To Liong To – 1

20/09/2009

MUSIM semi gembira-ria,
Setiap peringatan Han-sit,
Bunga Lee-hoa mekar semua.
Sutera putih licin,
Bau harum bertebaran,
Pohon2 bagaikan giok,
Tertutup salju berhamburan.
Malam yang sunyi,
Sinar yang mengambang,
Cahaya, yang dingin.
Diantara bumi dan langit,
Sinar perak menyelimuti semesta a1am.
Ah, dia bagaikan Dewi dari gunung Kouwsia,
Bakatnya cerdas dan suci,
Wataknya agung dan murni.
Laksaan sari bunga besar kecil tak ketentuan,
Tapi siapa berani mengatakan, dia tak
berendeng dengan bunga2 kenamaan?
Jiwanya gagah,
Kepintarannya berlimpah2,
Sesudah rontok, semua sama.
Maka itu, dia pulang kekeraton langit’
Guna melihat keindahan nan ABADI. Read the rest of this entry »

To Liong To – 2

20/09/2009

To Liong To – 2

Thay Giam tahu otak si tua masih kalang kabut dan ia hanya bersenyum tanpa meladesi. Baru saja ia mau berlalu, mendadak menyambar sebuah gelombang besar, sehingga pakaiannya basah kuyup dan kakek sendiri mendekam diatas pasir dengan badan gemetaran.

Dengan adanya kejadian itu, Thay Giam berubah pikiran. “Jika menolong orang, kita harus menolong sampai diakhirnya,” pikirnya “kalau aku berlalu, mungkin sekali dia akan mati didalam laut.” Memikir begitu, ia lantas saja menjambak punggung si kakek itu dan sambil menentengnya, ia berjalan kearah sebuah bukit, ia mengawasi keadaan diseputarnya dan melihat sebuah rumah kecil yang bentuknya menyerupai kelenteng. Ia lalu pergi kesitu dan benar saja rumah itu rumah berhala yang didepannya terdapat huruf2 “Hay sin bia” Kelenteng Malaikat Laut. Ia menolak pintu dan mendapat kenyataan bahwa kelenteng yang sangat kecil itu hanya mempunyai sebuah ruangan. Read the rest of this entry »

To Liong To – 3

20/09/2009

Demikianlah, tanpa bergerak, dengan ilmu “meminjam tenaga memindahkan tenaga”, ia memindah kan tenaga pukulan itu ketelapak tangannya sendiri. “Plok !”, Bwee hoa piauw yang ketiga melompat keluar dari lengan In So So dan menancap di papan gubuk perahu!

Sesaat itu, orang yang nenyerang sudah mengirim pukulan kedua. Ia terkesiap melihat akibat pukulannya yang pertama, sehingga tangannya yang tengah menyambar berhenti ditengah udara. “In Kouwnio! .. kau … apa kau terluka?” teriaknya.

Si nona tidak menyahut. Read the rest of this entry »

To Liong To – 4

20/09/2009

To Liong To – 4 Sesudah terlolos dari lubang jarum. mereka bergembira sekali dan beromong-omong dengan tertawa-tawa. Kera merah itupun tidak kurang gembiranya dan dia melompat-lompat kian kemari. “Kawanan biruang itu mungkin mempunyai anak, coba kita tengok,” kata Coei San. Dengan So So menutun kera, mereka lalu masuk kedalam guha. Sesudah berjalan-jalan kira-kira sembilan tombak, ditengah-tengah guha itu terbuka sebuah lubang, sehingga sinar terang menyorot masuk kedalam. Hanya sayang, guha yang sebenar nya sangat nyaman itu berbau busuk sebab penuh dengan kotoran dan air kencing biruang. “Kalau tidak berbau busuk, tempat ini cocok sekali untuk menjadi tempat meneduh kita,” kata So So sambil menekap hidung. Read the rest of this entry »

To Liong To – 5

20/09/2009

Pertanyaan itu tidak bisa menghilang dari otak Insoe. Maka itulah, beliau lalu menutup diri untuk mempelajari dan merenungkan ilmu silat kami guna mencapai suatu kesempurnaan.”

Mendengar keterangan itu, bukan main rasa kagumnya Coei San dan So So. Read the rest of this entry »

To Liong To – 6

20/09/2009

Guna menyenangkan orang-orang yang mencintainya, Boe Kie selalu memaksakan diri untuk bergembira. Tapi sang kakek guru dan paman-paman itu merasa, bahwa turunan tunggal dari Thio Coei San sudah tak dapat ditolong lagi.

Selagi repot mengobati lukanya, tokoh-tokoh Boe tong pay tak punya tempo lagi untuk mencari musuh-musuh yang telah mencelakakan Jie Thay Giam dan Boe Kie. Selama dua tahun itu, Kauw coe Peh bie kauw, In Thian Ceng, berulang kali mengirim utusan untuk menengok cucu luarnya dan menghadiahkan banyak barang-barang berharga. Tapi mengingat bahwa secara tidak langsung Jie Thay Giam dan Thio Coei San celaka dalam tangan Peh bie kauw, pendekar-pendekar Boe tong selalu mengirim pulang barang-barang itu. Bahkan satu kali Boh Seng Kok menghajar juga utusan In Thian Ceng. Mulai waktu itu, In Thian Ceng tidak pernah mengirim orang lagi. Read the rest of this entry »

To Liong To – 7

20/09/2009

Sementara itu, orang orang itu yang berjumlah berlima sudah datang dekat. Nyata mereka itn mengenakan pakaian yang bagus bagus, mereka mirip dengan saudagar saudagar besar, melainkan muka mereka semua pucat pasi, bagaikan kertas putih polos, sedikit juga tidak ada sinar darahnya. Ditubuh mereka tidak tampak tanda tanda bekas luka, dari itu teranglah sudah bahwa mereka mendapat luka-luka hebat didalam.

Orang yang berjalan dimuka, yang tubuhnya jangkung dan gemuk, mengangguk terhadap Kan Ciat serta si pria kurus dan kecil, atas mana, mereka itu saling menyeringai. Read the rest of this entry »

To Liong To – 8

20/09/2009

Boe Kie bersangsi, ia setengah percaya, setengah tidak. Tapi, sebagaimana telah dikatakan, ia adalah seorang yang mudah melupakan sakit hati lama. Maka itu, lantas saja berkata, “Hoe jin (nyonya) bukan mendapat penyakit aneh. Ia kena racun dari Kim gin Hiat”.

“Ular Kim gin Hiat?” tegas guru dan murid itu hampir berbarengan. Mereka kaget dan heran, karena nama ular itu belum pernah didengar mereka. Read the rest of this entry »

To Liong To – 9

20/09/2009

Sesudah jilid pertama, ia mulai mempelajari jilid kedua.

Karena saban-saban makan daging kodok merah dan buah tho luar biasa yang dibawa oleh si kera putih, maka baru saja ia mempelajari sebagian kecil dari jilid kedua, racun dingin didalam tubuhnya sudah terusir seanteronya. Menurut pantas, sesudah racun dingin menghilang, dimakannya terus daging kodok merah akan mengakibatkan lain keracunan. Tapi syukur berkat latihan Kioe Yang Cin Keng yang sudah agak maju, dan berkat buah tho yang mempunyai khasiat menolak racun, maka racun “panas” dari daging kodok bukan saja tidak membahayakan, tapi malah membantunya dalam mempercepat dimilikinya Sin kang. Read the rest of this entry »

To Liong To – 10

20/09/2009

Sesudah merobohkan beberapa musuh, In Lie Heng merasa sangat tidak tega. “Siluman-siluman Swie Kim-kie dengarlah!” teriaknya. “Jalan kamu hanya jalan mati. Lemparkanlah senjatamu! Kami akan mengampuni jiwamu.”

“Ciang kie Hoe soe (wakil pemimpin) Swie Kim-kie tertawa terbahak-bahak. “Ha…ha…ha…Kau terlalu memandang rendah Beng kauw,” katanya. “Sesudah Tong Chung Toako binasa, bagaimana kami bisa hidup terus?”

“Saudara-saudara Koen Loen, Go Bie, Hwa San dan Khong Tong, mundurlah sepuluh langkah!” teriak In Lie Heng lagi. “Berikan kesempatan supaya mereka bisa menyerah.” Read the rest of this entry »