memberi maaf.”

“Sudahlah, tak perlu pakai sungkan-sungkan segala, soalnya sekarang orang terlalu banyak, tapi tempatnya sempit,” seru orang banyak.

“Tidak jauh di atas sini adalah Hong-sian-tay yang dahulu sering digunakan maharaja dari berbagai dinasti bila mengadakan tirakatan ke Ko-san sini, tempatnya sangat luas dan lapang, hanya saja kaum persilatan kita sebenarnya tidak layak menggunakan tempat suci yang diagungkan itu,” demikian seru Co Leng-tan.

“Kita toh tidak di bawah perintah raja mana pun juga, peduli apakah agung atau tidak, tempat sebaik itu tidak digunakan sekarang mau tunggu kapan lagi?” teriak pula orang banyak. Berbareng sebagian di antaranya sudah lantas mendahului berlari ke arah yang ditunjuk.

“Jika demikian, marilah kita menuju ke sana,” kata Co Leng-tan.

Dalam hati Lenghou Tiong membatin, “Entah tempat macam apakah Hong-sian-tay itu? Dia menyatakan tempat itu biasanya digunakan oleh kaum maharaja, sekarang dia mengundang para hadirin pergi ke sana, jangan-jangan Co Leng-tan sudah anggap dirinya sebagai maharaja? Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang mengatakan dia punya ambisi sangat besar, setelah melebur Ngo-gak-kiam-pay, langkah selanjutnya adalah berusaha mencaplok Tiau-yang-sin-kau, kemudian akan menghabiskan pula Siau-lim dan Bu-tong-pay. Hah, dia dan Tonghong Put-pay agaknya mempunyai cita-cita yang sama.”

Tanpa banyak omong ia pun ikut orang banyak menuju ke Hong-sian-tay. Yang disebut Hong-sian-tay itu adalah sebuah panggung batu yang dipahat secara rata. Di sekitar panggung batu itu adalah lapangan yang luas. Sampai di puncak tertinggi Ko-san itu, semua orang merasa nyaman segar melihat puncak-puncak gunungan tak terhitung banyaknya menegak di bawah puncak Ko-san itu. Tatkala mana udara terang benderang, pemandangan jelas.

Lenghou Tiong mendengar tiga orang tua di depannya sedang tunjuk sana dan tuding sini ke berbagai puncak sambil manggut-manggut. Kata seorang di antaranya, “Yang itu adalah Tay-him-hong (Puncak Beruang Besar) dan yang sana adalah Siau-him-hong (Puncak Beruang Kecil). Dan gunung di seberang sana itu adalah Siau-sit-san, di mana terletak Siau-lim-si yang termasyhur. Tempo hari aku pernah mengunjungi Siau-lim-si dan merasakan Siau-sit-san yang luar biasa tingginya, tapi dipandang dari sini, nyata Siau-lim-si masih jauh di bawah Ko-san.”

Lalu tertawalah ketiga orang tua.

Dari dandanan ketiga orang tua itu Lenghou Tiong tahu mereka bukan orang Ko-san-pay, tapi dari ucapan mereka itu jelas mengolok-olok Siau-lim-pay dan meninggikan derajat Ko-san-pay itu, tentulah mereka adalah undangan Co Leng-tan yang sengaja didatangkan untuk membantu bila terjadi apa-apa.

Dalam pada itu terlihat Co Leng-tan sedang meminta Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang ke atas panggung. Tapi dengan tertawa Hong-ting berkata, “Kami berdua orang tua yang sudah lapuk ini hanya datang sebagai peninjau saja, buat apa kami naik panggung dan membikin malu didengar orang banyak?”

“Kenapa Taysu bicara demikian, seperti baru kenal saja,” ujar Co Leng-tan dengan tertawa.

“Para tamu sudah hadir semua, silakan Co-ciangbun mengurusi acara pokok dan tidak perlu selalu melayani kami berdua tua bangka,” kata Tiong-hi.

“Baiklah jika demikian,” jawab Co Leng-tan. Lalu ia menaiki panggung batu itu.

Setelah menaiki berpuluh undak-undakan batu itu, kira-kira masih dua-tiga meter di bawah panggung, ia berdiri di atas undak-undakan itu, lalu berseru dengan lantang, “Para hadirin yang terhormat!”

Meski lapangan di puncak gunung itu cukup luas, para tamu juga tersebar di sana-sini, namun ucapan Co Leng-tan itu dapat didengar dengan jelas oleh setiap orang.

Maka Co Leng-tan lantas melanjutkan sambil memberi salam, “Atas kunjungan para kawan, sungguh aku sangat berterima kasih. Sebelum tiba di sini tentunya para kawan sudah mendengar bahwa hari ini adalah hari bahagia, hari persatuan bagi Ngo-gak-kiam-pay kami yang akan berlebur menjadi satu.”

“Benar, benar! Selamat! Selamat!” demikian serentak beratus-ratus orang telah bersorak.

“Terima kasih!” kata Co Leng-tan. “Bahwasanya Ngo-gak-kiam-pay kami sudah ratusan tahun lamanya berserikat, selamanya satu napas dan satu haluan laksana satu keluarga, sudah sekian tahun pula Cayhe sebagai bengcu dari Ngo-gak-kiam-pay. Cuma akhir-akhir ini di tengah bu-lim telah banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting, Cayhe dan para suheng tertua Ngo-gak-kiam-pay telah berunding, kami sama-sama merasa Ngo-gak-kiam-pay kalau tidak dilebur menjadi satu, maka kelak tentu sukar menghadapi kesulitan-kesulitan yang bakal menimpa.”

Tiba-tiba terdengar seorang menimbrung dengan nada dingin, “Entah Co-bengcu pernah berunding dengan suheng tertua dari aliran mana? Mengapa aku orang she Bok tidak pernah mengetahui persoalan ini.”

“Baru saja aku mengatakan di dunia persilatan (bu-lim) telah banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting sehingga terpaksa Ngo-gak-kiam-pay harus dilebur, salah satu peristiwa penting di antaranya yang kumaksudkan adalah terjadinya saling bunuh dan saling mencelakai di antara saudara-saudara sesama Ngo-gak-kiam-pay kita, rupanya banyak di antara kita sudah lupa pada setia kawan antara sesama anggota kelima aliran kita. Bok-taysiansing, murid Ko-san-pay kami, yaitu Ko-yang-jiu Hui-sute telah tewas di luar Kota Heng-san, ada orang menyaksikan sendiri, katanya engkau Bok-taysiansing yang melakukan pembunuhan itu, entah betul tidak?”

Terkesiap hati Bok-taysiansing. Pikirnya, “Waktu aku membunuh orang she Hui, saat itu yang ada cuma Lenghou Tiong serta seorang nikoh cilik dari Hing-san-pay, selain itu ialah Kik Yang beserta cucu perempuannya yang masih kecil. Apakah mungkin mereka telah membocorkan rahasia kejadian itu?”

Sementara itu beribu-ribu pasang mata sama memerhatikan air muka Bok-taysiansing. Namun ketua Heng-san-pay itu ternyata tenang-tenang saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Ia menggeleng dan menjawab, “Tiada pernah terjadi hal demikian. Rasanya cuma sedikit kepandaian orang she Bok saja masakah mampu membunuh tokoh macam Ko-yang-jiu?”

“Hm, kalau pertarungan satu-lawan-satu secara terang-terangan, memangnya Bok-taysiansing masakah mampu membunuh Hui-sute-ku?” jengek Co Leng-tan. “Namun tatkala itu yang mengerubut Hui-sute selain Bok-taysiansing dan sutemu Lau Cing-hong, ada pula murid Hing-san-pay dan murid Hoa-san-pay, bahkan ada gembong Mo-kau Kik Yang dan cucu perempuannya.”

Kata-kata Co Leng-tan ini benar-benar membikin Bok-taysiansing mengirik. Ia tidak habis paham siapakah yang membocorkan kejadian dahulu itu. Padahal waktu itu yang hadir selain sutenya, Kik Yang, dan cucu perempuannya, selebihnya adalah Lenghou Tiong dan Gi-lim. Apakah mungkin kedua anak muda ini yang membocorkan rahasianya? Setelah Co Leng-tan membongkar rahasia perbuatannya, jelas permusuhan Heng-san-pay dan Ko-san-pay sudah terikat, untuk lolos dari Ko-san dengan selamat rasanya sukar diramalkan.

Lenghou Tiong juga merasa terperanjat demi mendengar Co Leng-tan mengorek apa yang terjadi di masa dahulu itu.

Terdengar Co Leng-tan melanjutkan pula, “Peleburan Ngo-gak-kiam-pay kita hari ini adalah peristiwa mahapenting dalam sejarah selama beratus-ratus tahun ini. Bok-taysiansing, kau adalah ketua dari salah satu aliran, tentunya engkau harus mengutamakan urusan mahapenting ini dan kesampingkan persengketaan pribadi. Asalkan persoalannya menguntungkan kelima aliran kita, sepantasnya percekcokan perseorangan harus dijauhkan. Maka dari itu Bok-heng, urusan yang sudah-sudah itu pun tak perlu kau pikirkan, Hui-sute adalah suteku, nanti kalau Ngo-gak-pay sudah terlebur menjadi satu, dengan sendirinya Bok-heng adalah saudara seperguruan pula dengan aku. Yang sudah meninggal biarlah, yang masih hidup buat apa mesti saling bunuh pula?”

Kata-kata Co Leng-tan ini kedengaran sangat enak didengar, tapi sebenarnya bernada mengancam, maksudnya kalau Bok-taysiansing bisa menyetujui soal peleburan Ngo-gak-kiam-pay, maka soal terbunuhnya Hui Pin takkan diusut dan akan diadakan perhitungan.

Begitulah, dengan mata melotot Co Leng-tan menatap Bok-taysiansing dan menegas pula, “Bagaimana Bok-heng? Betul tidak?”

Tapi Bok-taysiansing hanya mendengus saja tanpa menjawab.

Dengan tersenyum-senyum yang dibuat-buat Co Leng-tan berkata pula, “Soal peleburan Ngo-gak-kiam-pay kita agaknya Heng-san-pay sudah tiada berbeda pendirian. Lalu bagaimana dengan Thay-san-pay? Thian-bun Toheng, bagaimana pendirianmu?”

Thian-bun Tojin lantas berdiri, dengan suara keras ia berkata, “Thay-san-pay didirikan oleh cikal bakal Tong-leng Totiang sudah hampir dua ratus tahun lamanya. Sungguh menyesal, aku terlalu bodoh dan kurang bijaksana sehingga tidak mampu mengembangkan Thay-san-pay lebih gemilang. Namun begitu, Thay-san-pay yang sudah bersejarah dua ratus tahunan ini betapa pun tidak boleh putus di tanganku. Soal melebur Thay-san-pay dengan golongan-golongan lain ini sekali-kali kami tidak dapat terima.”

Mendadak di tengah orang-orang Thay-san-pay berdiri seorang tojin berjenggot putih dan berjubah hijau, serunya, “Ucapan Thian-bun Sutit ini kurang tepat. Thay-san-pay kita meliputi lebih 400 anggota, janganlah karena kepentingan dirimu seorang mesti mengorbankan kepentingan orang banyak.”

Air muka tojin berjenggot itu tampak kurus kering, tapi suaranya ternyata keras dan kuat. Ada di antara hadirin yang mengenalnya lantas berbisik-bisik pada teman di sekitarnya, “Dia bernama Giok-ki-cu, terhitung paman gurunya Thian-bun Tojin.”

Memangnya Thian-bun Tojin berwajah merah bercahaya, mendengar kata-kata Giok-ki-cu itu, mukanya menjadi tambah merah. Serunya segera, “Susiok, apa artinya ucapanmu ini? Sejak Sutit menjabat ketua Thay-san-pay kita, dalam hal apa pernah kuabaikan kepentingan golongan kita? Sebabnya aku menolak peleburan ngo-pay justru demi mempertahankan Thay-san-pay kita, di mana ada menyangkut kepentingan pribadiku?”

Giok-ki-cu tertawa mengejek, katanya, “Kelima golongan dilebur menjadi satu, seketika Ngo-gak-pay akan sangat besar pengaruhnya, itu berarti setiap anak murid Ngo-gak-pay akan ikut merasakan manfaatnya. Namun sebaliknya, Sutit, jabatanmu sebagai ciangbunjin lantas hanyut, bukan?”

Thian-bun Tojin menjadi gusar, teriaknya murka, “Jadi kau menuduh aku hanya memikirkan kepentingan pribadi?”

Tiba-tiba ia mengeluarkan sebilah pedang pendek kehitam-hitaman dari bajunya lalu berteriak pula, “Ini, mulai saat ini aku tidak sudi menjadi ciangbunjin lagi. Kalau kau kepingin, boleh kau yang menjabatnya.”

Pedang pendek itu tiada menarik sedikit pun, tapi adalah benda yang diwariskan oleh Tong-leng Tojin, itu cikal bakal Thay-san-pay, selama dua ratusan tahun benda itu selalu menjadi tanda pengenal pejabat ketuanya.

Melihat kedua tokoh Thay-san-pay itu bertengkar sendiri dan saling ngotot membela pendirian masing-masing, para hadirin menjadi sunyi, semuanya mengikuti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tertampak Giok-ki-cu maju selangkah, jengeknya, “Hm, kau benar-benar rela meninggalkan kedudukanmu?”

“Kenapa tidak?” jawab Thian-bun dengan gusar.

“Baik, boleh serahkan padaku!” kata Giok-ki-cu. Mendadak sebelah tangannya menjulur ke depan, tahu-tahu pedang pendek di tangan Thian-bun Tojin itu telah dirampas olehnya.

Sama sekali Thian-bun tidak mengira Giok-ki-cu benar-benar akan merampas pedangnya, ia menjadi tertegun oleh perbuatan Giok-ki-cu dan tahu-tahu pedangnya sudah berpindah ke tangan lawan. Tanpa berpikir lagi ia terus lolos pedang panjang di pinggangnya.

Namun dengan cepat Giok-ki-cu sudah lantas melompat mundur. Pada saat itu dua sosok bayangan lantas berkelebat, dua tosu tua lain telah mengadang di depan Thian-bun dengan pedang terhunus, bentak mereka berbareng, “Thian-bun, sebagai angkatan muda kau berani melawan angkatan tua, apakah kau sudah lupa pada undang-undang perguruan kita?”

Kedua tosu tua itu dikenal oleh Thian-bun sebagai paman-paman guru yang seangkatan dengan Giok-ki-cu, namanya Giok-seng-cu dan Giok-im-cu.

Tidak kepalang gusar Thian-bun Tojin sehingga badan bergemetar, teriaknya, “Kedua Susiok menyaksikan sendiri, apa… apakah yang diperbuat oleh Giok-ki… Giok-ki Susiok barusan ini?”

“Kami memang menyaksikan kau menyerahkan jabatan ciangbunjin kepada Giok-ki Suheng, kau sendiri rela mengundurkan diri dan memberikan tempatmu kepada orang yang lebih bijaksana, sungguh tindakanmu ini patut dipuji,” kata Giok-im-cu.

Giok-seng-cu ikut bicara juga, “Giok-ki Suheng adalah susiokmu, sekarang dia adalah pejabat ciangbunjin pula, tapi kau berani gunakan senjata dan bersikap keras padanya, ini namanya perbuatan durhaka terhadap orang tua.”

“Aku bicara di waktu marah, padahal kedudukan ketua Thay-san-pay kita masakah boleh diserahkan begini saja kepada setiap orang? Seumpama akan kuberikan pada orang lain juga sekali-kali tidak… tidak kepada Giok-ki,” seru Thian-bun dengan penasaran.

“Sebagai seorang kesatria, mengapa kau menjilat kembali ludahmu sendiri?” kata Giok-im-cu.

Tiba-tiba seorang tojin setengah umur di tengah rombongan orang Thay-san-pay berteriak, “Ketua golongan kita selama ini adalah suhuku, kalian beberapa susiokco ini sebenarnya hendak main gila apa?”

Tojin setengah umur ini bernama Kian-tu, dia adalah murid Thian-bun yang kedua.

Menyusul seorang tojin lain juga berdiri dan berseru, “Thian-bun Suheng telah menyerahkan jabatannya kepada guruku, peristiwa ini telah disaksikan beribu pasang mata dan telinga yang hadir di Ko-san sekarang ini, masakah persoalan ini bisa dipalsukan? Dengan jelas Thian-bun Suheng tadi menyatakan, ‘Sejak kini aku tidak menjabat ciangbunjin lagi, kalau kau kepingin boleh kau ambil saja!’. Coba katakan, betul tidak?”

Yang bicara ini adalah murid Giok-ki-cu, terhitung satu angkatan dengan Thian-bun Tojin. Dalam Thay-san-pay, Thian-bun Tojin adalah murid dari kelompok tertua, pengaruh kelompoknya adalah paling kuat, namun beberapa susioknya serentak bergabung untuk memencilkan dia, dengan demikian di antara dua ratusan anggota Thay-san-pay yang hadir di Ko-san ini adalah tiga per empat yang berdiri di pihak lawan.

Seketika itu orang-orang Thay-san-pay menjadi ribut, berpuluh orang sama berteriak-teriak, “Ketua lama undurkan diri, ketua baru pegang pimpinan! Ketua lama lekas mundur, biar ketua baru menggantikannya!”

Giok-ki-cu lantas mengangkat tinggi-tinggi pedang pandak yang dirampasnya dari Thian-bun tadi dan berteriak, “Ini adalah tanda kebesaran Tong-leng Cosuya kita, ‘melihat pedang ini sama dengan melihat Tong-leng’, pantas tidak kalau kita taat kepada perintah tinggalan cikal bakal kita?”

“Benar, tepat sekali ucapan Ciangbunjin!” serentak ratusan anak buahnya berteriak.

“Murid murtad Thian-bun berani melawan atasan dan tidak tunduk kepada peraturan, dia harus dibekuk dan dihukum,” demikian ada yang berseru.

Melihat suasana begitu, Lenghou Tiong menduga tentu Co Leng-tan yang telah mengatur semuanya itu. Watak Thian-bun Tojin sangat berangasan, karena tidak sabar, hanya beberapa kata-kata saja telah membuatnya masuk perangkap lawan. Kini pihak lawan lagi mendapat angin, Thian-bun bukanlah seorang yang pintar menghadapi kejadian-kejadian luar biasa, maka ia hanya bisa berjingkrak murka, tapi mati kutu, tak bisa berbuat apa-apa.

Ketika Lenghou Tiong memandang ke tengah orang-orang Hoa-san-pay, dilihatnya sang suhu berdiri di sana dengan berpangku tangan, air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu pendapat. Pikirnya, “Tentu beliau tidak dapat menyetujui tindakan Giok-ki-cu dan kawan-kawannya itu. Namun suhu tampaknya tidak ingin ikut campur persoalan orang, agaknya beliau hendak melihat gelagat selanjutnya. Biarlah aku pun tunggu saja mengikuti haluan suhu.”

Dalam pada itu tampak Giok-ki-cu telah memberi isyarat, serentak 150-an orang Thay-san-pay yang termasuk begundalnya lantas memencarkan diri dengan pedang terhunus, seketika sisa orang Thay-san-pay yang lain–kurang-lebih 50 orang–lantas terkepung di tengah-tengah.

Yang terkepung itu dengan sendirinya adalah anak murid Thian-bun Tojin.

Dengan murka Thian-bun lantas membentak, “Apakah kalian benar-benar ingin berkelahi? Baiklah, coba maju!”

Dengan suara lantang Giok-ki-cu berteriak, “Dengarkan, Thian-bun! Selaku ketua Thay-san-pay, kuperintahkan agar kau membuang senjata dan menyerahkan diri, apakah kau berani membangkang terhadap pedang pusaka tinggalan Cosuya ini?”

“Huh, siapa yang mengakui kau sebagai ketua Thay-san-pay kita?” jawab Thian-bun dengan gusar.

Tapi Giok-ki-cu lantas berseru pula, “Dengarkan anak murid Thian-bun, urusan ini tiada sangkut pautnya dengan kalian, asalkan kalian meletakkan senjata dan menggabungkan diri, maka kesalahan kalian takkan diusut, kalau tidak, tentu kalian akan terima ganjaran setimpal.”

Dengan suara, keras Kian-tu Tojin berkata, “Asalkan kau mau bersumpah di bawah pedang pusaka Cosuya bahwa kau takkan menghancurkan Thay-san-pay yang dibangun Cosuya secara susah payah, maka tidaklah menjadi soal bila kau yang menjabat ketua kita. Namun baru sekejap saja kau mengaku menjabat ketua, serentak kau menjual Thay-san-pay kita kepada Ko-san-pay. Kau benar-benar orang berdosa terhadap Cosuya di alam baka, kau pasti akan dikutuk oleh setiap orang yang mengaku dirinya sebagai anggota Thay-san-pay.”

“Kurang ajar!” damprat Giok-im-cu. “Kau cuma anak murid tingkat tiga, dengan hak apa kau berani mengoceh terhadap orang tua angkatan ‘Giok’. Apa jeleknya Ngo-gak-kiam-pay dilebur menjadi satu? Bukankah Ko-san-pay sendiri nanti juga terlebur di dalamnya?”

“Hm, secara diam-diam kalian telah main gila dan menjual diri kepada Co Leng-tan dalam usahanya mencaplok anggota-anggota Ngo-gak-kiam-pay yang lain,” teriak Thian-bun dengan gusar. “Hm, pendek kata, bila perlu kalian boleh bunuh aku, tapi suruh aku takluk kepada Ko-san-pay, hm, jangan harap.”

“Kalian tidak mau tunduk kepada perintah pedang pusaka Cosuya, janganlah menyesal bila sebentar nanti kalian semua akan mampus tak terkubur,” teriak Giok-ki.

Thian-bun ternyata pantang menyerah, serunya, “Setiap anak murid Thay-san-pay yang setia, hari ini biarlah kita bertempur mati-matian sampai titik darah penghabisan di puncak Ko-san ini.”

“Benar, bertempur sampai titik darah penghabisan!” teriak anak murid Thian-bun yang berdiri di sekitarnya. Meski jumlah mereka cuma sedikit, tapi tekad mereka bulat, sedikit pun tidak gentar.

Kalau Giok-ki-cu memberi komando agar anak buahnya menyerang, seketika rasanya sukar juga membunuh habis anak buah Thian-bun Tojin, sebaliknya beribu-ribu kesatria yang hadir di situ, terutama tokoh-tokoh seperti Hong-ting Taysu, Tiong-hi Tojin, dan lain-lain tentu juga tak bisa tinggal diam menyaksikan pembunuhan besar-besaran di antara sesama golongan itu.

Maka Giok-ki-cu, Giok-im-cu, dan Giok-seng-cu serta kawan-kawannya hanya saling pandang saja dengan ragu-ragu, seketika mereka tidak tahu bagaimana harus bertindak.

Tiba-tiba jauh di sebelah kiri sana seorang berseru dengan kemalas-malasan, “Selama hidup Locu sudah menjelajahi dunia ini, kesatria dan pahlawan yang kukenal juga tak terhitung banyaknya, tapi babi yang suka menjilat kembali ludah sendiri artinya menyangkal apa yang diucapkan sendiri hanya dalam waktu singkat saja sungguh jarang kulihat.”

Pandangan semua orang beralih ke arah datangnya suara, terlihat seorang laki-laki berbaju dari kain kasar berdiri bersandar pada sepotong batu cadas, tangan kiri memegang sebuah caping, caping itu dikebas-kebaskan sebagai kipas, sepasang matanya kecil, tubuhnya jangkung, sikapnya acuh tak acuh.

Semua orang tidak kenal asal usulnya, juga tidak tahu ucapannya itu ditujukan kepada siapa. Terdengar si jangkung berkata pula, “Huh, sudah jelas kau telah menyerahkan jabatan ciangbunjin kepada orang lain, memangnya apa yang sudah kau katakan itu hanya kentut belaka? Kalau begini, sebaiknya salah satu namamu ‘Thian’ itu diganti menjadi ‘kentut’ saja.”

Mendengar ini, Giok-ki-cu dan lain-lain baru tahu si jangkung berdiri di pihaknya, maka tertawalah mereka.

Dengan gusar Thian-bun menjawab, “Urusan Thay-san-pay kami, tidak perlu orang lain ikut campur.”

Tapi si jangkung masih bicara dengan kemalas-malasan, “Setiap urusan yang kulihat tidak adil pasti akan aku urus. Hari ini adalah hari bahagia penggabungan Ngo-gak-kiam-pay, tapi kau sengaja bikin ribut di sini dan mengacaukan suasana baik ini, sungguh keterlaluan kau.”

Sekonyong-konyong pandangan semua orang serasa kabur, si jangkung mendadak melompat maju, dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dia terus menerjang ke tengah orang Thay-san-pay, capingnya terangkat ke atas, serentak ia menghantam ke atas kepala Thian-bun.

Thian-bun Tojin tidak menangkis serangan orang, tapi pedangnya membarengi menusuk ke dada musuh. Di luar dugaan orang itu terus menjatuhkan diri ke bawah, menyusul dengan cepat sekali ia terus menerobos lewat melalui selangkangan Thian-bun. Ketika ia membalik tubuh, sebelah kakinya lantas mendepak, “plak”, dengan tepat hiat-to di punggung Thian-bun Tojin kena ditendang olehnya.

Beberapa gerakan itu sungguh teramat cepat dan caranya juga lain daripada yang lain. Keruan semua orang melongo, dalam keadaan tak terduga-duga Thian-bun Tojin menjadi kecundang.

Melihat sang guru mengalami kekalahan, serentak beberapa murid Thian-bun mengangkat pedang dan menusuk si jangkung. Tapi orang itu bergelak tertawa malah, punggung Thian-bun dipegangnya terus disodorkan ke depan. Keruan anak murid Thian-bun kelabakan dan lekas-lekas tarik kembali pedang masing-masing.

“Lekas buang senjata kalian, kalau tidak, segera kupuntir putus kepala gurumu ini!” bentak si jangkung sambil menjambak rambut Thian-bun dan bergerak akan memuntir kepalanya.

Dalam keadaan begitu, percuma saja Thian-bun memiliki kepandaian tinggi, sama sekali ia tak bisa berkutik. Saking gusarnya sampai wajahnya merah padam.

“Caramu menyerang secara menggelap itu bukanlah perbuatan seorang kesatria sejati, siapakah namamu yang terhormat?” kata Kian-tu Tojin.

“Plak”, mendadak si jangkung menempeleng muka Thian-bun satu kali, katanya dengan kemalas-malasan, “Siapa berani bersikap kurang ajar padaku, segera kuhajar gurunya!”

Melihat sang guru dianiaya orang, anak murid Thian-bun sama khawatir dan murka, kalau serentak mereka menusuk dengan pedang masing-masing, bukan mustahil si jangkung seketika akan penuh tertancap pedang hingga mirip binatang landak. Namun terpaksa mereka tak berani sembarangan bertindak mengingat sang guru berada dalam genggaman musuh. Seorang anak muda berteriak, “Kau binatang….”

“Plok”, kembali Thian-bun ditempeleng oleh si jangkung. Katanya, “Itulah dia muridmu yang pintar mengucapkan kata-kata kotor!”

Pada saat itulah mendadak Thian-bun berteriak satu kali, darah segar terus menyembur keluar dari mulutnya. Si jangkung terkejut dan bermaksud melepaskan pegangannya, tapi sudah terlambat. Thian-bun sempat putar kepalanya sehingga keduanya sekarang muka berhadapan muka, sedangkan darah masih menyembur keluar dari mulut Thian-bun, keruan muka si jangkung tersembur sehingga basah kuyup. Pada saat yang sama Thian-bun terus mencekik leher lawan dengan kedua tangan, terdengar suara “krak” satu kali, tulang leher si jangkung telah dipatahkan mentah-mentah oleh Thian-bun. Ketika Thian-bun ayun tangannya, orang itu terlempar dan jatuh menggelepar, tampak berkelojotan beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi. Dasar tubuh Thian-bun memang tinggi besar, kini tambah gagah tampaknya, hanya mukanya penuh darah dan menyeramkan.

Selang sejenak, mendadak Thian-bun membentak keras, badan sempoyongan terus roboh, ternyata ia pun mengembuskan napas penghabisan.

Rupanya tadi ia kena dibekuk oleh si jangkung, ditambah lagi dianiaya dan dihina di depan orang banyak, saking gemasnya dia rela mengorbankan jiwa sendiri, sekuatnya ia mengerahkan tenaga dalam untuk membobolkan hiat-to sendiri yang tertutuk musuh sehingga dapat bergerak bebas, lalu sekuat sisa tenaga ia membinasakan musuh, sedangkan ia sendiri pun gugur bersama musuh karena urat nadi terputus lantaran getaran tenaga yang dipaksakan itu.

Serentak anak murid Thian-bun berteriak memanggil sang guru dan memburu maju, namun Thian-bun sudah tidak bernapas lagi, maka menangislah mereka dengan sedih.

Di tengah ribut-ribut itu, tiba-tiba ada orang berseru, “Co-ciangbun, kau sengaja menampilkan orang macam ‘Tong-hay-siang-ok’ untuk melayani Thian-bun Totiang, caramu ini tidakkah rada keterlaluan?”

Semua orang melihat yang bicara itu adalah seorang kakek berwajah buruk yang dikenal bernama sebagai Ho Sam-jit, sering kali kakek itu kelihatan menjual bakmi pangsit di berbagai kota besar, terutama di Kota Heng-san.

Tentang asal usul si jangkung yang dibinasakan Thian-bun Tojin itu tiada seorang pun yang tahu, tapi Ho Sam-jit mengatakan si jangkung adalah satu di antara “Tong-hay-siang-ok”, dua durjana dari lautan timur. Padahal macam apa tokoh-tokoh Tong-hay-siang-ok yang dimaksudkan juga tidak banyak yang tahu.

Maka Co Leng-tan telah menjawab, “Kata-katamu sungguh aneh dan menertawakan. Sedangkan Ki-heng yang gugur itu juga baru pertama kukenal hari ini, mengapa kau mengatakan aku sengaja menampilkan dia?”

Ho Sam-jit berkata pula, “Co-ciangbun mungkin belum lama kenal Tong-hay-siang-ok, tapi hubunganmu dengan guru Siang-ok, yaitu ‘Pek-pan-sat-sing’ tentunya lain daripada yang lain bukan?”

“Pek-pan-sat-sing” atau Bintang Maut Halus Polos yang disebut itu benar-benar menggemparkan para hadirin yang tahu apa artinya nama itu. Dalam permainan maciok atau mahyong ada kartu yang disebut pek-pan, yaitu yang mukanya putih halus tanpa sesuatu tanda. Menurut cerita orang tua, Pek-pan-sat-sing adalah seorang iblis mahajahat, suka makan anak kecil yang suka menangis, konon Pek-pan-sat-sing itu tidak punya hidung, hanya kelihatan lubang hidung saja, mukanya jadi rata polos sebagai kartu pek-pan dalam permainan maciok.

Lenghou Tiong masih ingat di waktu Gak Leng-sian masih kecil, di kala anak dara itu suka menangis, maka ibu gurunya sering menakut-nakutinya dengan menggunakan nama Pek-pan-sat-sing. Terkenang kepada kejadian di masa lampau itu, tanpa terasa Lenghou Tiong memandang ke arah Gak Leng-sian, dilihatnya sumoaynya itu sedang memandang jauh ke sana seperti lagi melamun, air mukanya tampak murung, agaknya ucapan Ho Sam-jit tentang Pek-pan-sat-sing tadi tidak diperhatikan olehnya, bisa jadi apa yang terjadi di masa lampau itu pun sudah terlupa semua.

Melihat sikap Leng-sian itu, Lenghou Tiong menjadi heran, pikirnya, “Siausumoay baru saja menikah dengan Lim-sute yang dicintainya itu, seharusnya dia merasa gembira dan bahagia, ada urusan apakah yang membikin hatinya murung? Jangan-jangan kedua suami istri baru itu telah bertengkar sendiri?”

Ia coba memandang Lim Peng-ci, pemuda itu tampak berdiri di sisi Leng-sian, air mukanya sangat aneh, seperti tertawa, tapi toh bukan tertawa, seperti lagi marah, tapi juga bukan marah. Kembali Lenghou Tiong terkejut, “Aneh, sikap macam apakah ini? Aku seperti sudah pernah melihat air muka seorang yang demikian ini?”

Tapi di mana pernah dilihatnya tak teringat olehnya.

Dalam pada itu terdengar Co Leng-tan lagi berkata, “Giok-ki Toheng, lebih dulu aku mengucapkan selamat kepadamu sebagai ketua Thay-san-pay baru. Lalu mengenai penggabungan Ngo-gak-kiam-pay seperti kuuraikan tadi, bagaimana dengan pendapat Toheng?”

Melihat Co Leng-tan menyimpangkan persoalan dan tidak menjawab pertanyaan Ho Sam-jit tadi, maka soal dia berhubungan baik dengan Pek-pan-sat-sing berarti telah diakuinya secara diam-diam.

Dengan mengacungkan pedang pandak, dengan berseri-seri Giok-ki-cu menjawab, “Soal peleburan Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu, kuanggap cara ini hanya ada baiknya bagi kelima golongan kita dan tiada jeleknya sama sekali. Hanya manusia tamak yang mementingkan diri sendiri seperti Thian-bun saja yang tidak setuju, tapi setiap orang yang berpandangan jauh pasti akur. Co-bengcu, sebagai pejabat ketua Thay-san-pay, aku menyatakan bahwa Thay-san-pay kami dengan suara bulat menyetujui soal peleburan Ngo-gak-kiam-pay kita. Segenap anggota Thay-san-pay kami menyatakan taat di bawah pimpinanmu demi untuk perkembangan dan kejayaan Ngo-gak-pay, bila ada orang hendak merintangi peleburan ini dengan maksud jahat, maka Thay-san-pay kami yang pertama-tama akan menghadapinya.”

Menyusul beratus orang Thay-san-pay lantas bersorak menyatakan setuju, karena mereka berteriak serentak, suara mereka menjadi menggelegar berkumandang jauh. Anehnya teriakan mereka satu sama lain serupa dan berbarengan, tampaknya sebelumnya mereka sudah dilatih. Apalagi kalau melihat cara bicara Giok-ki-cu yang begitu hormat kepada Co Leng-tan, jelas sebelumnya mereka sudah bersekongkol dan pasti Giok-ki-cu telah banyak mendapat kebaikan dari Co Leng-tan.

Melihat gurunya mati secara mengenaskan, tapi keadaan gelagat tidak menguntungkan, anak murid Thian-bun Tojin terpaksa bungkam saja, hanya dalam hati mereka mencaci maki dan mengutuk, ada yang mengepal dengan geram dan bersumpah di dalam batin kelak pasti akan menuntut balas kepada Giok-ki-cu beserta begundal-begundalnya.

Maka terdengar Co Leng-tan berseru lagi, “Di antara Ngo-gak-kiam-pay kita kini sudah jelas Heng-san-pay dan Thay-san-pay telah menyatakan setuju penggabungan, tampaknya soal ini memang menjadi cita-cita orang banyak demi kebahagiaan bersama, maka Ko-san-pay kami dengan sendirinya juga mengikuti suara orang banyak dan siap meleburkan diri.”

Dalam hati Lenghou Tiong menjengek, “Hm, urusan ini hakikatnya adalah kau yang merencanakan sebagai biang keladi, tapi kau malah pura-pura mengikuti suara orang banyak dan berlagak tidak tahu.”

Terdengar Co Leng-tan berkata pula, “Di antara ngo-pay (kelima aliran) kini sudah ada tiga yang setuju bergabung, sekarang tinggal Hoa-san-pay dan Hing-san-pay saja, entah bagaimana pendapat kalian? Ketua Hing-san-pay yang dahulu, mendiang Ting-sian Suthay pernah beberapa kali berunding dengan Cayhe tentang penggabungan ini, beliau waktu itu juga sangat setuju, begitu pula Ting-cing dan Ting-yat Suthay juga akur.”

Sekonyong-konyong di tengah orang banyak suara seorang wanita yang nyaring berseru, “Co-ciangbun, ucapanmu ini tidak betul. Sebelum ciangbunjin dan kedua susiok kami wafat, beliau-beliau justru menentang keras soal penggabungan Ngo-gak-kiam-pay ini. Sebabnya beliau-beliau bertiga wafat berturut-turut justru karena mereka antipeleburan ini. Mengapa kau malah sengaja memaksakan pendirianmu atas beliau bertiga?”

Semua orang sama memandang ke arah orang yang bicara itu, ternyata adalah seorang anak dara cantik, yaitu murid Hing-san-pay yang bernama The Oh.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol )

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: