Hina Kelana: Bab 109. Antara Guru Dogol dan Murid Istimewa

“Dahulu itu kan terpaksa, apalagi lantaran itu telah timbul banyak omongan-omongan iseng,” kata Ing-ing. “Tadi Ayah mengatakan aku… aku hanya memikirkan kau dan tidak mau ayah lagi, kalau sekarang aku benar ikut pergi bersama kau tentu Ayah tambah marah. Setelah mengalami penderitaan-penderitaan selama belasan tahun agaknya watak Ayah rada-rada berubah aneh, kupikir harus menjaganya dengan baik-baik dan tidak tega berpisah dengan beliau. Asalkan hatimu tidak berubah, selanjutnya waktu berkumpul kita kan masih panjang?”

Kata-kata terakhir itu diucapkan dengan lirih sehingga hampir-hampir tak terdengar. Kebetulan waktu itu segumpal mega putih melayang tiba sehingga mereka seperti terbungkus di dalam awan. Meski mereka duduk bersanding, namun tampaknya hanya remang-remang, jarak keduanya seperti sangat jauh.

Setiba di bawah tebing dan keluar dari keranjang bambu, dengan suara berat Ing-ing bertanya, “Apakah kau akan terus berangkat?”

“Ya,” jawab Lenghou Tiong. “Co Leng-tan, itu ketua Ko-san-pay telah mengundang segenap anggota Ngo-gak-kiam-pay untuk berkumpul pada tanggal 15 bulan tiga untuk memilih ketua Ngo-gak-pay. Dia punya ambisi sangat besar dan bermaksud buruk terhadap kesatria-kesatria seluruh jagat. Maka pertemuan di Ko-san itu harus kuhadiri.”

Ing-ing mengangguk, katanya, “Engkoh Tiong, ilmu pedang Co Leng-tan bukan tandinganmu, tapi kau harus hati-hati terhadap tipu muslihatnya.”

Lenghou Tiong mengiakan. Lalu Ing-ing menyambung pula, “Mestinya aku ingin ikut pergi, cuma aku adalah perempuan Mo-kau, kalau pergi ke Ko-san bersama kau tentu akan merintangi urusanmu.”

Ia merandek sejenak, kemudian meneruskan dengan rasa cemas, “Bila nanti kau berhasil menjadi ketua Ngo-gak-pay, namamu akan termasyhur di seluruh dunia, sedangkan kita dari golongan cing dan sia yang tidak sama, kukira urusan kita akan… akan lebih sulit.”

“Dalam keadaan begitu masakah kau masih tidak memercayai diriku?” ujar Lenghou Tiong dengan suara halus dan memegang tangan nona erat-erat.

“Tentu saja aku percaya,” sahut Ing-ing dengan tersenyum. Selang sejenak ia berkata pula dengan khawatir, “Cuma kurasa semakin tinggi ilmu silat yang dicapai seseorang, semakin besar pula namanya di dunia persilatan, sering kali hal ini akan mengubah wataknya. Dia sendiri mungkin tidak sadar, tapi macam-macam urusan selalu berlainan dengan masa-masa sebelumnya. Tonghong-sioksiok begitu, kukhawatir Ayah mungkin juga akan begitu.”

“Kau jangan khawatir, Ing-ing,” kata Lenghou Tiong. “Orang lain mungkin begitu, tapi aku pasti tidak. Pembawaanku adalah suka terus terang, tidak bisa berlagak. Andaikan aku menjadi sombong dan kepala besar, tapi di hadapanmu aku akan tetap seperti sekarang.”

“Jika begitu tentu sangat baik,” ujar Ing-ing.

Lenghou Tiong menarik tubuh si nona lebih dekat, perlahan-lahan merangkul pinggangnya, katanya pula, “Sekarang aku mohon diri padamu. Setelah urusan penting di Ko-san itu beres segera aku akan datang mencari kau. Sejak itu kita berdua takkan berpisah pula.”

Sorot mata Ing-ing menjadi terang, memancarkan cahaya yang aneh, katanya dengan berat, “Semoga usahamu berhasil dengan baik dan secepatnya kembali. Siang dan malam aku… aku menantikan kau di sini.”

“Baiklah,” kata Lenghou Tiong sambil perlahan-lahan mencium pipi si nona.

Keruan wajah Ing-ing menjadi merah, dengan malu ia mendorong perlahan. Lenghou Tiong terbahak-bahak dan mendekati kudanya, dicemplaknya ke atas kuda dan dilarikan meninggalkan pusat Tiau-yang-sin-kau itu.

Suatu hari sampailah Lenghou Tiong di Hing-san. Beramai-ramai anak murid Hing-san-pay menyambut kembalinya sang ketua dengan gembira. Tidak antara lama para kesatria yang tinggal di puncak seberang juga membanjir tiba untuk menemui Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong menanyakan keadaan mereka selama ditinggal pergi, menurut Coh Jian-jiu para kesatria itu hidup prihatin, semuanya giat berlatih dengan tertib, tiada seorang pun yang berani datang ke puncak induk. Lenghou Tiong bersyukur bahwa mereka bisa menjaga peraturan dengan baik.

Sementara itu pertemuan di Ko-san pada tanggal 15 bulan tiga sudah mendekat, Lenghou Tiong lantas berkata kepada mereka, “Tempo hari waktu aku diangkat menjadi ketua, pihak Ko-san-pay telah mengutus seorang bernama Lim Ho dengan membawa apa yang disebut Ngo-gak-leng-ki dan mengharuskan aku berkumpul di Ko-san pada tanggal 15 bulan tiga yang akan datang, hal mana tentu kalian ikut menyaksikan bukan?”

“Benar, tapi buat apa ambil pusing?” ujar Tho-kin-sian. “Silakan Ciangbunjin memberikan sebuah Ngo-gak-leng-ki padaku, biar aku pergi ke Ko-san dan suruh ketua mereka yang datang ke Hing-san sini.”

“Kalau dia tidak mau datang, lantas bagaimana?” sela Tho-ki-sian.

“Jika kau apa yang akan kau lakukan?” Tho-kin-sian balas bertanya.

“Begini, bret, habis perkara,” timbrung Tho-yap-sian sambil kedua tangannya bergerak seperti merobek sesuatu. Maksudnya kalau perlu Co Leng-tan dirobek saja menjadi empat potong. Maka bergelak tertawalah semua orang.

“Tapi katanya para ciangbunjin dari Ngo-gak-kiam-pay akan berkumpul semua pada hari yang ditentukan itu, kalau kita memanggil ketua Ko-san-pay itu ke sini, untuk itu kita harus memberi makan-minum padanya, kita kan rugi kalau begini? Pula kurang ramai. Maka aku berpendapat ada lebih baik kalau kita beramai-ramai mendatangi Ko-san, kita makan dan minum suguhannya, ribuan orang kita makan-minum sepuas-puasnya biar dia jatuh bangkrut, cara begini kan lebih baik?” kata Lenghou Tiong.

Memangnya para kesatria itu sudah bosan hidup menyepi, keruan serentak mereka bersorak gembira mendengar usul Lenghou Tiong.

“Dan setiba di Ko-san nanti cara kalian makan-minum juga tidak perlu sungkan-sungkan agar orang tahu bahwa kita selamanya tidak pernah berhemat dalam hal makan-minum,” demikian Lenghou Tiong menambahkan.

Begitulah besok paginya rombongan besar mereka lantas berangkat menuju ke Ko-san. Beberapa hari kemudian sampailah mereka di tepi Hongho dan berkemah di situ malamnya. Esok paginya ketika Lenghou Tiong bangun, ia merasa suasana sekitarnya sunyi senyap, sama sekali berbeda daripada biasanya. Semalam ia adu minum arak dengan para kesatria sehingga tidurnya terlalu lelap. Kini ia merasakan sesuatu yang kurang baik, jangan-jangan karena mabuknya semalam sehingga para anak murid perempuan masuk perangkap musuh.

Cepat Lenghou Tiong mengenakan baju dan keluar kemah sambil memanggil Gi-lim dan lain-lain. Dengar panggilan sang pemimpin, Gi-lim dan teman-temannya lantas muncul dan menanyakan ada urusan apa.

Melihat Gi-lim dan lain-lain baik-baik saja, Lenghou Tiong merasa lega. Tiba-tiba datang Gi-jing dan melapor dengan tertawa, “Toasuko, kawan-kawan priamu itu semalam entah betapa banyak menenggak arak, masakah sampai saat ini tiada seorang pun yang bangun.”

Waktu Lenghou Tiong mendongak, dilihatnya sang surya sudah cukup tinggi di ujung timur. “Masakah tiada seorang pun yang bangun?” ia menegas.

“Ya, tiada seorang pun, memang rada aneh,” ujar Gi-lim dengan tersenyum.

Seketika Lenghou Tiong merasa ada sesuatu yang tidak beres, mustahil di antara ribuan orang itu tiada seorang pun yang bangun pagi karena mabuk-mabukan semalam, apalagi di antara mereka sedikitnya ada berpuluh orang yang tidak gemar minum arak.

Dengan perasaan tidak enak, cepat Lenghou Tiong mendatangi kemah para kesatria, ternyata di situ dalam keadaan kosong melompong tiada seorang pun. Hanya ditemukan secarik surat yang ditandatangani oleh Keh Bu-si, Coh Jian-jiu, Lo Thau-cu, dan lain-lain, bunyi surat itu mengatakan bahwa semalam mereka menerima Hek-bok-leng dari Sin-yang-kaucu yang memberi perintah agar segenap kesatria itu segera pulang ke Hek-bok-keh, karena terburu-buru sehingga tidak sempat mohon diri, maka Lenghou Tiong diminta sudi memberi maaf.

Melihat surat itu, legalah hati Lenghou Tiong walaupun rada bingung juga karena tidak tahu apa sebabnya mendadak Yim-kaucu memerintahkan semua orang itu meninggalkannya? Ia pikir tentu Yim-kaucu tidak senang karena penolakannya masuk menjadi anggota Sin-kau, pula dirinya telah tertawa ketika mereka mencaci maki Tonghong Put-pay di balairung panjang tempo hari, tentu hal ini telah membuat Yim-kaucu marah pula.

Dalam pada itu Gi-lim, Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain juga sudah menyusul tiba, mereka pun terheran-heran setelah mengetahui kepergian para kesatria tanpa pamit.

“Kebetulan juga kalau mereka sudah pergi semua,” ujar Gi-ho. “Di sini mereka hanya bikin rusuh saja dan kita harus khawatir setiap hari.”

Pada saat itu sekonyong-konyong di kemah sebelah sana ada suara gedubrakan. “Apa itu?” seru Gi-ho sambil berlari ke sana. Ternyata ada beberapa orang bertumpang-tindih menjadi satu, kiranya Tho-kok-lak-sian adanya. Cepat ia berseru, “Lekas kemari, Toasuko!”

Lenghou Tiong memang sudah menyusul tiba dan menyaksikan keadaan Tho-kok-lak-sian yang lucu itu. Cepat ia mendekati dan menurunkan Tho-kin-sian yang berada paling atas.

Ternyata di mulut Tho-kin-sian tersumbat satu buah tho, segera Lenghou Tiong mengoreknya keluar. Tapi begitu mulutnya bebas, kontan Tho-kin-sian memaki, “Keparat, bedebah, jahanam! Nenek moyangmu disambar geledek….”

“Eh, Tho-kin Toako, aku kan tidak salah padamu, kenapa kau mencaci maki aku?” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Aku tidak memaki kau,” kata Tho-kin-sian. “Bangsat, pura-pura ajak minum, tapi mendadak menutuk hiat-toku. Dasar keparat, Coh Jian-jiu dan Lo Thau-cu memang bangsat….”

Baru sekarang Lenghou Tiong paham duduknya perkara. Soalnya Tho-kok-lak-sian bukan anggota Mo-kau, dengan sendirinya mereka tidak terikat oleh perintah Yim Ngo-heng. Sebaliknya Lo Thau-cu dan lain-lain khawatir keenam orang dogol itu melaporkan kepergian mereka, maka secara tak terduga-duga mereka menutuk hiat-to Tho-kok-lak-sian serta menyumbat pula mulut mereka.

Begitulah Lenghou Tiong lantas membuka hiat-to Tho-kin-sian yang tertutuk itu, lalu tinggal keluar. Tapi sampai lama sekali tidak tampak Tho-kok-lak-sian keluar. Ia heran, ia coba masuk lagi, dilihatnya Tho-kin-sian sedang mondar-mandir di situ dengan tersenyum-senyum, ternyata sejak tadi dia tidak memberi pertolongan kepada kelima saudaranya yang lain.

Dengan tertawa geli Lenghou Tiong lantas membuka hiat-to kelima orang yang masih tumpang-tindih itu, lalu cepat keluar lagi. Maka terdengarlah segera suara gedebukan di dalam, terang keenam saudara itu sedang saling tonjok.

Lenghou Tiong berjalan menyusuri jalan tepi sawah sambil membayangkan kedogolan Tho-kok-lak-sian. Tiba-tiba terpikir olehnya, “Mendadak Yim-kaucu memerintahkan segenap anak buahnya kembali ke Hek-bok-keh di luar tahuku, ini menandakan dia sangat marah padaku. Yang paling tidak enak dalam hal ini tentulah Ing-ing karena serbasusah, di suatu pihak dia harus tunduk kepada ayahnya, di lain pihak dia ingin membela aku.”

Teringat kepada Ing-ing, tanpa terasa Lenghou Tiong menghela napas.

Tiba-tiba di belakangnya suara seorang perempuan menegur, “Lenghou-toako, hatimu murung sekali, bukan?”

Waktu Lenghou Tiong menoleh, kiranya Gi-lim adanya. “O, tidak,” jawabnya. “Aku hanya merasa kesepian karena mendadak ditinggalkan para sahabat.”

“Orang-orang itu tunduk sekali kepada perintah Yim-siocia, sedangkan Yim-siocia teramat baik padamu, apakah perbuatan mereka itu tidak takut dimarahi Yim-siocia?”

“Ayah Yim-siocia sekarang adalah Kaucu Tiau-yang-sin-kau, mereka harus tunduk kepada perintah sang kaucu, kalau tidak tubuh mereka bisa membusuk karena banyak di antara mereka telah makan obat pembusuk tubuh dari Yim-kaucu.”

“Aku ingin tanya sesuatu padamu, boleh tidak Lenghou-toako?” kata Gi-lim.

“Tentu saja boleh,” jawab Lenghou Tiong. “Urusan apakah?”

“Sesungguhnya kau lebih suka kepada Yim-siocia atau lebih suka kepada kau punya Gak-sumoay?”

Lenghou Tiong melengak, dengan rada kikuk ia menjawab, “Mengapa mendadak kau bertanya persoalan ini?”

“Gi-ho dan Gi-jing Suci yang suruh aku tanya padamu,” kata Gi-lim.

Lenghou Tiong tambah heran, jawabnya dengan tersenyum, “Mereka adalah orang agama, mengapa tanya hal-hal demikian?”

Gi-lim menunduk, katanya, “Lenghou-toako, urusan siausumoaymu itu selamanya tak pernah kukatakan kepada orang lain. Cuma Gi-ho Suci pernah melukai Gak-siocia sehingga kedua pihak timbul perselisihan. Maka ketika kedua suci kami datang ke Hoa-san untuk menyampaikan berita diangkatnya engkau menjadi ketua Hing-san-pay, mereka telah ditahan oleh Hoa-san-pay.”

“Ya, ingatlah aku, memangnya aku juga merasa khawatir mengapa mereka berdua tidak kembali sampai sekarang, kiranya mereka telah ditahan oleh Hoa-san-pay. Dari mana kau mendapat kabar ini?”

“Si… si Dian Pek-kong itu yang bilang,” jawab Gi-lim dengan malu-malu.

“O, muridmu itu?

“Ya, ketika engkau ke Hek-bok-keh, para suci telah menyuruh dia ke Hoa-san untuk mencari berita.”

“Dengan ginkang yang tinggi, Dian Pek-kong memang tepat disuruh menyelidiki sesuatu. Dan kedua sucimu itu apakah dijumpai olehnya?”

“Ya, cuma penjagaan Hoa-san-pay terlalu keras, dia tidak sanggup menolong mereka, syukur kedua suci tidak terlalu menderita. Pula aku telah memberi pesan padanya supaya jangan main kekerasan dan memusuhi Hoa-san-pay agar tidak membikin marah padamu.”

“Kau memberi pesan padanya segala, wah, lagaknya seorang guru benar-benar,” kata Lenghou Tiong. “Lalu apa lagi yang dilihat Dian Pek-kong di Hoa-san?”

“Katanya dia kebetulan melihat suatu perayaan pesta kawin di sana, kiranya gurumu sedang mengunduh mantu….”

Sekonyong-konyong wajah Lenghou Tiong berubah hebat, keruan Gi-lim terkejut dan cepat tutup mulut.

“Bi… bicaralah terus, tak… tak apa-apa,” kata Lenghou Tiong dengan napas memburu, tenggorokannya seperti tersumbat.

“Hendaklah kau jangan sedih, Lenghou-toako,” kata Gi-lim. “Gi-ho dan Gi-jing berdua suci juga mengatakan bahwa biarpun Yim-siocia adalah orang Mo-kau, tapi dia cantik molek, ilmu silatnya juga tinggi, setiap hal juga sepuluh kali lebih baik daripada Gak-siocia.”

“Apa yang kusedihkan?” ujar Lenghou Tiong dengan tersenyum getir. “Bila siausumoay mendapatkan jodoh yang baik, aku justru ikut merasa senang baginya. Apakah Dian… Dian Pek-kong juga melihat siausumoayku?”

“Dian Pek-kong hanya melihat suasana sangat ramai di sana, banyak tamu-tamu dari berbagai golongan datang memberi selamat. Dan Gak-siansing ternyata tidak memberitahukan kepada Hing-san-pay kita, rupanya kita telah dipandang sebagai musuh.”

Lenghou Tiong mengangguk-angguk. Lalu Gi-lim menyambung pula, “Ih Soh dan Gi-bun Suci dengan maksud baik menyampaikan undangan kepada Hoa-san-pay. Mereka tidak mengirim utusan untuk mengucapkan selamat padamu sebagai ciangbunjin baru, sebaliknya utusan kita malah ditahan oleh mereka. Maka menurut pendapat Gi-ho dan Gi-jing Suci, kita juga tidak perlu sungkan-sungkan lagi terhadap Hoa-san-pay yang tidak tahu aturan itu, kelak kalau kita bertemu mereka di Ko-san, secara tegas kita akan tanya mereka dan suruh mereka membebaskan Gi-bun Suci berdua.”

Kembali Lenghou Tiong hanya manggut-manggut saja.

Melihat sikap Lenghou Tiong yang linglung itu, Gi-lim menghela napas dan menambahkan, “Lenghou-toako, hendaklah engkau hati-hati!”

Habis itu ia lantas meninggalkannya.

Melihat Gi-lim makin menjauh melangkah pergi, tiba-tiba Lenghou Tiong ingat sesuatu, cepat ia berseru, “Sumoay!”

Gi-lim berhenti dan menoleh ke belakang. Terdengar Lenghou Tiong bertanya, “Yang menikah dengan siausumoay….”

“Yaitu pemuda she Lim,” kata Gi-lim. Dengan langkah cepat ia mendekati Lenghou Tiong pula, ia pegang lengan bajunya dan berkata pula, “Toako, orang she Lim itu secuil pun tak bisa membandingi kau. Gak-siocia memang ceroboh sehingga sudi menikah padanya. Para suci khawatir engkau masygul, maka hal ini tetap dirahasiakan sampai sekarang. Akan tetapi dalam beberapa hari lagi di Ko-san nanti besar kemungkinan kita akan bertemu dengan Gak-siocia serta suaminya, bila mendadak engkau melihat dandanan Gak-siocia telah berubah menjadi seorang pengantin baru, bisa jadi engkau akan… akan bingung dan bikin runyam urusan. Menurut pendapat para kawan, akan sangat baik sekali jika Yim-siocia berada di sampingmu. Para suci menyuruh aku agar menasihatkan kau supaya jangan memikirkan Gak-siocia yang tidak punya pendirian itu.”

Lenghou Tiong tersenyum getir. Ia merasa terima kasih terhadap perhatian Gi-ho dan lain-lain terhadapnya, pantas mereka memberi pelayanan yang lebih mesra selama dalam perjalanan, rupanya mereka khawatir hatiku berduka. Demikian pikirnya. Tiba-tiba terasa telapak tangannya tertetes beberapa titik air, ia terkejut dan berpaling, kiranya air mata Gi-lim yang berlinang-linang. “He, ken… kenapakah kau?” tanyanya heran.

“Aku… aku tidak tega melihat engkau berduka,” jawab Gi-lim. “Toako, jika engkau ingin menangis, maka silakan menangis saja sepuasnya.”

“Hahaha, mengapa aku menangis?” ujar Lenghou Tiong sambil bergelak tertawa. “Aku adalah pemuda yang bandel sehingga sudah lama diusir oleh guru dan ibu guru. Masakah mungkin siausumoay mau… mau… Hahahaha!”

Sambil tertawa ia terus berlari cepat ke depan. Sekali lari ternyata tidak berhenti sehingga tanpa terasa lebih 50 li jauhnya. Sampai di suatu tempat yang sepi, terasalah sedih yang tak tertahankan, ia menjatuhkan diri di tanah rumput dan menangislah keras

Setelah menangis sekian lamanya barulah hatinya terasa lega. Pikirnya, “Bila aku pulang saat ini tentu kedua mataku tertampak merah bengul, hal ini mungkin akan dibuat tertawaan Gi-ho dan lain-lain. Biarlah aku kembali kalau hari sudah gelap saja.”

Tapi lantas terpikir pula olehnya, “Tentu mereka sedang mencari aku dan merasa khawatir bila tak menemukan diriku. Menangis atau tertawa adalah jamak bagi setiap orang. Bahwasanya aku menyukai siausumoay telah diketahui semua orang, sekarang dia menikah pada orang lain, bila aku tidak berduka kan orang akan mengatakan hatiku palsu malah.”

Begitulah segera ia melangkah pula kembali ke tempat perkemahan. Dilihatnya Gi-ho dan lain-lain sedang mencari-carinya. Melihat dia pulang, semuanya menjadi lega dan bergirang. Malamnya Lenghou Tiong minum arak sendirian hingga mabuk, lalu tertidur.

Beberapa hari kemudian sampailah mereka di kaki gunung Ko-san, waktu rapat yang ditentukan masih ada dua hari pula. Ketika tiba tanggal 15 tepat, Lenghou Tiong bersama rombongannya pagi-pagi sudah berangkat ke atas gunung. Sampai di tengah gunung, di suatu gardu istirahat telah disambut oleh empat murid Ko-san-pay yang berseragam baju kuning. Dengan sangat hormat mereka berkata, “Atas kunjungan Lenghou-ciangbun dari Hing-san-pay, atas nama Ko-san-pay lebih dulu kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih. Para supek dan susiok dari Thay-san-pay, Heng-san-pay, dan Hoa-san-pay sudah sejak kemarin tiba lebih dulu. Maka sekarang pun lengkaplah dengan datangnya Lenghou-ciangbun bersama para suci dan sumoay dari Hing-san-pay.”

Lenghou Tiong terus mendaki ke atas gunung. Dilihatnya sepanjang jalan pegunungan itu disapu bersih, setiap beberapa li lantas memapak beberapa anak murid Ko-san-pay yang menyuguhkan minuman dan nyamikan, cara menyambut tamu sangat teratur, hal ini menandakan persiapan Co Leng-tan yang sangat rapi dan agaknya kedudukan ketua Ngo-gak-kiam-pay harus diperolehnya dengan segala jalan.

Kira-kira dua-tiga li lagi ke atas, tiba-tiba dari belakang ada orang berseru, “A Lim! A Lim!”

“He, itulah ayah!” seru Gi-lim girang. Cepat ia membalik dan berteriak, “Ayah!”

Tertampak dari sana mendatangi seorang hwesio yang tinggi besar, memang benar dia adalah ayah Gi-lim, Put-kay Hwesio. Di belakangnya masih ada lagi seorang hwesio. Mereka berjalan dengan sangat cepat, hanya sebentar saja mereka sudah mendekat.

“Lenghou-kongcu,” seru Put-kay, “engkau terluka parah dan ternyata tidak mati, bahkan telah menjadi ketua anak perempuanku, sungguh hebat sekali kau.”

“Ah, semuanya itu berkat doa restu Taysu…” mendadak Lenghou Tiong melihat hwesio di belakang Put-kay itu seperti sudah dikenalnya, hanya tidak ingat seketika siapa gerangannya. Setelah melenggong sejenak barulah ia mengenali hwesio itu kiranya ialah Dian Pek-kong. Keruan itu melongo heran dan tercetus dari mulutnya, “He, engkau….”

Hwesio itu memang betul Dian Pek-kong adanya, dia menyengir dan memberi hormat kepada Gi-lim sambil berkata, “Hormatku, Suhu!”

Gi-lim juga terheran-heran, tanyanya, “Kenapa… kenapa kau menjadi hwesio? Apa kau dalam penyamaran saja?”

“Tidak, tidak menyamar. Barang tulen harga pas, dia benar-benar seorang hwesio tulen!” kata Put-kay dengan berseri-seri. “He, Put-ko-put-kay, siapa nama agamamu, lekas beri tahukan kepada gurumu.”

Dengan menyengir Dian Pek-kong berkata pula, “Suhu, Thaysuhu telah memberikan suatu nama agama padaku, yakni ‘Put-ko-put-kay’.”

“Put-ko-put-kay? Mengapa begitu panjang?” ujar Gi-lim.

“Kau tahu apa?” kata Put-kay. “Nama dalam agama Buddha biasanya memang panjang-panjang, kenapa kau mesti heran?”

Ketika Lenghou Tiong tanya sebab musababnya Dian Pek-kong sampai menjadi hwesio dan ikut Put-kay Taysu, dengan menyengir malu Dian Pek-kong bercerita.

Kiranya pada suatu hari Dian Pek-kong yang terkenal sebagai “pencuri perempuan” itu telah mengincar anak perawan seorang hartawan. Malamnya, dengan ginkangnya yang tinggi ia telah menggeremeti anak perawan orang. Tapi sial baginya, perbuatannya itu telah dipergoki Put-kay. Ilmu silat Dian Pek-kong memang jauh di bawah Put-kay, maka hanya beberapa kali gebrak saja Dian Pek-kong sudah terbekuk.

“Sungguh runyam, memang kepandaianku jauh di bawah Thaysuhu sehingga aku tertutuk tak berkutik,” demikian Pek-kong meneruskan ceritanya. “Namun waktu itu aku merasa penasaran. Ketika Thaysuhu bertanya padaku, ‘Nah, apa katamu sekarang? Kau tertawan olehku, kau minta hidup atau ingin mampus?’

“Dengan penasaran aku menjawab, ‘Aku tertawan karena aku kurang hati-hati, kalau mau bunuh lekas bunuh saja, buat apa banyak bicara?’

“Dengan tertawa Thaysuhu berkata, ‘O, kau bilang kurang hati-hati sehingga tertawan, kalau hati-hati apa kau takkan tertawan olehku? Nah, boleh coba!’

“Habis berkata Thaysuhu lantas membuka hiat-to tubuhku yang tertutuk. Dengan ragu-ragu aku bertanya, ‘Apa maksudmu?’

“Thaysuhu menjawab, ‘Kau membawa senjata, kau juga punya dua kaki, sekarang boleh kau menyerang atau mau melarikan diri, boleh kau pilih sesukamu!’

“Dengan mendongkol aku menjawab, ‘Orang she Dian adalah laki-laki sejati, kenapa mesti main lari segala, aku bukan pengecut yang tidak tahu malu.’

“Thaysuhu mengakak tawa, katanya, ‘Jika kau bukan pengecut, mengapa sudah berjanji akan mengangkat guru pada anak perempuanku, tapi sekarang kau ingkar janji?’

“Aku menjadi heran dan bertanya, ‘Anak perempuanmu yang mana?’

“Thaysuhu menjawab, ‘Ketika kau bertaruh dengan anak muda dari Hoa-san-pay di atas loteng restoran di Kota Heng-san, kau berjanji kalau kalah bertaruh akan mengangkat anak perempuanku sebagai guru, memangnya janjimu itu seperti kentut saja? Waktu itu aku pun berada di sana dan sedang minum arak, apa yang kalian katakan telah kudengar seluruhnya.’

“‘O, kiranya demikian. Jadi nikoh cilik itu adalah anak perempuan hwesio seperti kau? Wah, sungguh aneh.’

“Thaysuhu berkata, ‘Apanya yang aneh?’”

“Ya, hal ini memang rada aneh,” sela Lenghou Tiong dengan tertawa. “Umumnya yang pernah terjadi adalah sesudah berumah tangga dan punya istri dan anak baru kemudian meninggalkan rumah dan menjadi hwesio. Tapi Put-kay Taysu adalah terbalik, lebih dulu dia menjadi hwesio baru kemudian beristri dan punya anak perempuan. Nama agamanya Put-kay (tidak pantang) juga punya arti tidak tunduk kepada segala peraturan dan pantangan agama.”

Lalu Dian Pek-kong menyambung ceritanya, “Maka aku telah menjawab, ‘Hal bertaruh waktu itu hanya berkelakar saja, mana boleh dianggap sungguh-sungguh. Kalau aku dianggap kalah pada pertaruhan itu, ya, memang betul. Biarlah seterusnya aku takkan mengganggu lagi nikoh cilik itu.’

“Tapi Thaysuhu tidak terima, katanya, ‘Tidak boleh. Kau sudah menyatakan akan mengangkat guru padanya, maka janjimu harus dilaksanakan. Kau harus menyembah kepada anak perempuanku dan memanggil suhu padanya.’

“Melihat dia mengoceh tak keruan, kupikir mau tunggu kapan lagi kalau tidak lekas melarikan diri saja. Maka pada saat yang tak terduga mendadak aku melompat keluar rumah. Dengan ginkangku yang tinggi kuyakin Thaysuhu pasti tidak sanggup menyusul aku. Tak terduga di belakangku lantas terdengar suara langkah orang yang cepat, ternyata Thaysuhu sudah memburu tiba. Cepat aku berteriak, ‘Hwesio gede, tadi kau tidak membunuh aku, maka sekarang aku pun takkan membunuh kau. Tapi kalau kau mengejar lagi, terpaksa aku tidak sungkan lagi padamu.’

“Tapi Thaysuhu terbahak-bahak malah, katanya, ‘Cara bagaimana kau akan tidak sungkan-sungkan lagi padaku?’

“Aku menjawab, ‘Akan kuserang kau dengan senjata rahasia,’ berbareng aku lantas menyambitkan sebuah panah kecil ke belakang. Meski di tengah malam gelap ternyata Thaysuhu cukup tangkas untuk menangkap senjata rahasiaku itu. Sekali sambar panahku itu sudah terpegang olehnya. Lalu aku masih terus dikejar. Aku menjadi kelabakan karena dibayangi terus, mendadak aku membacok ke belakang dengan golokku. Namun kepandaian Thaysuhu benar-benar tinggi, walaupun aku bersenjata tetap tidak mampu melawan kedua tangannya. Hanya balasan jurus saja, tahu-tahu kudukku sudah dibekuk pula olehnya, menyusul golokku lantas dirampas.

“Dengan tertawa Thaysuhu lalu tanya padaku, ‘Sekarang kau takluk tidak?’

“Aku menjawab, ‘Ya, takluk sudah. Bunuhlah aku!’

“Tapi dia berkata, ‘Tidak, kau takkan kubunuh. Akan kutusuk buta kedua matamu agar selanjutnya kau tak bisa mengincar perempuan cantik lagi. Tapi, ah, kurang tepat. Dasar kau ini memang bajul buntung, biarpun mata buta juga tetap bisa main perempuan, umpama perempuan cantik tak bisa kau jamah, tentu nenek-nenek yang akan menjadi korban. Wah, paling betul kalau kupotong kedua kakimu agar kau benar-benar buntung dan kapok.’

“Aku menjawab, ‘Sebaiknya kau bunuh aku saja, buat apa banyak omong tak keruan.’

“Dia memuji aku malah, ‘Kau ini ternyata suka blakblakan. Kau adalah murid anak perempuanku, bila aku memotong kakimu, itu berarti murid anak perempuanku akan lumpuh dan tidak sanggup bertempur, hal ini akan membikin malu padanya. Rasanya aku harus mencari jalan yang baik agar kau tidak bisa menjadi maling cabul lagi… Aha, aku mendapat akal yang baik!’ mendadak ia menutuk roboh diriku, tahu-tahu dengan anak panahku yang kecil itu ditusukkan kepada… kepada anuku itu, bahkan anak panah itu terus diikat dengan talipati. Lalu dia terbahak-bahak, katanya, ‘Nah, sekarang maling cabul seperti kau ini tentu akan mati kutu dan tidak mampu main gila lagi.’.”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol )

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: