Hina Kelana: Bab 110. Di Tengah Perebutan Bengcu yang Kacau

Mendengar cerita yang tidak masuk di akal itu, Lenghou Tiong menjadi geli dan terheran-heran. Katanya, “Masakah bisa terjadi begitu? Wah, Thayhwesio ini benar-benar lucu dan aneh.”

“Tapi lelucon yang tidak lucu bagiku,” ujar Dian Pek-kong dengan menyengir. “Keruan waktu itu aku kesakitan setengah mati. Hampir-hampir aku jatuh kelengar. Aku mencaci maki dia, ‘Keledai gundul bangsat, kalau mau bunuh lekas bunuh saja diriku, kenapa kau menyiksa aku secara begini keji?’”

“Dengan tertawa dia menjawab, ‘Keji apa? Perempuan tak berdosa yang menjadi korbanmu entah betapa banyak. Kenapa selama itu kau tidak kenal keji atau tidak? Hendak kukatakan padamu, selanjutnya bila aku ketemu kau, setiap kali pasti akan kuperiksa anumu itu. Kalau ketahuan panahnya kau cabut, segera kutancapi lagi dua batang. Lain kali kalau kulihat panah-panah itu kau tanggalkan lagi, lantas kutancapkan pula tiga batang. Pendek kata, setiap kali kau berani mencabut anak panah itu, setiap kali kutambahi satu batang lebih banyak.’”

Saking gelinya sampai Lenghou Tiong terpingkal-pingkal oleh cerita Dian Pek-kong itu. Keruan Dian Pek-kong tersipu-sipu malu.

“Maaf, Dian-heng,” kata Lenghou Tiong kemudian. “Bukan maksudku hendak menertawai kau, soalnya peristiwa ini sungguh sukar untuk dibayangkan.”

“Memangnya siapa bilang tidak,” kata Dian Pek-kong. “Dia kemudian memberi obat luka padaku dan suruh aku tetirah di hotel. Kemudian beliau mendapat tahu guruku lagi rindu padamu, lalu aku disuruh pergi ke Hoa-san untuk mengundang engkau menemui guruku.”

Baru sekarang Lenghou Tiong tahu kedatangan Dian Pek-kong di Hoa-san tempo dulu untuk mengundang dirinya itu adalah karena perintah Put-kay Taysu. Pantas Dian Pek-kong tidak berani bercerita apa-apa. Kiranya di balik itu banyak terjadi hal-hal yang lucu dan luar biasa itu. Lalu terpikir pula olehnya, “Untuk apakah Gi-lim Sumoay ingin bertemu dengan aku? Dahulu ketika bersama di Heng-san memang dia dan aku pernah senasib setanggungan kemudian dia jarang bertemu dengan aku. Kalau bertemu, tentu terdapat juga orang lain.”

Lenghou Tiong bukan orang dungu. Bahwasanya Gi-lim juga cinta padanya mustahil dia tidak tahu. Soalnya, Gi-lim adalah nikoh. Kedua, umur Gi-lim masih muda belia. Setelah lewat sekian lamanya tentu pikirannya sudah berubah. Sebab itu pertemuan-pertemuan selanjutnya Lenghou Tiong tidak pernah ajak bicara sendirian pada Gi-lim. Sesudah menjadi ketua Hing-san-pay lebih-lebih tidak leluasa lagi. Lenghou Tiong menyadari namanya sendiri tidak terlalu harum di luaran. Baginya soal nama adalah tidak soal, tapi dirinya telah diberi tugas suci oleh Ting-sian Suthay untuk mengetuai Hing-san-pay. Mana boleh nama baik Hing-san-pay ternoda di bawah pimpinannya. Sebab itulah dia jarang berkumpul dengan anak murid Hing-san-pay kecuali di waktu memberi ajaran ilmu pedang. Sekarang Dian Pek-kong bercerita tentang kejadian dahulu, mau tak mau kasih mesra Gi-lim padanya kembali terbayang dalam benaknya.

Didengarnya Dian Pek-kong bercerita pula, “Entah mengapa, Thaysuhu agaknya sangat cocok dengan aku. Meski dia menyiksa aku secara kejam, sehari-hari aku diperlakukan cukup baik. Dia mengatakan biarpun aku sudah mengangkat guru, tapi sang guru tidak pernah mengajarkan ilmu silat padaku, maka ia ingin mewakilkan anak perempuannya dan banyak mengajarkan kepandaiannya padaku.”

“Syukurlah kalau begitu,” ujar Lenghou Tiong.

“Kemudian kami dengar kau diangkat menjadi ketua Hing-san-pay, Thaysuhu suruh aku datang ke Hing-san untuk membantu kau. Tapi beberapa hari yang lalu di tengah jalan aku dipergoki beberapa orang yang mengenali diriku, aku telah diteriaki sebagai ‘maling cabul’ dan dikerubut. Untung Thaysuhu keburu menghalau orang-orang itu. Habis itu, aku lantas disuruh cukur rambut dan menjadi hwesio serta diberi nama ‘Put-ko-put-kay’. Beliau suruh aku menjelaskan persoalan ini padamu agar engkau tidak marah pada suhuku.”

“Kenapa aku mesti marah para suhumu? Tidak pernah terjadi,” ujar Lenghou Tiong.

“Menurut kata Thaysuhu, setiap kali ketemu suhu tentu melihat suhu tambah kurus, air mukanya juga semakin pucat. Bila ditanya suhu selalu tidak menjawab dan hanya mencucurkan air mata. Menurut pikiran Thaysuhu tentulah engkau memarahi dia.”

“He, mana bisa,” kata Lenghou Tiong. “Selamanya aku sangat baik pada gurumu. Belum pernah aku mengomeli dia satu patah kata pun. Lagipula dia selalu berbuat baik, kenapa aku mesti marah padanya?”

“Justru engkau tidak pernah marah dan mengomeli dia, makanya guruku menangis,” kata Dian Pek-kong.

“Sungguh aneh, aku menjadi bingung,” ujar Lenghou Tiong.

“Malahan aku pernah dihajar habis-habisan oleh Thaysuhu lantaran urusan ini,” kata Dian Pek-kong pula.

Lenghou Tiong garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia pikir kelakuan Put-kay Taysu yang dogol tak keruan itu boleh dikata setali tiga uang dengan Tho-kok-lak-sian.

Maka Dian Pek-kong berkata pula, “Thaysuhu mengatakan bahwa dahulu sesudah beliau menjadi suami istri dengan Thaysubo, mereka sering kali bertengkar mulut. Semakin banyak bertengkar semakin cinta pula. Karena itu, dia berpendapat kalau engkau tidak marah pada guruku berarti engkau tidak ingin memperistrikan dia.”

“Soal ini…Gurumu adalah cut-keh-lang (orang yang telah meninggalkan keluarga) dan menjadi nikoh, maka sama sekali aku tak pernah memikirkan soal demikian,” jawab Lenghou Tiong.

“Aku pun pernah berkata demikian pada Thaysuhu, tapi Thaysuhu menjadi marah malah dan aku dihajar lagi hingga babak belur,” kata Dian Pek-kong. “Beliau mengatakan dahulu Thaysubo juga seorang nikoh. Demi untuk memperistrikan Thaysubo, maka Thaysuhu lantas menjadi hwesio. Kalau cut-keh-lang tak boleh menjadi suami istri, lalu di dunia ini masakah terdapat orang seperti Thaysuhu? Kalau di dunia ini tiada Thaysuhu, dari mana ada aku?”

Lenghou Tiong menjadi geli karena Dian Pek-kong sendiri dicampuradukkan dalam urusan Gi-lim yang jauh lebih muda itu.

Lalu Dian Pek-kong melanjutkan, “Thaysuhu mengatakan pula, jika engkau tidak ingin menjadi suami istri dengan suhuku, lalu buat apa engkau menjadi ketua Hing-san-pay? Katanya, ‘Di antara nikoh-nikoh Hing-san-pay sebanyak itu toh tiada satu pun yang lebih cantik daripada guruku. Dan kalau bukan demi guruku, lalu apa tujuanmu menjadi ketua Hing-san-pay?’”

Diam-diam Lenghou Tiong merasa khawatir dan mengeluh. Pikirnya, “Demi untuk memperistrikan seorang nikoh, dahulu Put-kay Taysu sengaja menjadi hwesio. Menurut jalan pikirannya setiap orang di dunia ini tentu sama dengan dia. Kalau hal ini sampai tersiar, bukankah aku akan menjadi buah tertawaan orang?”

Dengan menyengir Dian Pek-kong menyambung lagi, “Thaysuhu tanya pula padaku, ‘Bukankah anak perempuanku yang menjadi gurumu itu adalah wanita tercantik di dunia?’

“Aku menjawab, ‘Seumpama bukan yang paling cantik, paling sedikit tergolong sangat cantik.’

“Sekali tonjok, kontan Thaysuhu membikin rontok dua biji gigiku yang depan. Dia marah-marah, katanya, ‘Mengapa bukan yang paling cantik? Kalau anak perempuanku tidak cantik, mengapa dahulu kau bermaksud berbuat tidak senonoh padanya? Dan mengapa si bocah Lenghou Tiong itu mati-matian menyelamatkan jiwanya?’”

“Dengan menahan sakit cepat aku menjawab, ‘Ya, paling cantik, paling cantik. Nona keturunan Thaysuhu mana bisa bukan wanita paling cantik di dunia ini.’”

“Jawabanku ini rupanya cocok dengan selera Thaysuhu, beliau sangat gembira dan memuji penilaianku yang tepat.”

“Gi-lim Sumoay memang dasarnya sangat cantik. Pantas kalau Put-kay Taysu suka pamer kecantikan anak perempuannya,” kata Lenghou Tiong dengan tersenyum.

“Sungguh bagus sekali. Ternyata, Lenghou-kongcu juga menyatakan guruku sangat cantik,” seru Dian Pek-kong dengan girang.

“Mengapa kau kegirangan?” tanya Lenghou Tiong heran.

“Sebab, Thaysuhu memberi suatu tugas padaku, aku diharuskan berusaha agar engkau…agar engkau…”

“Agar aku apa?” Lenghou Tiong menegas.

“Agar engkau menjadi sukongku (suami guruku),” jawab Dian Pek-kong dengan tertawa.

Lenghou Tiong melenggong sejenak. Ia menghela napas, lalu berkata, “Dian-heng, Put-kay Taysu benar-benar teramat sayang kepada anak perempuannya. Tapi urusan ini kau sendiri pun tahu sukar terlaksana.”

“Memangnya, aku pun bilang sangat sukar terlaksana. Kukatakan bahwa engkau pernah memimpin para kawan Kangouw menyerbu Siau-lim-si untuk menolong Yim-siocia dari Sin-kau. Aku berkata bahwa kecantikan Yim-siocia meski tiada setengahnya suhuku, namun rupanya Lenghou-kongcu ada jodoh dengan dia sehingga terpelet olehnya. Orang lain benar-benar sukar menghalang-halanginya. Maklumlah Lenghou-kongcu. Terpaksa aku harus bilang begitu untuk menyelamatkan beberapa gigiku yang lain agar dapat menikmati daharan. Hendaklah engkau jangan marah.”

“Ya, aku paham,” ujar Lenghou Tiong dengan tersenyum.

“Thaysuhu mengatakan bahwa beliau juga paham. Dia bilang gampang saja menyelesaikan persoalan ini, cari suatu akal dan bunuh saja Yim-siocia di luar tahumu, maka urusan akan menjadi beres dengan sendirinya. Cepat aku menyatakan jangan. Ku bilang kalau sampai Yim-siocia dibinasakan, Lenghou-kongcu pasti juga akan membunuh diri. Lalu Thaysuhu berkata, ‘Betul juga. Kalau bocah Lenghou Tiong itu mati, itu berarti anak perempuanku akan menjadi janda, kan konyol malah? Begini saja, boleh kau katakan pada Lenghou Tiong bahwa kalau perlu, biarlah anak perempuanku dijadikan saja gundiknya.’

“Aku menjawab, ‘Thaysuhu, masakah anak perempuanmu yang terhormat demikian perlu direndahkan derajatnya sampai begitu rupa?’

“Thaysuhu menghela napas, katanya, ‘Kau tidak tahu, kalau nonaku ini gagal menjadi istri Lenghou Tiong, maka siang dan malam dia pasti akan merana dan takkan hidup lama lagi.’”

“Habis itu mendadak Thaysuhu mencucurkan air mata. Air mata betul-betul Lenghou-kongcu. Air mata kasih sayang seorang ayah kepada anak perempuannya. Sungguh, aku tidak omong kosong.”

Lenghou Tiong jadi teringat kepada Gi-lim yang kian hari memang kian kurus. Disangkanya mungkin perjalanan jauh telah melelahkan nikoh cilik itu. Tak tahunya lantaran merana karena rindu dendam. Urusan ini benar-benar sukar diselesaikan.

Dian Pek-kong menutur pula, “Setelah menangis, mendadak Thaysuhu mencengkeram kudukku dan memaki diriku, ‘Keparat, semuanya gara-gara perbuatanmu. Kalau tempo hari kau tidak bermaksud busuk terhadap anak perempuanku, tentu pula Lenghou Tiong takkan turun tangan menolong dan dengan sendirinya anak perempuanku sekarang takkan kurus dan merana seperti sekarang ini.’”

“Aku menjawab, ‘Tidak tentu. suhuku secantik bidadari, seumpama tempo hari aku tidak berbuat jelek padanya, tentu Lenghou Tiong akan memancing dan menggodanya, mustahil bocah Lenghou Tiong itu tidak kesengsem kepada perempuan molek.’”

“Dian-heng, kata-katamu ini rasanya keterlaluan sedikit,” ujar Lenghou Tiong dengan mengerut kening.

“Maaf, Lenghou-kongcu. Soalnya aku kenal tabiat Thaysuhu, kalau aku tidak berkata demikian tentu aku takkan dilepaskannya. Benar juga, sesudah aku berkata begitu, dari marah beliau menjadi senang, aku lantas dilepaskan, katanya, ‘Anak keparat, hari itu kusaksikan kau berkelahi dengan Lenghou Tiong di atas loteng restoran itu, dia tidak mampu melawan kau sehingga badannya penuh luka terbacok oleh golokmu. Coba kalau bukan lantaran kau bermaksud memerkosa anak perempuanku, hm, waktu itu juga tentu kepalamu sudah aku gecek hingga gepeng.’”

“Aneh, kau bermaksud perkosa anak perempuannya, dia malah merasa syukur?” tanya Lenghou Tiong heran.

“Bukan merasa syukur, tapi beliau anggap aku pandai memilih perempuan yang cantik,” kata Dian Pek-kong.

Kembali Lenghou Tiong melongo oleh logika yang gila itu.

“Lenghou-kongcu,” kata Dian Pek-kong pula, “pesan Thaysuhu sudah kukatakan seluruhnya padamu. Kutahu urusan ini rada sulit. Lebih-lebih menjadi pantangan bagimu selaku ketua Hing-san-pay. Cuma kunasihatkan agar engkau sudi lebih sering bicara yang baik-baik dengan suhuku agar beliau merasa gembira. Urusan selanjutnya boleh terserah kepada keadaan.”

Lenghou Tiong mengangguk dan mengiakan.

Tengah bicara dari depan sana datang pula menyambut beberapa anak murid Ko-san-pay. Mereka memberi hormat dan berkata, “Para tokoh dan ketua semua golongan dan aliran akan berkumpul di Ko-san sini untuk ikut menyaksikan upacara pemilihan ketua Ngo-gak-pay. Para kawan dari Kun-lun-pay dan Jing-sia-pay sudah sejak kemarin tiba. Kedatangan Lenghou-ciangbun sekarang sangat kebetulan. Semua hadirin sudah menunggu di atas sana. Silakan!”

Sikap anak murid Ko-san-pay itu sangat angkuh. Kata-kata mereka pun sombong seakan-akan jabatan ketua Ngo-gak-pay pasti akan dipegang oleh Ko-san-pay mereka.

Setelah naik lagi sekian lama ke atas gunung. Terdengar suara gemercak air yang gemuruh. Sebuah air terjun tampak menuangkan airnya yang deras ke bawah jurang. Beramai-ramai mereka mendaki ke atas menyusur tepi air terjun itu. Sepanjang jalan anak murid Ko-san-pay yang menjadi petunjuk jalan suka pamer keindahan panorama pegunungan Ko-san sambil menunjukkan nama-nama tempat ini dan itu.

“Ko-san terletak tepat di tengah dunia ini dan selalu merupakan kepala dari semua gunung di dunia,” demikian kata murid Ko-san-pay itu. “Coba lihat, Lenghou-ciangbun, suasana sehebat ini, pantas kalau raja-raja dari berbagai dinasti selalu mendirikan kota raja di kaki Ko-san kita ini.”

Di balik maksud ucapan murid Ko-san-pay itu hendak dikatakan bahwa Ko-san adalah kepala dari semua gunung, maka Ko-san-pay juga selalu menjadi pimpinan berbagai golongan persilatan.

Dengan tersenyum Lenghou Tiong menjawab, “Orang Kangouw macam kita ini entah ada sangkut paut apa dengan raja-raja dan kaum pembesar negeri? Apakah Co-ciangbun kalian sering berhubungan dengan pembesar-pembesar pemerintahan?”

Seketika muka murid Ko-san-pay itu menjadi merah dan tidak bicara lagi.

Jalanan ke atas seterusnya menjadi makin curam. Murid Ko-san sebagai penunjuk jalan itu masih memperkenalkan pula nama-nama tempat yang mereka lalui. Tidak lama kemudian, setelah melewati suatu pengkolan, mendadak kabut bertaburan, di tengah jalan pegunungan itu sedang mengadang belasan laki-laki dengan pedang terhunus. Terdengar seorang di antaranya berseru dengan suara seram, “Bilakah Lenghou Tiong akan sampai di sini? Kalau melihatnya, harap para sobat sudi memberitahukan pada aku si buta.”

Lenghou Tiong melihat orang yang bicara itu bercambang pendek dan kaku lebat. Wajahnya sangat seram, tapi kedua matanya ternyata buta. Ketika melihat orang-orang yang lain, semuanya juga orang buta. Terkesiap hati Lenghou Tiong, segera ia berseru, “Lenghou Tiong sudah berada di sini. Saudara ada urusan apa?”

Begitu mendengar “Lenghou Tiong sudah berada di sini”, serentak belasan orang buta itu lantas berteriak-teriak dan mencaci maki. Dengan pedang terhunus mereka terus menerjang maju sambil memaki, “Bangsat keparat Lenghou Tiong, betapa kau telah membikin susah kami. Hari ini, biarlah kami mengadu jiwa padamu.”

Setelah berpikir sejenak, pahamlah Lenghou Tiong. “Dahulu malam-malam Hoa-san-pay kami diserang musuh secara mendadak di kelenteng bobrok. Dengan Tokko-kiu-kiam yang baru saja kupelajari itu, aku telah membutakan mata musuh yang tidak sedikit. Jika begitu penyerang-penyerang itu adalah suruhan Ko-san-pay, sungguh tidak nyana hari ini akan bertemu lagi di sini.”

Dilihatnya keadaan tempat cukup berbahaya. Bila belasan orang itu benar-benar mengadu jiwa padanya, asalkan salah seorang berhasil merangkulnya, maka bukan mustahil akan tergelincir ke dalam jurang dan gugur bersama. Sekilas dilihatnya pula anak murid Ko-san-pay petunjuk jalan tadi bersikap acuh tak acuh seakan-akan mensyukurkan apa yang bakal terjadi.

“Apakah kawan-kawan buta ini anak murid Ko-san-pay?” tanya Lenghou Tiong.

“Bukan, mereka bukan orang kami,” jawab murid Ko-san-pay itu. “Entah mereka ada permusuhan apa dengan Lenghou-ciangbun? Hari ini adalah hari penting pemilihan ketua Ngo-gak-pay. Bila Lenghou-ciangbun sampai terjerumus ke dalam jurang karena dikerubut sobat-sobat buta ini, biarpun kedua pihak gugur bersama, tapi sungguh harus disesalkan.”

“Benar juga,” ujar Lenghou Tiong dengan tersenyum. “Maka dari itu sukalah Saudara memberi perintah agar mereka suka memberi jalan.”

“Silakan Lenghou-ciangbun sendiri membereskan saja,” jawab orang Ko-san-pay itu.

Pada saat itulah sekonyong-konyong seorang membentak dengan suara menggelegar, “Biar kubereskan kau dulu dan urusan belakang!”

Siapa lagi dia kalau bukan Put-kay Taysu. Dengan langkah lebar ia menerjang maju, sekali cengkeram, dua murid Ko-san-pay telah kena dipegang olehnya terus dilemparkan ke arah kawanan orang buta tadi sambil berseru, “Ini dia Lenghou Tiong telah tiba!”

Serentak kawanan orang buta itu ayun senjata. Mereka membacok dan menebas serabutan. Untung kedua murid Ko-san-pay itu cukup tangkas, selagi tubuh mereka terapung di udara, mereka mampu mencabut pedang sendiri buat menangkis seraya berteriak, “Kami orang Ko-san-pay. Kita kawan sendiri. Lekas menyingkir!”

Mendengar itu kawanan orang buta menjadi kelabakan dan kacau-balau. Mereka berusaha menghindar sedapat mungkin. Namun Put-kay sudah lantas menyusul ke depan. Kembali kedua murid Ko-san-pay itu kena dicengkeram olehnya, bentaknya pula, “Jika kalian tidak suruh kawanan buta itu enyah dari sini, biar kulemparkan kalian ke jurang!”

Berbareng ia kerahkan tenaga sekuatnya, kedua orang itu dilemparkan ke atas. Bobot kedua murid Ko-san-pay itu masing-masing ada lebih seratus kati, tapi tenaga pembawaan Put-kay memang sangat kuat. Sekali lempar, kedua orang itu lantas melayang ke atas beberapa meter tingginya.

Keruan kedua murid Ko-san-pay itu ketakutan setengah mati. Hampir-hampir sukma mereka terbang meninggalkan raganya. Berbareng mereka menjerit ngeri. Mereka percaya sekali ini pasti akan terjatuh ke dalam jurang yang tak terhingga dalamnya dan hancur lebur menjadi bakso.

Namun sebelum kedua orang itu jatuh ke bawah, dengan cepat sekali Put-kay sudah kena cengkeram pula kuduk mereka lalu mengancam, “Bagaimana? Apakah mau sekali coba lagi?”

“Ti…Tidak! Jang… Jangan!” cepat seorang di antaranya berseru. Seorang lagi agaknya lebih licin. Tiba-tiba ia berseru, “Hei, Lenghou Tiong, hendak lari ke mana kau? Hayo para sobat buta, lekas kejar ke sini. Lekas!”

Mendengar itu kawanan orang buta itu percaya sungguh-sungguh, serentak mereka mengejar.

Dengan marah Dian Pek-kong lantas mendamprat murid Ko-san-pay tadi, “Nama Lenghou Tiong masakah boleh sembarangan kau sebut? Ini hadiahmu!”

“Plak.” Kontan memberi persen tempelengan kepada orang Ko-san-pay itu. Lalu ia berteriak, “Lenghou-tayhiap berada di sini. Lenghou-ciangbun berada di sini! Orang buta mana yang berani, hayolah coba kemari kalau minta diberi hajaran!”

Sebenarnya kawanan orang buta itu kena dihasut oleh orang Ko-san-pay agar menuntut balas kepada Lenghou Tiong. Maka dengan penuh dendam mereka menanti di jalan pegunungan itu. Tapi ketika mendengar jeritan ngeri kedua murid Ko-san-pay tadi, mau tak mau mereka menjadi jeri. Apalagi mereka telah lari kian-kemari di jalan pegunungan itu dengan mata buta sehingga tidak tahu mana sasarannya. Keruan mereka menjadi bingung sendiri dan akhirnya berdiri termenung di tempat masing-masing.

Lenghou Tiong tidak ambil pusing lagi pada mereka. Bersama Put-kay, Dian Pek-kong, dan murid-murid Hing-san-pay, mereka meneruskan perjalanan ke atas gunung. Tidak lama di depan kelihatan dua puncak gunung mengapit sebuah selat alam sehingga berwujud sebuah pintu gerbang, angin kencang meniup keluar dari selat sana disertai kabut awan.

Kalau tadi anak murid Ko-san-pay suka pamer dan mengoceh tentang tempat-tempat strategis di pegunungan Ko-san, tapi sekarang mereka hanya bungkam saja. Maka Dian Pek-kong sengaja mengolok-olok, bentaknya mendadak, “Apa nama tempat ini? Kenapa kalian berubah menjadi bisu?”

Dengan menyengir, murid Ko-san-pay tadi terpaksa menjawab, “Ini namanya Tiau-thian-mui (Pintu Gerbang Langit).”

Setelah memutar lagi ke sebelah kiri dan menanjak lagi tidak jauh, tiba-tiba terdengar suara alat tetabuhan dibunyikan. Pada tanah lapang di atas puncak gunung situ sudah berjubel beribu-ribu orang. Beberapa murid Ko-san-pay tadi lantas mendahului naik ke atas puncak situ untuk melapor, Lenghou Tiong dan rombongannya menyusul kemudian.

Maka terlihatlah Co Leng-tan memakai jubah kuning datang menyambut bersama belasan orang muridnya.

Kini kedudukan Lenghou Tiong adalah ketua Hing-san-pay, tapi dia sudah biasa memanggil “Co-supek” pada Co Leng-tan, sebagai angkatan muda, maka tetap ia memberi hormat dan menyapa, “Terimalah hormat Lenghou Tiong, Ko-san-ciangbun.”

“Meski berpisah sekian lamanya, namun Lenghou-siheng tampaknya tambah segar,” ujar Co Leng-tan. “Kesatria ganteng muda sebagai Lenghou-siheng mengetuai Hing-san-pay. Sungguh suatu peristiwa yang memecahkan sejarah dunia persilatan. Terimalah ucapan selamat dariku.”

Lenghou Tiong tahu ucapan Co Leng-tan itu sebenarnya cuma olok-olok belaka, kata-kata “peristiwa yang memecahkan sejarah dunia persilatan” sebenarnya untuk menyindir Lenghou Tiong seorang laki-laki telah mengetuai kawanan nikoh.

Maka Lenghou Tiong menjawab sewajarnya saja, “Wanpwe menerima tugas terakhir dari Ting-sian Suthay. Tujuannya adalah untuk menuntut balas bagi kedua suthay. Bila tugas membalas dendam sudah tercapai, dengan sendirinya Cayhe akan mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan ketua kepada yang lebih bijaksana.”

Waktu berkata pandangan Lenghou Tiong selalu menatap tajam ke arah Co Leng-tan dengan maksud menyelami perasaan orang apakah memperlihatkan air muka malu atau marah atau benci. Tapi air muka Co Leng-tan ternyata tidak berubah sedikit pun.

Malahan Co Leng-tan berkata, “Ngo-gak-kiam-pay selamanya senasib setanggungan. Selanjutnya kelima golongan bahkan akan dilebur menjadi satu maka soal sakit hati Ting-sian dan Ting-yat Suthay tidak cuma urusan Hing-san-pay sendiri, bahkan juga urusan Ngo-gak-pay kita. Syukur Lenghou-hengte sudah menetapkan tekad. Sungguh harus dipuji.”

Ia merandek sejenak lalu menyambung lagi, “Sementara itu Thian-bun Toheng dari Thay-san, Bok-taysiansing dari Heng-san, Gak-siansing dari Hoa-san, serta para undangan peninjau sudah datang semua. Silakan Lenghou-hengte bertemu dengan mereka.”

“Baik,” kata Lenghou Tiong. “Entah Hong-ting Taysu dari Siau-lim dan Tiong-hi Totiang dari Bu-tong sudah datang atau belum?”

Dengan acuh tak acuh Co Leng-tan menjawab, “Tempat tinggal mereka berdua meski dekat. Tapi mengingat kedudukan mereka, tentunya mereka akan menjaga gengsi, rasanya mereka takkan hadir.”

Lenghou Tiong mengangguk. Tapi pada saat itulah tertampak dua murid Ko-san-pay berlari tiba dari bawah gunung. Melihat cara lari mereka yang terburu-buru, jelas ada sesuatu urusan penting yang perlu dilaporkan. Karena itu para hadirin menjadi tertarik.

Dalam sekejap saja kedua orang itu sudah berada di depan Co Leng-tan. Mereka memberi hormat dan berkata, “Suhu, ketua Siau-lim-si Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay bersama anak muridnya sedang menuju kemari untuk menyampaikan selamat kepada Ngo-gak-pay kita.”

“O, mereka juga hadir? Wah, sungguh suatu kehormatan besar. Harus kita sambut selayaknya,” kata Co Leng-tan.

Para kesatria yang sudah hadir juga gempar ketika mendengar bahwa ketua-ketua Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay juga hadir. Serentak mereka ikut di belakang Co Leng-tan ke bawah gunung untuk menyambut.

Lenghou Tiong bersama anak murid Hing-san-pay menyingkir di tepi jalan untuk memberi jalan kepada orang banyak. Tertampak Thian-bun Tojin dari Thay-san-pay, Bok-taysiansing dari Heng-san-pay, Pangcu dari Kay-pang, Ih Jong-hay ketua Jing-sia-pay, dan gembong-gembong persilatan lain memang benar sudah hadir semua. Kepada tiap-tiap kenalan itu, Lenghou Tiong mengangkat tangan memberi hormat.

Tiba-tiba dari belakang sana muncul satu rombongan. Kiranya adalah orang-orang Hoa-san-pay, Gak Put-kun dan istrinya tampak berada paling depan. Dengan perasaan pilu Lenghou Tiong memburu maju, ia berlutut dan menjura, katanya, “Harap kedua Lojinkeh (orang tua) terima hormatnya Lenghou Tiong.”

Ia tidak berani memanggil “suhu” dan “sunio”. Juga tidak berani menyebut dirinya sebagai “murid”, tapi cara menjura tiada ubahnya seperti dahulu kalau dia memberi hormat kepada Gak Put-kun dan istrinya.

Gak Put-kun mengegoskan tubuhnya ke samping. Jawabnya dengan nada dingin, “Buat apa Lenghou-ciangbun menjalankan penghormatan sebesar ini? Bukankah aneh dan menertawakan?”

Selesai memberi hormat, Lenghou Tiong lantas berbangkit dan mundur ke tepi jalan.

Mata Gak-hujin tampak merah basah, katanya, “Kabarnya kau telah menjabat ketua Hing-san-pay. Selanjutnya asalkan kau tidak sembrono dan tidak bikin gara-gara, ku kira masih banyak kesempatan bagimu untuk membersihkan diri.”

“Hm, tidak bikin gara-gara? Nanti kalau matahari terbit dari barat,” jengek Gak Put-kun. “Kalau dia bisa menjabat ketua Hing-san-pay sampai hari ini tentu dia sudah boleh merasa puas.”

Lenghou Tiong lantas berkata, “Pertemuan di Ko-san ini tampaknya Co-supek ada maksud melebur Ngo-gak-kiam-pay. Entah bagaimana pendapat kedua Lojinkeh terhadap urusan ini?”

“Pendapatmu sendiri bagaimana?” Gak Put-kun balas bertanya.

“Tecu kira…”

“Istilah ‘tecu’ tak perlu kau pakai lagi,” sela Gak Put-kun dengan tersenyum. “Jika kau masih mengingat hubungan baik di Hoa-san dahulu, hendaklah kau…”

Sejak diusir dari Hoa-san-pay, belum pernah Lenghou Tiong menghadapi sikap ramah Gak Put-kun seperti saat ini, keruan ia menjadi senang dan cepat menjawab, “Ada pesan apa dari Lojinkeh, Tecu… O, Wanpwe pasti akan menurut saja.”

“Aku pun tiada pesan apa-apa,” Gak Put-kun manggut-manggut. “Hanya saja kaum persilatan kita paling mengutamakan budi dan kewajiban. Bahwa kau dikeluarkan dari Hoa-san-pay sesungguhnya bukan kami yang berhati kejam dan tidak dapat memaafkan kesalahanmu. Soalnya, karena kau yang melanggar pantangan besar dunia persilatan kita. Meski sejak kecil kubesarkan kau sehingga hubungan kita seperti ayah dan anak, namun aku harus bertindak secara adil tanpa pilih kasih.”

Mendengar sampai di sini, air mata Lenghou Tiong bercucuran. Katanya dengan terguguk-guguk, “Budi kebaikan Suhu, biarpun badan Tecu hancur lebur juga sukar membalas.”

Gak Put-kun tepuk-tepuk bahu Lenghou Tiong dengan perlahan sebagai tanda menghiburnya. Katanya pula, “Kejadian di Siau-lim-si tempo hari, kita guru dan murid sampai main senjata. Tapi, sebenarnya beberapa jurus yang kugunakan itu mengandung arti yang dalam dengan harapan agar kau bisa mengubah pikiranmu dan kembali ke dalam Hoa-san-pay, namun kau tidak sadar. Sungguh, membikin aku sangat kecewa.”

“Ya, Tecu pantas mampus,” jawab Lenghou Tiong dengan tunduk kepala. “Perbuatan Tecu di Siau-lim-si tempo hari sesungguhnya sukar dijelaskan. Bila Tecu dapat kembali mengabdi di bawah pimpinan Suhu, sungguh inilah cita-cita Tecu selama hidup ini.”

“Kukhawatir kata-katamu ini hanya manis di mulut tetapi lain di hati,” kata Gak Put-kun dengan tersenyum. “Sekarang kau kan sudah menjadi ketua Hing-san-pay, mana kau sudi kembali menjadi muridku.”

Dari nada Gak Put-kun itu agaknya dia tidak keberatan untuk menerimanya kembali menjadi murid Hoa-san-pay, kesempatan baik ini mana boleh disia-siakan. Segera Lenghou Tiong berlutut dan berkata, “Suhu, Sunio, Tecu telah banyak berbuat dosa. Untuk selanjutnya, Tecu berjanji akan memperbaiki kesalahan-kesalahan dahulu dan taat kepada ajaran Suhu dan Sunio. Harapan Tecu hanya sudilah Suhu dan Sunio menaruh belas kasihan dan terima Tecu kembali.”

Pada saat itu terdengar suara orang banyak sedang mendatangi. Para kesatria tampak mengiringi Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin sedang naik ke atas. Cepat Gak Put-kun berkata dengan suara tertahan, “Lekas kau bangun saja. Urusan ini dapat kita rundingkan nanti.”

Lenghou Tiong sangat girang. Ia menjura beberapa kali pula dan mengucapkan terima kasih. Habis itu, barulah berdiri.

Dengan perasaan pilu dan girang, pula Gak-hujin berkata, “Siausumoaymu dan Lim-sute pada bulan yang lalu sudah…sudah menikah,” nadanya rada khawatir kalau-kalau apa yang dikatakannya itu akan mengecewakan Lenghou Tiong, sebab ia menduga maksud Lenghou Tiong ingin kembali ke Hoa-san-pay adalah demi Gak Leng-sian.

Pedih juga perasaan Lenghou Tiong. Ia coba melirik ke arah Gak Leng-sian. Tertampak sang sumoay telah ganti dandanan sebagai seorang nyonya muda. Pakaiannya rada mewah, namun wajahnya masih sama seperti dahulu. Tiada tanda-tanda riang gembira sebagaimana layaknya seorang pengantin baru. Ketika beradu pandang dengan Lenghou Tiong, mendadak air mukanya berubah merah dan lantas menunduk.

Seketika dada Lenghou Tiong seperti kena digodam dengan keras, mata terasa berkunang-kunang. Berdiri pun hampir tidak sanggup. Sayup-sayup telinga mendengar seorang menyapa padanya, “Lenghou-ciangbun, engkau adalah tamu jauh, tapi malah sudah datang lebih dulu. Siau-lim-si adalah tetangga dekat, tapi Lolap malah datang terlambat.”

Lalu Lenghou Tiong merasa bahunya dipayang seorang, cepat ia tenangkan diri dan memerhatikan. Kiranya, dengan tersenyum, simpul Hong-ting Taysu sudah berdiri di depannya. Cepat ia menjawab, “O, kiranya Hong-ting Taysu. Terimalah hormat Wanpwe!”

“Sudahlah, kita tidak perlu banyak adat lagi. Kalau setiap orang saling memberi hormat, sampai kapan beribu-ribu orang yang hadir ini bisa rampung saling memberi hormat? Silakan para hadirin masuk sian-ih (pendopo) dan duduk di dalam.”

Para kesatria sama mengiakan. Beramai-ramai mereka lantas masuk ke kuil Cun-kek-sian-ih.

Puncak tertinggi dari Ko-san bernama “Cun-kek”. Di puncak tertinggi itu dibangun sebuah kuil dan disebut Cun-kek-sian-ih. Selama beratus tahun kuil itu menjadi tempat kediaman ketua Ko-san-pay.

Pekarangan kuil itu penuh dengan pepohonan. Pendoponya juga sangat luas. Cuma, kalau dibanding Tay-hiong-po-tian dari Siau-lim-si memang lebih kecil. Baru ribuan orang masuk ke kuil itu sudah memenuhi pendopo dan halaman luar, selebihnya hampir-hampir tiada tempat berpijak lagi di dalam kuil.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol )

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: