Archive for the ‘Pendekar2 Negeri Tayli’ Category

Pendekar Negeri Tayli 74

20/09/2009

Serentak terdengar sorakan orang banyak yang menyatakan setuju. Bahkan ada yang bilang “Bagus, beramairamai kita boleh berlomba, coba hukum siksa dari gua atau pulau mana yang paling baik dan membawa hasil.”

Dari suara orang banyak itu dapat di taksir orang-orang yang berada di dalam pendopo sana tentu ada beberapa ratus orang banyaknya, ditambah lagi kumandang suara yang membalik, keruan suasana menjadi gaduh memekak telinga. (more…)

Pendekar Negeri Tayli 75

20/09/2009

Maka satu per satu Ji koai merogoh keluar barang-barang yang berada dalam baju Hi-tiok, yang pertama dikeluarkan adalah lukisan pemberian Bu-gai-cu, Ketika lukisan di dijereng oleh Ji-koai, serentak pandangan semua orang terpusat ke arah lukisan.

Seperti diketahui lukisan itu pernah diinjak-injak Tong-lo, kemudian kena air dan, sudah agak luntur, namun wanita dalam lukisan itu masih tetap sangat indah dan hidup memang (more…)

Pendekar Negeri Tayli 76

20/09/2009

Karena serangan kedua luput lagi, dalam kagetnya timbul juga rasa takut Tok Put-boan. Tapi ia masih belum kapok, sedikit tubuhnya berputar, secepat kilat pedangnya menusuk pula, sekali ini mendadak ujung pedang memancarkan cahaya hijau dan yang di arah adalah dada Hi-tiok.

Serentak terdengar para petualang menjerit kaget dan kagum, terhadap cahaya pedang yang tajam itu. Begitu pula Hi-tiok terkesiap demi nampak cahaya pedang yang aneh itu, dilihatnya pula wajah Tok Put-hoan menyeringai bengis, ia kuatir dirinya tidak mampu menangkis, maka cepat kakinya menggeser pergi dengan langkah “Leng-po-Wi-poh”. (more…)

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 57

19/09/2009

Waktu untuk kedua kalinya ia siuman kembali, sementara itu lapisan es yang membungkus kepalanya sudah mulai cair, sekarang tempat luka itu dirasakannya bagai dibakar panasnya.

Sekuatnya ia coba berbangkit, ketika ia berkaca pula pada air sungai kembali ia kaget lagi. Semula ia mengira ada sesuatu makhluk aneh atau siluman yang berdiri di tepi sungai tapi segera diketahuinya bahwa “siluman” itu tak-lain-tak-bukan adalah bayangan sendiri.

Untuk sekian lama ia terkesima. Akhirnya dengan tabahkan diri ia coba berkaca lagi. (more…)

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 58

19/09/2009

“Ong-kongcu, apakah Cilo Singh ini orang gila?” seru A Ci dengan kurang senang karena orang bicara tak keruan juntrungannya.

Sebaliknya Goan-ci sudah kenyang merasakan siksaan Polo Singh di Siau-lim-si dahulu, ia tahu ilmu silatnya sangat tinggi, sekarang diketahui padri ini adalah suheng Polo Singh, keruan ia tambah keder sehingga lupa bahwa A Ci sudah buta, berulang ia goyang tangan memberi tanda agar A Ci jangan bersuara. Lalu katanya, “Taysu ini tentu salah paham, aku tidak datang dari Siau-lim-si, juga tidak pernah melihat… melihat Polo Singh segala.” (more…)

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 59

19/09/2009

Tengah Goan-ci bersangsi, tiba-tiba di luar hutan sana bergema suara orang mengakak tawa, suara tertawa itu sangat nyaring dan lepas. Menyusul berkumandang pula suara tertawa kaum wanita, suaranya genit menggiurkan.

Goan-ci lantas teringat kepada A Ci yang sedang menunggunya di luar hutan itu, kalau ada orang datang, mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi. Maka cepat ia lari keluar hutan sana.

Dan baru saja tubuhnya bergerak, tahu-tahu di sebelahnya angin berkesiur, gerakan Toan Ki ternyata lebih cepat daripada dia dan tahu-tahu sudah melayang ke depan. (more…)

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 60

19/09/2009

Pek-jwan tercengang, tapi segera ia menurut dan menutuk dua hiat-to punggung pengemis tua, benar juga darah lantas berhenti menyembur keluar dari mulutnya. Dengan demikian dapatlah Kongya Kian memberikan pil lagi dan dapat ditelan oleh pengemis itu.

Sesudah menarik napas dalam-dalam, dengan suara terputus-putus pengemis tua itu berkata, “Banyak terima kasih atas… atas pertolonganmu. Numpang tanya sia… siapakah nama Inkong (tuan penolong) yang budiman?”

“Membantu sesamanya bagi orang-orang Kangouw adalah soal biasa, kenapa mesti dipikirkan,” sahut Pek-jwan. (more…)

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 61

19/09/2009

Tatkala itu udara sebenarnya gelap gulita, tapi di bawah sinar pelita yang terang itu semua orang dapat melihat dengan jelas melayang turunnya Buyung Hok yang indah dan cekatan itu, semua orang tercengang dan kagum luar biasa.

Di tengah suara jerit maki yang menyeramkan itu tiba-tiba bergema pula suara sorak puji yang gemuruh sehingga jerit teriak orang yang tersiksa itu kalah kerasnya. (more…)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.